
Christian baru saja hendak meninggalkan perumahan sederhana keluarga Kartika, namun seseorang mencegatnya.
Ternyata seorang reporter yang ingin sekali mewawancarainya.
"Maaf, Mas! Kami bukan keluarga artis ataupun selebritis! Maaf, ya! Kami tidak bisa melayani tanya jawab wawancara selain buru-buru juga untuk pergi!"
"Mas Chris, satu saja pertanyaan! Please... apakah Mas tidak ada keinginan untuk melaporkan Fahrurrozi atas semua pemberitaan yang dibuatnya selama ini? Dengan pasal pencemaran nama baik?"
Christian tersenyum tipis. Ia menggelengkan kepalanya.
"Saya tidak ada niat untuk melaporkan siapapun. Saya tidak punya keinginan seperti itu!"
"Tapi Fahrurrozi juga Ayahnya telah banyak menyakiti keluarga mas! Apa tidak merasa sakit hati, begitu?"
Chris lagi-lagi tersenyum.
Ia menyatukan kedua belah telapak tangannya.
"Maaf ya Mas, kami buru-buru!"
Mobil yang dikendarai Chris beserta keluarga kecilnya meluncur perlahan meninggalkan kerumunan orang yang ada disitu. Diikuti oleh Herdilan yang juga akhirnya menyetir mobil barunya sendirian. Karena Tini dan Kenken ikut ke mobil Roger mengantar ke rumah bersalin.
Kehebohan seserahan Herdilan memang lumayan besar di wilayah itu.
Rumah Kartika seketika diserbu para tetangga yang kepo ingin tahu apa saja yang dibawa keluarga calon suaminya.
"Dasar orang kampung! Pada norak, emang!" gerutu salah seorang tetangga yang tidak suka dan merasa terganggu oleh keramaian yang terjadi di RT mereka.
"Ish, biarin aja kenapa! Rese' banget sih, ga boleh orang senang!" sela yang lainnya. Yang merasa illfeel dan tak suka dikomentari nyinyir.
Mereka ikut senang karena putri tetangganya sebentar lagi akan melepas masa lajang. Dan barang seserahannya pun begitu banyak, tidak seperti yang mereka gunjingkan kemarin.
"Kartika, coba lihat apa yang tadi calon suamimu beri?" tanya saudara sepupu bu Fajar yang begitu penasaran pada totebag yang Herdilan berikan pada ponakannya itu.
Kartika dengan malu-malu membuka isi totebag. Sebuah bungkusan coklat.
"Coba buka, Tik!"
Kini Mamanya pun ikut penasaran.
"Ma!!!"
Kartika kaget sekali melihat isi dari bungkusan itu. Begitu juga orang-orang sekitar yang ikut menyaksikan termasuk keluarga besar Kartika.
"Seratus juta! Waaah... Hajat gede-gedean ini mah!"
Ramai riuh orang berkomentar.
"Beruntungnya kamu, Tik!"
"Iya. Biarpun duda satu anak, tapi calon suamimu tampan dan kaya raya! Wah... enak tenan!"
Kartika yang senang bukan kepalang tiba-tiba merasakan dadanya sesak dan pusing sekali.
Hingga...
__ADS_1
"Hiyaaaa... Aaargh, kalian... bersenang-senang tapi lupakan aku!"
Kartika kerasukan. Tubuhnya dingin dengan bercucur keringat. Ia meracau. Mengoceh membuat orang-orang berhamburan keluar.
Mama Kartika segera menelpon ustad yang pernah membantu menerawang saat Kartika baru saja sembuh dari sakit tempo hari.
.....
"Kartika! Bu Jamilah telah meninggal dunia. Dan... Ada baiknya kita menziarahi kuburnya. Juga nyekar ke makam Chintia!" kata Mama pada Kartika setelah putri tunggalnya itu kembali sadar. Pak ustad yang merajah juga telah pulang. Kini tinggal Kartika dan kedua orangtuanya di rumah.
"Mama...! Kartika mau telepon dulu mas Herdilan! Mau minta pendapatnya juga!"
"Ya sudah, kalau begitu!"
Kartika mencoba membuka obrolan dengan Herdilan lewat chat-an.
Mas... Bagaimana Mbak Viona keadaannya? Sudah ada kabar bahagia?
Cukup lama chat Kartika tak direspon. Ia berusaha berfikiran positif. Kemungkinan Herdilan masih di jalan dan sedang sibuk mengurus keluarga besarnya.
"Apa kata Herdilan?" tanya sang Papa.
"Belum ada jawaban, Pa!"
Kartika masuk kamarnya. Merebahkan tubuhnya diatas ranjang.
Rasa sakit dan penat masih terasa ditulang persendiannya.
Sejujurnya ia sangat takut. Cemas jika penyakit yang kemarin sempat membuatnya tergolek lemah hampir dua bulan di ranjang rumah sakit kembali dideritanya.
Perlahan air matanya menetes.
Kartika ingin hidup bahagia. Seperti perempuan-perempuan lainnya.
