
Bermain dengan Dzakki dan si kecil Elzhar yang menggemaskan akhirnya mampu meredam kegalauan Herdilan soal masa depan.
Untuk saat ini fokusnya hanyalah pada pernikahan saja. Setelah itu, baru urusan pekerjaan dan tempat tinggal jadi prioritasnya.
Herdilan hanya bisa berdoa dan berdoa, semoga Tuhan memberinya jalan yang terbaik.
Walaupun ia meminta dan mengiba agar Kartika nanti bisa berada disampingnya selamanya, tapi jika takdir Tuhan berkata lain, ia tak bisa apa-apa.
Biarlah, Tuhan yang mengaturnya. Begitu hati kecilnya berkata.
.....
Sementara Kartika yang sangat sibuk menjelang pernikahan, merasakan kalau Herdilan terlihat agak lemas akhir-akhir ini di video call.
Mereka memang sedang dalam masa pingitan. Dan tak boleh bertemu sebelum hari H karena tinggal menghitung hari saja.
Jadi baik Andre maupun Kartika sangat terbantu karena adanya handphone yang membuatnya tetap bisa berkomunikasi dua arah.
Seperti saat ini, setelah acara siraman dan juga sungkeman dikediamannya, di malam hari Kartika menelpon Herdilan.
"Abang!..."
...[Hm?]...
"Koq kelihatannya kurang bersemangat? Abang sakit? Sudah makan belum? Minum suplemen juga vitamin, biar ga drop nanti."
...[Iya. Hehehe..., senangnya dapat perhatian seperti ini!]...
"Hehehe...! Abang,"
...[Iya, Nona?]...
"Pasti Abang memikirkan ucapanku tempo hari soal Mama ya?"
...[Bukan koq, cuma masalah pekerjaan! Tapi bisa teratasi, Non! Nona jangan khawatirkan Abang. Abang baik-baik aja koq! Gimana acara tadi siang? Lancar?]...
"Alhamdulillah, lancar, Bang!"
...[Ini hari jum'at. Tinggal sehari lagi, kita... akan duduk di pelaminan! Semoga Allah lancarkan ijab kabul Abang nanti!]...
"Aamiin! Semangat ya, Bang? Hehehe..."
...[Nona degdegan gak?]...
"Pastinya! Hehehe...!"
...[Bagiku waktu terasa lambat bergerak. Jam dinding detiknya pun seperti malas langkahnya. Aku ingin kita buru-buru menjadi suami istri!]...
Merona wajah Kartika. Kata-kata Herdilan membuatnya melayang ke langit ketujuh.
"Abang,... kemarin aku sempat takut, Abang sedih karena Tika cerita soal masalah kita setelah nikah nanti. Tika takut Abang berniat membatalkan acara pernikahan ini!"
...[Kenapa Nona berfikir begitu? Ga ada di otak Abang untuk membatalkan rencana pernikahan kita! Ga ada lah! Hanya karena Mama melarang Tika pindah, lalu aku batalin semua ini? Itu tindakan kekanak-kanakan sekali!]...
__ADS_1
"Soalnya selama ini..., sebagian pria yang punya hubungan dengan Tika, selalu begitu,"
...[Stop! Jangan ceritakan pria lain yang pernah punya hubungan denganmu! Aku cemburu!]...
"Maaf, Abang! Maaf... Tika gak bermaksud,..."
...[Hehehe...! Nona kaget ya? Aku kedengeran galak ya? Hehehe... Lain kali gak boleh cerita pria lain! Oke?]...
"Aaa... Abaaang!!! Hik hiks, Tika sampai sport jantung niiih!!!"
...[Hahaha... Maaf, Nona! Itu baru shock terapy saja! Hahaha... Maaf, ya...please maaf!]...
"Iiih...! Aku mau nangis karena kaget!"
...[Itulah. Dalam hidup tak selamanya adem ayem saja. Ada gejolak juga. Ada senang, sedih, manis, pahit, suka juga duka. Semua bercampur silih berganti mewarnai hidup kita ini. Jadi,... kalau kita sedang diterpa kesedihan, bukan berarti kita harus terpuruk terus didalamnya bukan? Kita harus bangkit! Harus bisa mengatasinya, bukan justru membiarkannya menenggelamkan hidup kita. Karena waktu akan terus bergerak, dan kita tidak mungkin diam saja ditempat. Iya khan, Nona?]...
Kartika merenungi ucapan Herdilan. Lembut dan dalam sekali kata-katanya.
Membuatnya tanpa sadar mengangguk-angguk mengiyakan.
...[Hallo? Nona?]...
"Ya, Bang?!? Tika masih disini. Mendengarkan suara Abang yang merdu. Membuat hati Tika menjadi tenang!"
