
"Aaaarrrgggh...!!!"
Aku kesal. Amarahku benar-benar seperti ada di ujung kepala. Ingin kulampiaskan semua rasa, dengan menghancurkan lagi barang-barang isi kamar yang makin melompong habis kujadikan korban.
Mama ditangkap pihak kepolisian. JeLa juga melaporkanku dengan tuduhan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Tak lama kemudian, Papa... juga kena tangkap tangan KPK kena pasal Korupsi 10 miliar.
Benar-benar membuat mentalku ambruk terpental, terpelanting, terperosok, tenggelam jauh ke dasar lautan dalam.
Jelita Lara alias Lady Navisha benar-benar iblis betina yang luar biasa. Dia menggugat cerai dan melaporkanku melakukan tindak pidana kekerasan dengan ganti rugi dua miliar.
Wanjriiit!!! Segampang itu dia memerasku tanpa perasaan. Setelah merampok dan menggondol habis semua harta benda Mama di rumah yang selama empat bulan ini menjadi 'istana' baginya. Benar-benar eduuun!!!
Ternyata cintanya selama ini benar-benar 'plastik'. Sampah kotor yang sangat sulit didaur ulang!
Benar yang Viona tuduhkan tempo hari padanya.
Dan aku... sama juga 'sampah' karena bergaul dengan 'sampah' dan membuat nama juga kredibilitasku sebagai pria baik-baik menjadi hancur berantakan dengan adanya dia.
Ck ck ck...
Bodohnya kau Delan! Dan kau baru sadar, perempuan seperti apa yang selama ini kau 'pelihara'! Bahkan anjing kudis pun masih lebih baik kau pelihara ketimbang perempuan hina lebih hina dari seorang lont* pelac*r! Hhh...
"Tuan Muda, ada telepon dari kantor pengacara! Katanya ada beberapa tagihan yang belum diselesaikan dengan kaitan Nyonya, Tuan!"
"Apa??? Bilang saja aku tak ada! Dasar pembantu bodoh!!!"
Seorang asisten rumah tangga memberiku informasi dari balik pintu. Tak mau juga ia mengetuk pintu dan masuk memberitahuku lebih sopan. Takut kena sasaran rupanya!
Dan aku hanya menjawabnya dengan makian yang pedas membuat ART itu tak lagi bersuara.
Kuambil jaket formalku. Membenahi dompet serta kunci mobilku. Aku ingin menengok Mama di tahanan kantor polisi daerah Selatan. Mencoba berdiskusi lagi, mencari jalan keluar agar semua masalah bisa terselesaikan.
Jalanan yang lengang membuatku memacu kecepatan lebih tinggi lagi.
Hingga suatu ketika, aku melihat sebuah sepeda motor yang kuyakini seperti milik orang yang kukenal.
Kupepet dengan menambah kecepatan. Sebenarnya laju sepeda motor di jalan umum masih lebih cepat, namun karena posisi sang pengendara yang ada di sebelah kiri sedikit terjepit. Hingga sulit untuk menancap gas lebih cepat agar terhindar dari sisi bemper depan mobilku yang terus sengaja menekannya.
__ADS_1
Kutengok kiri kanan. Lalu menyelidik ke spion atas. Jalanan sepi tak ada pengendara lain. Jadi hanya motor pengendara itu dan mobil yang kukemudi.
Hingga tiba di sebuah tikungan yang di bawahnya adalah sungai bagian selatan Ibukota. Aku sengaja menambah lagi kecepatan dan melaju kencang menyalipnya hingga sang pengendara itu jatuh terpelanting berguling lalu terperosok masuk sungai bersama sepeda motornya.
Jantungku berdetak cepat.
Aku,... telah mengakibatkan seseorang mengalami kecelakaan lalu lintas.
Dan orang itu adalah... Firman Setiawan.
Kecepatan mobilku berada di 80 Km/jam. Beruntung tidak ada saksi juga polisi yang bertugas di sekitar kejadian.
Aku menggigil mengingat keadaan Firman yang terjebur sungai yang dangkal dan kotor airnya itu.
Apakah dia akan mati? Atau masih bisa selamat? Hhh... Ya Tuhan! Kenapa aku jadi orang jahat seperti ini! Uuufffhhh...
Hanya rutukan dalam hati, penyesalan selalu datang belakangan.
