PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 25 Ungkapan Cinta Yang Mendebarkan


__ADS_3

Hari pertama kami berbulan madu di villa om Lordess terasa kaku.


Bukan menjadi lebih dekat dan lebih intim justru sebaliknya.


Aku sendiri sedang sangat badmood melihat tingkah Mas Delan yang semakin dingin tak ada niatan mendekatiku secara persuasif.



Aura suram wajahnya membuat ciut nyaliku untuk mencoba mendekatinya. Wajah tampannya yang kaku benar-benar sepintas mirip kanebo kering yang sebulan tergeletak di dalam jok motor.


Seketika aku tersenyum, geli sendiri dengan lamunanku.


"Kenapa ketawa? Kesemsem ya ngobrol sama si Cemen yang gantengnya maksimal!"


Idih? Segitu sensinya kata-kata mas Delan!


"Kalo cemburu bilang, boss! Jangan sindir sampir macam begitu!" ledekku membuat mas Delan menatapku tajam.


"Buat apa aku cemburu? Rugi besar cemburu gak guna!"


"Nah itu, jutek pasang muka jelek artinya apa?"


"Khan wajahku memang jelek di pandanganmu! Iya khan?"


Alamak... segitu bapernya rupanya dia!


"Mas!"


Mas Delan menghindar pegangan tanganku. Tentu saja jatuh seketika harga diri ini. Sebegitu benci dan marah sepertinya.


"Mas...! Mas Delan,... kita harus bicara! Kita harus luruskan kesalahfahaman ini!"


"Untuk apa? Untuk membuatku terlihat bersalah karena cemburu buta?"


Tak kusangka kemarahannya benar-benar dengan tensi yang tinggi.


"Mas! Duduklah! Aku mau diskusikan sesuatu!"


"Gak perlu kita diskusi! Unfaedah!"


"Iyakah? Begitu menurutmu?... Jadi setiap kita ada kesalahfahaman tak perlu kita luruskan? Biarkan saja semua masalah mengendap dan menumpuk menjadi gunung es yang sewaktu-waktu meledak? Begitu?"


Aku mendengus kesal.


Kuhentakkan kaki ini seraya berjalan memutar arah, masuk kamar dengan langkah cepat.


Kesalku benar-benar banyak hingga tanpa sadar kuhempaskan daun pintu kamar dengan begitu kencangnya.


Aku yang kini duduk terdiam di lantai dengan tubuh menyender ke ranjang besar kami.

__ADS_1


Ini bukan bulan madu! Ini justru hari-hari menuju pintu neraka angin ribut selanjutnya! sesalku dalam hati.


Kenapa suamiku yang dingin bagaikan es balok itu begitu keras kepala. Kenapa tak bisa sedikitpun mencair meleleh demi menyenangkanku yang kini adalah istri bukan lagi teman sekampusnya.


Air mataku justru kini yang meleleh. Hanya diam membisu tak mampu berfikir positif lagi, kecuali kekhawatiranku pada mahligai rumah tangga ini.


Mau di bawa kemana hubungan ini? Mirip seperti lirik lagu. Dan aku benar-benar gamang tak mengerti lagi arah fikirannya mas Delan!


Kalau cemburu, katakan saja cemburu. Kalau tak suka, bilang terus terang kalau memang tak suka pada sifat dan prilakuku. Jangan seperti ini juga! Mendiamkanku tanpa alasan lalu menyindir-nyindir seolah aku benar-benar terdakwa yang bersalah besar. Sedang ia adalah korban yang berdarah-darah.


Hhh...


Kreeet...


Tiba-tiba Mas Delan membuka pintu lalu berjalan cepat menghampiriku.


Grep.


Ia langsung merangkul tubuhku. Mendekap erat dalam pelukannya yang hangat.


"Jangan bermanis-manis pada pria lain selain suamimu sendiri!" tukasnya dengan suara pelan, nyaris tak terdengar.