...[Hehehe...! Memangnya Abang ini penyiar radio, apa?!]...
"Abang adalah calon imam yang terbaik bagi Tika! Terima kasih, sudah menjatuhkan pilihan pada Tika...untuk menjadikan Tika sebagai pendamping hidup Abang. Semoga, Tika tidak mengecewakan Abang sebagai partner. Tetap selalu bimbing Tika ya Bang? Karena Tika bukan perempuan yang sempurna, dan justru banyak kekurangannya!"
Herdilan terdengar menghela nafas.
...[Nona?]...
"Ya?"
...[I love you... Nona Kartika Sari!]...
Deg deg deg
Deg deg deg
Jantung keduanya berdetak lebih keras dan cepat dari biasanya.
Cinta, membuat segalanya lebih indah.
Cinta, menyatukan segala perbedaan.
Cinta pula, yang menghilangkan semua rasa prasangka buruk dan juga kesalahfahaman.
Herdilan kini benar-benar jatuh cinta pada kelembutan hati seorang Kartika.
Dirinya yang pernah terseok-seok dalam mendapatkan cinta, terjerumus kedalam lubang dosa yang berdarah-darah. Kini percaya lagi pada kekuatan cinta.
Cintanya pada Tuhan Yang Maha Esa, memberikannya kembali kehidupan yang baru.
__ADS_1
Ia akan melangkah ketempat yang lebih baik. Dengan seorang pendamping hidup yang cantik dan mengerti dirinya.
Tentu adalah suatu anugerah terindah bagi Herdilan saat ini.
.....
Suara musik mengalun mengiringi langkah Herdilan yang didampingi para saudaranya memasuki gedung pernikahan yang megah.
Hiasan bunga hidup berwarna putih dan beberapa warna pastel serta hijaunya dedaunan menambah keasrian aula hall yang begitu mewah.
Sangat indah, memanjakan mata para tamu undangan bahkan sang mempelai sendiri yang memang tidak pernah sekalipun melihatnya.
Bahkan untuk gladi resik pun kedua mempelai beserta keluarga hanyalah mendapat pengarahan dari rumah mereka saja.
Herdilan tersenyum cerah, dekorasi gedung dan pelaminannya sangatlah indah.
Ia mengangguk memberi penghormatan pada Mutia secara khusus yang telah memberinya banyak bantuan untuk hari istimewanya ini.
Hari masih pagi. Baru pukul tujuh lima belas menit. Dan ia beserta rombongan keluarganya telah kumpul semua di gedung milik Mutia Permata itu.
Tinggal menunggu rombongan mempelai wanita yang katanya akan meluncur pukul delapan pagi ke gedung ini.
Acara ijab kabul akan dilangsungkan pukul sepuluh pagi.
Membuat Herdilan semakin nervous menunggu saat-saat terindah ia dan Kartika bersatu.
"Papa... Mama! Hari ini aku akan menikahi Kartika Sari, semoga kalian bahagia... di alam barzakh sana. Karena aku juga akan bahagia! Kakak-kakakku semua yang menyiapkan ini! Terima kasih, Pa...Ma! Telah melahirkanku kedunia. Aku, sayang kalian! Juga Mama Tania, berbahagialah kalian di syurga-Nya Allah!"
Batin Herdilan berkata lantang.
Bahwa perjalanan hidupnya sangat spesial, karena terlahir sebagai putra dari Bambang Suherman serta Tasya Jessica. Ia bangga menjadi putra tiri mama Tania hingga memiliki hubungan darah persaudaraan dengan ketiga kakak tirinya.
Herdilan menggenggam erat tangan Christian dan Roger yang mengapitnya. Dibelakang mereka berdiri Fika, Viona dan Mutia... bergaun panjang indah. Sangat cantik bak bidadari-bidadari dari khayangan.
Didepannya ada Dzakki, Verrel dan Velli yang membawa karangan bunga untuk diberikan kepada pengantin wanita yang akan datang sebentar pagi.
Mereka sangat berkilauan sekali, di momentum istimewa Herdilan Firlando itu.
Mata Herdilan berkaca-kaca, saking bahagianya.
"Jangan menangis, jangan menangis!" bisik Chris mengingatkannya.
"Dia ini memang cengeng, Kak!" timpal Roger.
"Hiks...! Aku ini terharu. Tak bolehkah menitikkan air mata kebahagiaan!?"
"Senyumlah! Senyumlah dengan indah. Para orangtua kita juga ada, dan hadir di tengah-tengah kita!"
Jantung Herdilan berpacu dengan cepat. Christian membuatnya termangu sebentar. Lalu hatinya segera menghaturkan doa dengan membaca surat Al-Fatihah. Semoga Allah melancarkan dan memudahkan semua urusannya. Aamiin...
__ADS_1
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...