
Burung-burung berkicau di atas dahan pepohonan. Bertengger dengan gagahnya memikat hati sang lawan jenis.
Sungguh pagi yang cerah.
Viona terbangun lebih dahulu dibanding Roger.
Ia sangat malu mendapati dirinya tengah memeluk erat tubuh Roger.
Perlahan jemarinya memegang kening pria itu.
Syukurlah! Suhu panas badannya tidak setinggi semalam. gumamnya senang.
Perlahan sekali ia bangkit dari ranjang. Takut kalau decitan ranjang turut serta membangunkan Roger.
Viona tidak tahu kalau sebenarnya Roger telah bangun sepuluh menit yang lalu.
Pria itu tertegun mendapati Viona ada dipelukannya. Namun tersipu malu mengingat keadaannya semalam.
Viona merawatnya dengan sangat baik. Meluruhkan amarahnya yang sempat membara karena mendapati Viona kurang dalam mengurus Dzakki.
"Viona!"
"Ro-Roger!?"
Viona gugup, Roger menyebut namanya.
Kini jemari Viona dalam genggaman hangat Roger.
"Terima kasih. Terima kasih banyak atas perhatianmu!"
"Aku senang, kamu sudah sembuh!"
Roger menarik kembali tangan Viona yang hendak bangkit dari ranjang.
"Jangan dulu pergi! Aku ingin kita terus begini!" tuturnya malu-malu.
Bersemu seketika wajah Viona. Merah merona.
"Kamu..., kamu pasti masih demam. Sampai berani menggodaku!" ujar Viona dengan wajah tertunduk.
"Apakah aku salah jika mencintaimu?"
Viona diam seribu bahasa.
__ADS_1
Pertanyaan Roger seolah menohok dirinya sendiri.
Kenapa pertanyaannya sama dengan pertanyaan dalam hatiku ini?
"Viona!?"
"Apa... kau benar-benar mencintaiku? Tulus dari hatimu yang dalam?"
"Apa perlu kau belah dadaku agar kau lihat sendiri hatiku yang merah karena menahan cintaku padamu?"
Dug dug dug dug dug dug dug
Haish! Kenapa perkataannya seperti Roman Picisan yang terserang penyakit cinta?
"Aku... takut terluka!"
"Aku tahu itu! Aku juga takut terluka! Aku pernah berjuang mati-matian sampai akhir untuk mendapatkan cinta. Tapi nyatanya... cinta tak berpihak. Dan sakitnya... sampai kini masih terasa!"
Viona menatap kedua bola mata Roger. Mereka saling berpandangan.
Kini jemari tangan keduanya saling berpegangan. Sampai...
Bruk
"Mami... Ayah! Dzakki kira kalian pergi tinggalkan Dzakki!"
"Sini, Sayang!"
"Sini, Boy!"
Dzakki melompat kegirangan.
"Ih, bau asem!" tukasnya mencium selimut Ayahnya. Sontak mereka bertiga tertawa.
"Ayah sakit nih! Uhuk uhuk... Tolong k*iss pipi Ayah!" Roger merajuk. Membuat Viona tersenyum dan...
Cup. (Viona mengec*p pipi Roger)
Pipi Roger merah seketika. Terlebih melihat Viona yang langsung kabur dengan tawa kecilnya yang menggemaskan.
"Mamiii..., tanggung jawab dong!!!" teriaknya menggoda Viona yang juga sama malunya seperti Roger.
Dzakki tertawa-tawa melihat kelakuan aneh Mami serta Ayahnya.
__ADS_1
Dia kembali terbahak-bahak ketika Roger turun dari ranjang.
"Hahaha... Ayaah...! Kenapa pakai daster Mami?"
Merah padam wajah Roger. Ia segera berlari menuju kamar mandi.
Dzakki tertawa terpingkal-pingkal sambil berlari keluar.
"Mbok Clon... Lihat deh, Ayah pakai baju Mami! Hahaha... Ayah lucu!"
Viona baru teringat, semalam ia mengganti kemeja Roger dengan daster kaosnya. Membuat ia terkikik di dapur.
Bi Kurni dan Mbak Clon ikut tertawa. Mereka melihat wajah nyonya dan tuan mudanya kini sangat berbeda. Penuh cahaya dan tawa sumringah. Pertanda keduanya kini sedang sangat bahagia.
...⚘⚘⚘⚘...
Roger mengajak Viona dan Dzakki jalan-jalan. Ia memang telah merental empat hari kedepan mobil sewaannya itu.
Sehingga ada waktu beberapa hari untuk mengajak putra kesayangan dan pujaan hatinya itu untuk keliling Ubud.
"Aku... tidak mau ke kota Ubud!" ucap Viona.
Ia takut memori lamanya kacau lagi teringat masa lalunya yang berbulan madu di tempat ini.
"Viona!... Maukah kau menikah denganku?" tanya Roger dihadapan Dzakki.
"Mau, Mi...! Mau!!!" Dzakki menyela sang Ayah.
Sementara Viona menunduk malu. Senyumnya mengembang dibalik jemari tangannya yang menghalangi.
"Bagaimana Viona? Apa jawabanmu?... Tapi please... Jawab dengan hatimu yang sejujurnya. Karena aku tidak mau hanya dapat PHP saja!"
"Aku mau! Asalkan kamu janji juga padaku!"
"Janji apa?"
"Janji untuk tidak menduakan cintaku. Janji untuk selalu setia kepadaku. Janji menerima segala kekuranganku. Janji untuk menjagaku dan Dzakki selamanya!"
Roger memeluk erat Viona. Dia tersenyum lebar sambil berkata, "Aku janji. Aku janji. Aku janji, Viona! Aku akan selalu setia padamu sampai kapanpun. Sampai nafas dikandung badan. Bahkan sampai akhirat nanti. Aku mohon pada Tuhan agar senantiasa merawat cintaku terus subur kepadamu. Juga pada Dzakki, putra kita!"
Luruh pertahanan Viona. Tangisnya pecah dibahu Roger. Tangis kebahagiaan.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1