
Treeet... treeet... treeet
Herdilan melihat nomor baru meneleponnya.
Setelah dia abaikan pada panggilan pertama, akhirnya panggilan telepon itu diangkatnya juga.
"Hallo, assalamualaikum!"
...[Waalaikumsalam... Bang ini aku, Rihana! Bisakah kita ketemuan, Bang?]...
"Rihana? Kamu dimana? Sudah sampai Jakarta? Boleh, kapan?"
...[Sudah, Bang! Bang... hik hiks, aku sedang ada dirumah sakit. Mamaku masuk rumah sakit semalam. Jatuh dikamar mandi dan sekarang harus operasi. Mama butuh darah golongan AB]...
"Golongan darah AB? Mungkin aku bisa bantu. Oiya, aku juga mau ketemuan sama Ciko. Kau di rumah sakit mana? Biar aku dan Ciko segera meluncur!"
...[Aku shareloc alamatnya, Bang! Makasih banyak ya? Hiks hiks...]...
"Tenangkan dirimu, berdoa selalu untuk kesembuhan Mama. Ingat, kewarasanmu juga harus dijaga, Ri! Kami akan datang secepatnya!"
Klik.
Herdilan mematikan sambungan teleponnya dengan Rihana. Langsung menelpon Ciko dan janjian ketemuan menuju rumah sakit tempat Mama Rihana dirawat.
Keduanya bergegas. Dan tiba tepat waktu.
Beruntung sekali, golongan darah Herdilan bisa menambah satu kantong darah untuk Mamanya Rihana. Operasinya berhasil dan tentu saja Rihana sangat bahagia.
Dengan isak tangis haru, gadis berumur 25 tahun itu memeluk tubuh Herdilan tanpa malu-malu.
Ia sudah menganggap pria dewasa itu seperti kakak laki-laki baginya. Yang baik dan selalu ada di saat membutuhkan.
Rihana tidak menyimpan perasaan berlebih. Karena ia juga mengetahui semua kisah hidup Herdilan, terutama kini. Setelah orang-orang dengan tanpa perasaan mengumbar aib masa lalu keluarganya yang penuh skandal.
Tapi Rihana sangat jujur dan polos dalam menyayangi Herdilan.
"Bang, kudengar dari bang Ciko kau akan melangsungkan pernikahan tiga minggu lagi?' tanya Rihana sehari setelah operasi sang Mama berhasil.
Herdilan tersenyum dan mengangguk, mengiyakan. Ia bercerita banyak tentang gadis yang berhasil disuntingnya. Akhir bulan ini pernikahan ketiga Herdilan akan digelar dan Ia meminta Rihana ikut serta menjadi bridesmaid bersama teman lelakinya.
__ADS_1
Tentu saja Rihana sangat senang. Ciko dan istrinya juga sudah didapuk untuk menjadi salah satu bridesmaid Herdilan nanti.
Herdilan sangat ingin para sahabatnya bisa turut serta dalam acara selamatan pernikahannya nanti bersama Kartika.
Dulu pernikahannya dengan Viona serta Lady Navisha tak pernah digelar terang-terangan. Kali ini ia ingin pesta pernikahannya diketahui semua orang. Dan rumah tangganya nanti langgeng sampai akhir hayat.
Kini mereka bertiga bertemu lagi di sebuah kafe milik saudara Rihana. Bersuka cita dan melepas rindu dengan banyolan juga cerita lucu.
Sayangnya ketika Irma datang ke kafe itu pukul delapan malam, Ciko telah izin pulang terlebih dahulu untuk menjemput istrinya pulang dari bekerja.
Jadi Irma hanya melihat Herdilan berduaan saja dengan Rihana.
Kala itu posisi meja makan mereka agak sedikit berjauhan. Sehingga Irma tidak bisa mendengar dengan jelas percakapan antara Herdilan dan Rihana.
Padahal Rihana banyak bicara dan berdoa untuk kelanggengan rumah tangga Herdilan kali ini.
Ia pun dengan senang hati menerima tawaran Herdilan menjadi pendamping pengantin bersama kekasihnya yang baru tiga bulan berhubungan.
Rihana juga meminta doa pada Herdilan agar hubungannya bersama Gerald bisa sampai kepelaminan. Itu sebabnya ia merangkul bahu Herdilan tanpa malu-malu lagi dimuka umum sekalipun.