Ternyata mas Delan memiliki sifat yang possesif juga! Aku speechless tapi tersenyum senang, karena bisa tersalurkan juga 'rasa'nya padaku. Rasa kalau ia 'memiliki'ku.


"Aku ini siapamu, Mas?" tanyaku lirih, berderai airmata bahagiaku.


Aku terkekeh seraya mengusap lelehan hangat di pipi ini. Intonasi 'nona Viona'nya mirip panggilan Cemen padaku.


"Ya logika aja, mas! Masa' aku harus berbagi kasih sama si Cemen? Dan masa' kamu segitu cemburunya hanya karena aku dan Cemen ngobrol bareng? Itu pun bukan kami berduaan. Ada bi Kurni juga mbak Clon! Segila itu kah aku dimatamu, Mas?"


Mas Delan memperhatikan wajahku dengan seksama.


"Aku ini siapamu?" tanyanya membalikkan pertanyaanku yang tadi.


"Ya suamiku lah!"


"Cintakah kamu padaku?" tanyanya dengan mata fokus ke arah mataku.


Ya Tuhan! Curang ini namanya!


"Kamu sendiri? Bagaimana? Cinta aku gak? Atau hanya terpaksa karena kita ini menikah dengan suatu alasan?"


Hm... Akhirnya ada momen dimana aku bisa menekannya juga!


Dia diam, tak menjawab. Tapi matanya masih nanar ke dua bola mataku. Bahkan kini semakin fokus tak berkedip.


"Aku mencintaimu, sejak pandangan pertama!"


Akhirnya...

__ADS_1


Aku tahu Mas Delan jujur. Aku bisa merasakannya lewat getaran suaranya yang bagaikan setrum aliran listrik yang menyengat hatiku.


"Bagaimana denganmu? Masih membenciku, Viona?"


Aku tergagap. Tangannya menyentuh daguku dan mengangkat wajahku hingga terdongak ke hadapannya.


"Aku... tidak pernah membencimu, Mas!"


"Aku ini cupu, culun... dan juga standar di matamu, bukan?"


Berdegub jantung ini mendengar tebakannya yang hampir seratus persen benar.


"Itu karena..."


"Karena kamu tidak ingin dekat-dekat dengan makhluk yang namanya pria, bukan?" sela mas Delan membuatku menerawang.


Aku menghela nafas, menunduk malu.


Namun perlakuannya makin membuat luluh airmataku.


"Aku semakin mencintaimu, Viona! Meski tak sedikitpun kau berikan kesempatan mengungkapkannya padamu!"


Cup.


Bibirnya kembali menyentuh keningku. Dan ia merengkuh bahuku lebih dalam lagi kepelukannya. Hingga detak jantungnya yang tak beraturan dapat kudengar dari telinga kananku yang menempel di sebelah kiri dada bidangnya.


Tapi tiba-tiba ia kembali memegang daguku.


"Kamu belum jawab pertanyaanku yang tadi, Vio!"


"A-apa?" jawabku gugup.


"Cintakah kamu padaku?" tanyanya sekali lagi.


"Aku... Aku..., aku juga sebenarnya ada rasa padamu, Mas! Apalagi setelah kini kamu adalah suamiku. Yang bertanggung jawab sepenuhnya akan diriku. Susah senangnya hatiku, juga sehat dan sakitnya jiwa ragaku!"


Kedua bola mata Mas Delan berbinar. Pendarannya begitu indah bagaikan letupan bunga-bunga api petasan warna-warni yang di bakar di malam tahun baruan.


Aku tersenyum... Dan,


Srup...Srrrp


Bibir ranumnya melahap bibirku tanpa aba-aba. Penuh tegangan tinggi dan kekuatan yang super besar sekali. Membuatku gelagapan nyaris sulit bernafas.


Segera mas Delan hentikan setelah kesadarannya pulih, telah mencuri ciuman bibirku lagi sembari tersenyum nakal padaku.


Uhfff... Mas Delan... I love you.


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...

__ADS_1


__ADS_2