
Aku terkesima. Seorang pria berdiri dihadapanku dan berhasil membuatku termangu.
Ini... ini Delan? Herdilan Firlando? Calon tunanganku?
"Ayo, Viona!" ujarnya melonggarkan kepitan tangannya hingga jemariku bisa masuk ke celahnya dan kami bergandengan tangan berjalan keluar ruangan.
Delan... berubah jadi pria tampan.
Dia memangkas rambut gondrongnya yang keriting. Delan juga sepertinya mencatok hingga menjadi lurus dan mewarnainya menjadi coklat dengan gradasi warna pirang keemasan.
Aku masih sangat tidak percaya. Ternyata Delan bisa berubah juga menjadi pria yang menarik mata.
Mataku sesekali meliriknya.
Bahkan hingga Delan resmi menjadi tunanganku dihadapan banyak orang. Walaupun rata-rata kebanyakan yang hadir adalah anggota keluarga besar kami.
Ternyata... semudah itu Tuhan menjadikan kami sepasang tunangan.
Bu Tasya Jessica, Mamanya Delan mengalungkan sebuah kalung pengikat yang konon merupakan kalung turun temurun kakek buyutnya untuk calon pasangan keluarganya.
Sebuah kalung mutiara asli berumur ratusan tahun. Dengan batu permata berlian seberat dua karat.
Tentu itu adalah perhiasan yang membuat semua hadirin melongo termasuk Aku dan kedua orangtuaku.
__ADS_1
Bisa dibayangkan, seberapa kaya Mamanya Delan. Hiks.
Ini baru tunangan. Bagaimana nanti pesta pernikahan?
Aku hanya bisa menelan saliva. Dan benar saja, Mamanya Delan memberi konpensasi suguhan makanan sederhana yang keluargaku buat dengan senilai seratus juta transferan via nomor rekeningku langsung.
"Delan...! Ini... Sepertinya terlalu berlebihan. Jujur ini membuatku tak nyaman!" ucapku setelah acara pertunangan selesai dan terkejut melihat notice dari mobile banking-ku di handphone.
"Aku juga ga tau, Viona! Semua Mama sama Papaku yang atur. Aku ini seperti bidak catur."
Jawaban Delan yang datar membuatku kembali terdiam. Sangat menyedihkan melihat raut wajahnya.
Aku jadi tergelitik untuk menanyakan sesuatu.
"Kamu... Bahagia ga tunangan sama aku?"
"Kamu sendiri?"
Delan melempar pertanyaan itu padaku.
Tentu aku sedikit gelagapan juga. Meski kubisa menebak, Delan tak 'kan menjawab pertanyaanku.
Aku menjawab hanya dengan angkat bahu serta senyum tipis. Entah bagaimana dia mengartikan jawaban samarku itu.
Hhh...
__ADS_1
Delan tetap seperti biasa. Meski tampilan luarnya 180 derajat Celcius berubah. Namun ia tetap dingin dan slow respon serta lola alias loading lama.
Entah memang begitu monotonnya berbincang denganku, atau memang seperti itu pembawaannya dari lahir. Entah!
"Bisakah kamu merubah sikap dinginmu padaku?" pintaku mengingatkannya.
Sayangnya yang kuajak bicara hanya diam tak menjawab. Membuat illfeelku kembali merajai hati ini.
Sial*n! Ini cowok ngeselin parah! Masa sikapnya itu membuatku benar-benar seperti jatuh harga diri dihadapannya. Apa sifatnya begitu karena merasa dia itu anak orang kaya raya? Hhh...
Kami tunangan dan tetap kuliah seperti biasa. Karena memang masih ada dua semester lagi yang harus kami jalani.
Ditengah acara tunangan tadi pagi, Mamanya Delan meminta waktu satu tahun untuk peresmian pernikahan. Jadi kami masih bisa bebas melakukan aktifitas lain layaknya mahasiswa-mahasiswi. Menyiapkan bahan skripsi serta mencari kantor-kantor untuk magang di semester akhir.
Aku mengajukan satu permintaan, memohon agar pertunangan kami tidak di sebarluaskan umum hingga gerak-gerik tak terasa terbatasi.
Keluargaku juga mengiyakan. Selain kami masih harus fokus belajar menuntaskan ijazah yang kami tuju, Ayah tak ingin aku patah semangat karena memikirkan pernikahan yang tiba-tiba seolah didepan mata.
Seperti ibu, yang memberiku wejangan. Bahwa setinggi-tingginya titel wanita, tetap harus sadar diri bahwa kodratnya adalah menjadi ibu rumah tangga.
Jadi Ibu lebih menekankan aku untuk tetap menjadi wanita karier yang lebih mengutamakan keluarga nantinya. Apalagi jika sang suami melarang atau memiliki alasan kuat untuk menginginkan istrinya hanya menjadi wanita rumahan saja. Mengurus rumah tangga dan keluarga.
Seperti ibuku. Beliau juga sempat kuliah D1 dengan titel gelar A.P. yaitu Ahli Pratama dibidang perhotelan.
Beliau menikah dengan Ayah yang seorang abdi negara berstatus tentara.
__ADS_1
Dan nasib mengharuskan Ibu stuck menjadi ibu rumah tangga biasa saja, dengan mengurus suami serta anak.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...