Menikah, hamil dan melahirkan. Itu adalah impiannya juga kedua orangtuanya.
Usianya kini sudah 30 tahun. Andaikan pernikahannya kali ini gagal lagi, entah bagaimana keadaan Kartika serta Mama dan Papanya.
Tangisannya menjadi alasan kesedihan hatinya saat ini.
Treeet... treeet... treeet
Bu Viona calling
Seketika Kartika melonjak dari rebahnya.
"Hallo! Bu Viona?"
...[Hallo, Mama Kartika! Ini Dzakki...! Tenanglah. Ambil wudhu lalu sholat sunnah dua rakaat!]...
Seketika hati Kartika menghangat. Ia menangis keras sambil memanggil nama Dzakki.
"Dzakkiii...! Hik hik hiks...! Ibu Kartika takut!"
...[Mama jangan takut! Ada Allah yang menolong kita! Mama doakan bu Jamilah dan teman ibu! Juga... Mama pergilah ke sepuluh masjid, bersodakohlah atas nama mereka. Supaya keduanya tenang]...
"Iya. Iya, Dzakki! Mama Kartika akan segera ikuti saran Dzakki! Terima kasih ya? Hik hik hiks..."
__ADS_1
...[Sama-sama. Dzakki pergi dulu ya? Mami Viona butuh teman. Ayah sedang urus administrasi di depan!]...
"Oh iya. Salam sama Mami Viona! Moga dede bayinya cepat lahir ya, Dzakki!"
...[Iya! Assalamualaikum!]...
"Waalaikumsalam!"
Klik.
Kartika bergegas keluar kamar sembari menghapus lelehan air matanya.
"Ma, Pa! Ayo kita siap-siap!"
"Kemana, Tik?"
"Kita keliling ke sepuluh masjid!"
"Ke sepuluh masjid?"
"Iya. Ayo, Ma...Pa!"
"Biar Tika siapkan dulu sepuluh amplop untuk amal sodakoh bu Jamilah dan Chintia!"
Kini Mama dan Papa Kartika mengerti akan maksud putrinya.
Dengan diantar sang Papa yang juga merangkap menjadi supir pribadi, ketiganya pergi mengunjungi masjid-masjid yang ada di sekitar.
Berusaha mencari keberkahan dengan bersedekah atas nama Bu Jamilah serta putrinya yang telah tiada.
...🌼🌼🌼🌼🌼...
Ditempat terpisah, Fahrurrozi mendapatkan banyak masalah hari ini.
Ia ditegur ketua partai politik karena statement nya yang meresahkan. Ia juga menerima surat peringatan dari atasannya akibat buah perbuatannya mengumbar aib dan mempermalukan keluarga besar Christian.
Bapaknya juga anfal dan stroke lebih parah kali ini mendengar kecaman orang disana-sini.
Kadir Abdul Rozak sudah lama ingin menutup lembaran lama yang kusam dan mengubur kisah kelamnya dalam-dalam. Tetapi putra sulungnya sendiri yang kini mengorek dan membeberkan di khalayak umum. Sungguh memalukan dirinya.
Keluarga besar istrinya pun mulai kurang respek kini. Mereka telah mengetahui sepak terjang Kadir yang suka menghalalkan segala cara demi sebuah nama ketenaran, tahta dan jabatan.
Kini semua itu hanyalah kejayaan masa lalu. Dirinya yang sudah tua dan sakit-sakitan hanya ingin hidup tenang bersama istri tercinta.
Tetapi sepertinya akan jauh dari harapan. Mamanya Fahrurrozi sudah lama meninggal, Kadir menikah lagi dengan istrinya yang sekarang dan memiliki dua anak perempuan.
Kini istrinya menjauh bahkan meminta cerai karena tak mau terlibat dalam urusan masa lalunya yang kelam.
Apalagi kini pihak kejaksaan juga sedang menyelidiki kasus pencucian uang yang pernah ia lakukan dan terakhir justru ia yang membuat almarhum ayah Viona terjebak dalam kasus pembelian alat-alat alutista.
Karena terlalu banyak fikiran, Kadir pun anfal dan jatuh pingsan. Kini ia hanya bisa berbaring di ranjang ICCU tanpa daya upaya.
Fahrurrozi juga mendapatkan karma yang tak kalah tragis. Dua perusahaannya bangkrut. Ia gagal dalam pencalonan Bupati periode sekarang karena dinilai banyak mengandung kecurangan. Istrinya juga kabur dari rumah membawa serta satu putranya entah kemana.
Nasib buruk akhirnya membuat hidupnya makin terpuruk karena kelakuannya sendiri yang tidak baik.
Kini hanyalah penyesalan demi penyesalan yang harus ia terima.
__ADS_1
Nasib baik Mutia dan Christian tidak ada niat melaporkannya ke pihak kepolisian. Jika tidak, maka hukuman kurungan penjara akan menjadi hadiah terindah di ulang tahunnya yang ke-40 tahun itu.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...