Herdilan telah menjadi saudaranya kini. Karena darah Herdilan mengalir juga ditubuh Mamanya yang kian berangsur membaik.
Keduanya pulang dengan tangan saling bergandengan.
Herdilan dan Rihana pun pulang dengan kendaraan masing-masing setelah itu.
Bisnis Papa Rihana telah pulih. Dan perusahaan keluarga mereka tidak jadi bangkrut karena sebenarnya sang Papa hanya ingin mencoba menakuti putri bungsunya yang suka foya-foya di negeri orang dan lupa belajar dengan benar.
Rihana yang sekarang telah jauh berubah. Lebih dewasa dan bijaksana.
Terlebih setelah ia mengenal Ciko dan Herdilan Firlando.
Hidup ibarat roda pedati yang berputar. Kadang di atas, kadang di bawah. Begitulah ujian dan cobaan yang Tuhan berikan.
Harta, tahta dan cinta tak selamanya berjaya diatas segalanya. Semua bisa musnah dan hilang dalam sekejap mata.
Hanya orang-orang kuat dan memiliki jiwa besarlah yang mampu bertahan menghadapi kerasnya kehidupan.
Seperti Herdilan dan keluarga besarnya.
__ADS_1
Yang kini menjadi panutan buat Rihana menjalani hidupnya yang masih muda dan belum banyak pengalaman.
"Jangan terlalu menyanjungku, Ri! Aku bisa besar kepala dan lupa diri, nanti! Khawatir Tuhan cabut kembali kebahagiaan yang kini datang menghampiri. Setelah sekian lama hidup merana dan penuh derai air mata!"
"Jiaaah ha ha ha...! Kau ni, Bang! Janganlah kege'eran! Aku ini memuji kakaknya Abang yang super keren itu! Bukan memuji Abang! Hahaha..."
"Suwe lo, Ri! Dasar, ya! Hahaha..."
"Aku kagum sekali pada Kak Christian. Dia hebat sebagai kakak paling besar. Bisa menghandle kalian semua dengan permasalahan yang berbeda-beda!"
"Begitulah Kakakku! Hebat, super super hebat!"
"Termasuk Abang juga. Aku sangat berterima kasih mengenal Abang! Dan beruntung kita gak sampai check in dan one night stand. Hahaha..."
"Yassalam! Aku jijik sama kamu, aku jijik, Ri! Hahaha...! Hadeeh, kukira kehidupan malammu amburadul gak jelas diusia muda! Jujur aku kasihan kalau sampai demikian!"
"Wooi, woi! Konsepnya ga gitu juga ya, Bang! Biarpun awak ni macam orang tak betul, tapi sorry sorry to say ya... Aku masih menjaga harga dan martabat keluarga, Bang!"
"Good girl! Good!"
Herdilan tersenyum sembari mengacungkan satu ibu jarinya sembari berkata,
"Aku suka gayamu!"
"Jaman memang sudah semakin gila. Anak mudanya kini begitu terbuka dalam segala hal. Mudah berganti pasangan dan seenaknya nyoblos sana nyoblos sini. Sudah seperti pemilihan partai, bulshiiit dan banyak omdo. Tak peduli penyakit kelamin bisa saja mereka alami, khan!"
"Yap. Begitulah! Banyak yang kurang menyadari bahayanya berganti-ganti pasangan. Walau dia merasa safety karena ada alat kontrasepsi, tetapi melakukan hubungan tanpa status dan haram serta ilegal bagi negara adalah perbuatan yang sangat salah."
"Hm...! Sepertinya kita ini bisa jadi jurkam buat menggerakkan massa anti s.e.x bebas, LGBT dan gerakan anti narkoba dan peduli HIV/AIDS, Bang!"
"Hahaha... masih mending tuh! Asal jangan pinter cuap-cuap cuma jadi tukang obat kuat!"
"Haish! Emang dasar ngeselin kau, Bang! Hahaha..."
Begitulah. Ada benang merah yang mengikat tali persaudaraan yang tak terlihat antara keduanya.
Bahwa mereka satu frekuensi. Satu pemahaman dan satu tujuan hidup.
Merubah nasib buruk menjadi nasib baik, dengan mencoba bergerak merubah diri ke arah yang positif.
__ADS_1
Bukan sok dakwah ataupun khotbah. Tetapi keduanya telah melihat banyak airmata dalam hidup karena terjerumus pada gaya hidup yang salah.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...