Aku kesal karena melihatnya yang tiba-tiba melintas. Aku marah, keadaan rumah tanggaku hancur dengan Viona karena mulut ember bocornya.
Firman yang mengadukan pernikahan keduaku dengan Lady Navisha pada Viona. Padahal semua itu bukan sungguh-sungguh keinginanku menduakan cinta istri pertamaku itu.
Semua adalah suatu kesalahan. Dan aku mengakui serta menyadari. Lalu berjanji dalam hati, setelah Lady melahirkan anakku nanti, aku akan menceraikan artis talent PH Mamaku itu. Anaknya akan kuambil dan Viona yang akan mengurusnya.
Begitu rencanaku yang telah kurangkai bersama Mama.
Namun kenyataannya... semua kacau gara-gara si Firman wartawan gembel itu!
Hhh...
Bukan hanya rumah tanggaku saja yang hancur. Kini bahkan kehidupanku, percintaan dan karier serta perusahaan orangtuaku juga ikut terseret sampai sebegini dalamnya.
Ditambah lagi, pria tengik itu menolak tawaranku untuk berkolaborasi untuk menghancurkan Kak Christian dengan menggoda Melody istrinya agar kembali ke sisi si Firman. Bahkan dengan sombongnya pria itu mencibirku, sebagai lelaki yang tak punya otak juga tak berakhlak.
Aku... Kini benar-benar menjadi orang yang biadab. Seperti tuduhannya dan Viona juga. Tuhan benar-benar mengijabah.
Setelah membuat Firman kecelakaan, aku bahkan berusaha menghilangkan jejak dengan menjenguk Mama di tahanan kepolisian sekitar Kembangan.
"Delan! Hik hik hiks... Kapan Mama bisa keluar dari sini, Nak?!?"
__ADS_1
Mamaku terlihat sangat depresi menjadi tahanan kepolisian. Wajahnya terlihat penuh guratan keriput di sana sini. Kantung matanya bengkak. Sepertinya beliau sering menangis di dalam sel tahanan.
"Mama!"
Aku memeluk tubuhnya yang terlihat rapuh dan ringkih. Rasa tak percaya kalau Mamaku yang biasanya ceria, centil luar biasa dan penuh aura kebahagiaan di wajahnya kini seperti orang yang berbeda.
Bahkan wajahnya tanpa polesan make up terlihat pucat. Juga sangat menyedihkan.
Air mataku jatuh perlahan. Tak bisa berkata apa-apa. Juga tak mampu menjanjikan apapun pada beliau, wanita yang telah melahirkanku.
"Aku akan mengunjungi Papa besok di kantor KPK!" gumamku pelan di sebelah telinga kanannya. Membuat Mama terisak lebih kencang.
Nasibnya miris.
Sebulan dicokok Polisi, kini sang Suami ikutan jadi pesakitan dengan kasus yang berbeda.
"Jadi kamu belum mengetahui keadaan Papa?" tanya Mama disela tangisnya.
Aku menggeleng pelan. Tak berani apa-apa lagi.
"Tania sudah meninggal dunia, Delan! Hik hik hiks..." cerita Mama membuatku terbelalak kaget.
"Kapan?"
"Seminggu lalu. Di Singapura! Justru itu Papa yang beritahu sebelum dia di tangkap KPK dua hari setelah itu, Lan!"
Hhh...
Aku hanya bisa menelan saliva hingga jakunku turun naik memikirkan nasib yang semakin terpuruk itu.
"Benahi semua pembukuan kantor, Lan! Buat jurnal baru. Bilang bagian administrasi! Lakukan cepat sebelum semua harta di sita Pemerintah!"
Aku tersekat. Ucapan Mama menyadarkanku untuk bertindak segera.
Papaku kena kasus korupsi. Pastinya aset-aset Mama akan kena imbasnya juga. Belum lagi denda yang harus Papa ganti nantinya bisa dua kali lipat dalam tuntutan jaksa di sidang pengadilan nanti.
"Jangan gegabah! Jangan juga terlalu santai, Delan! Kau harus banyak melobi para pemegang saham agar siap membantumu dalam money laundry!" bisik Mama membuatku tertegun.
Bisa habis semua asset kalau begini! Belum lagi kasusku yang masih bergulir di pengadilan agama tigaraksa dengan si bangs*t Lady Navisha!
__ADS_1
Tuhan... Mengapa Kau hukum aku dengan sangat kejam!
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...