
Christian mengelilingi teman-teman pengusahanya. Berharap mendapatkan bantuan dari mereka dalam hal pinjaman.
Ternyata sangat sulit mencari uang segitu banyak dengan waktu terbatas dan ruang lingkup sedikit.
Circle pertemanannya tak begitu banyak. Dan ia memang tak punya sahabat sedari muda belia.
Hal ini membuat Christian begitu kesulitan.
Matanya hanya bisa menerawang. Memandang kosong ke depan.
Ia dan keluarganya siap tidak siap, harus siap. Seandainya esok atau lusa kehidupan mereka tiba-tiba berubah. Tuhan Maha Kuasa. Apapun yang Tuhan Kehendak, terjadi...maka terjadilah.
Christian kini hanya berpasrah. Pulang ke rumah dengan tangan kosong. Berniat menceritakan keadaan perekonomian perusahaan yang dirintis sedari bujang itu kini dalam keadaan pailit pada sang istri.
Di kantornya, Herdilan sibuk menata pembukuan perusahaan trading kakak tirinya.
Banyak sekali error. Dan harus dibenahi segera. Salah satunya memangkas biaya pengeluaran perusahaan yang tidak pada tempatnya.
Herdilan juga melihat perusahaan kakaknya terlalu banyak karyawan. Sehingga kinerja mereka kurang maksimal. Bahkan ada beberapa divisi kecil yang seharusnya bisa dikerjakan oleh tiga atau empat karyawan saja, namun sang Kakak mempekerjakan sebelas orang di ruangan itu.
Itu adalah pemborosan bagi Herdilan.
Christian memang pengusaha yang baik hati. Yang selalu menerima titipan koneksi dari rekanan kerja lainnya. Yang justru itu adalah kelemahan sang Kakak sebagai seorang pengusaha.
Prinsip ekonomi perusahaan adalah menekan serendah-rendahnya biaya pengeluaran untuk mendapatkan pemasukan sebesar-besarnya.
Dalam bisnis, memang harus siap dengan resiko untung rugi. Tapi dalam bisnis, semua pebisnis pasti menyiasati usahanya agar tak rugi. Bahkan tak sedikit pebisnis yang main curang, mengakali pelanggan atau konsumen dalam banyak hal. Itu sudah jadi rahasia umum para pebisnis.
Tentunya yaitu, untuk menekan biaya kerugian jika terjadi slek atau keadaan yang kurang menguntungkan.
Tok tok tok
"Ya, masuk!"
"Permisi, Pak Herdilan! Ada tamu dari PT Eagles King! Apa bisa diterima?" Diana, sekretaris pribadi Christian memberitahunya dengan sopan.
__ADS_1
"Boleh! Persilakan tamunya masuk!"
Diana mengangguk. Kembali menutup pintu ruangan Christian yang sedang ditempati Herdilan.
Seorang perempuan cantik dan elegan berjalan dibelakang Diana, masuk ruangan Christian.
"Selamat siang, Pak..."
"Herdilan, Herdilan Firlando! Selamat siang, silakan duduk Nona! Oiya, tolong bawakan minuman untuk Nona..."
"Nama saya Khaila Aidenia!"
"Untuk Nona Khaila! Silahkan, silakan duduk!"
Diana mengangguk hormat. Ia kembali keluar ruangan meninggalkan Herdilan dan Khaila berduaan.
"Kapan Pak Christian kembali?" tanya Khaila to the point.
"Maaf, Nona Khaila. Pak Chris tidak memberitahu saya kapan beliau kembali. Tapi saya bisa mewakili beliau untuk keperluan dan maksudnya. Saya akan sampaikan pada beliau, nanti!"
"Hhh... Saya harus bertemu pak Chris secepatnya. Perusahaan kami memberinya waktu 7x24 jam saja untuk jatuh tempo semua urusan tender."
"Kami mohon keringanan waktu dan juga pertimbangan PT Eagles King mencabut tender kami yang sudah separuh jalan. Ini murni bukan kesalahan kami. Tapi karena memang waktu yang ditentukan tidak sesuai dengan banyaknya tuntutan pekerjaan yang disodorkan."
"Begitu ya? Jadi kami juga bersalah dalam hal ini?"
"Bukan, bukan begitu, Nona! Memang bulan ini banyak sekali kendala sehingga jam kerja kami terpaksa molor dari jadwal yang disepakati. Tapi bisa nona dan pihak perusahaan yang mengontrol dan melihat sendiri kinerja karyawan kami dilapangan. Ini semua juga ada faktor dari luar yang membuat kami tidak bisa memenuhi waktu yang disepakati. Selain SDM juga faktor cuaca ekstrim ditempat pembangunan."
Khaila hanya menatap wajah Herdilan dengan diam.
"Bapak ini sepertinya orang baru disini, ya? Saya baru lihat di perusahaan ini!"
"Ah, iya. Saya adalah saudara dari pak Christian. Dan hari ini saya mendapat mandat penuh dari beliau untuk menangani perusahaan."
"Kemana pak Chris? Mencari pinjaman? Kenapa harus susah payah seperti itu ketika ada jalan yang lebih mudah di depan mata!"
__ADS_1
"Maksud Nona?"
"Tolong kabari saja, Saya, Khaila ada diruangannya sekarang. Dan dia harus segera datang menemui saya. Urusan tender masih bisa diselamatkan!"
"Saya minta maaf, Mas Chris sudah bilang... ia masih harus keluar untuk beberapa waktu lagi."
"Akan saya tunggu!"
"Baik, kalau itu keputusan Nona!"
Herdilan hanya bisa menelan saliva. Wanita cantik ini ternyata garang, bagaikan walang sangit.
"Bodoh sekali, masih mencari jalan keluar yang sulit ketika ada jalan lain yang mudah di depan mata!" gerutu Khaila membuat Herdilan tersenyum tipis.
Ia tak ingin mencari tahu maksud dari wanita cantik yang duduk dihadapannya itu. Hanya diam dan kembali ke meja kerjanya.
"Maaf, Nona! Masih ada beberapa pekerjaan yang harus Saya selesaikan lebih dahulu. Buatlah diri Nona senyaman mungkin. Sepertinya Mas Chris masih sekitar tiga atau empat jam baru kembali ke kantor!"
"Memang kemana dia?"
"Saya kurang tahu!"
"Hhh... Ya sudah! Tolong sampaikan saja pada Pak Christian! Bapak Dirut Yosef Tristanto menunggu keputusan finalnya. Sebaiknya pak Chris secepatnya mengurus surat perceraiannya supaya kami bisa segera mengurus surat-surat pendaftaran pernikahan ke KUA setempat!"
Herdilan kaget.
Lidahnya kelu tak berani berkata-kata.
Ia hanya menatap tubuh Khaila yang menghilang dibalik pintu ruangan kakak tirinya.
Surat perceraian? Perceraian Mas Chris? Dengan siapa? Mbak Mutia? Kenapa? Atau...
Kepala Herdilan dipenuhi banyak pertanyaan.
Tapi seketika ia menggeleng-geleng. Berusaha menepis kebingungan yang menyeruak dan menghantam akal sehatnya.
__ADS_1
Ia kembali fokus pada jurnal buku besar perusahaan sang kakak yang agak amburadul dimatanya itu.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...