PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
SESSION 2 UJIAN MENJELANG PERNIKAHAN


__ADS_3

"Viona sudah melahirkan!"


"Alhamdulillah!"


Kabar gembira itu seperti pesan berantai dari para saudara Roger Ghibran Suherman.


Tak lama Roger membagikan gambar foto kebahagiaan keluarga yang kini bertambah anggotanya di grup what'app keluarga Bambang Suherman.


Kartika yang baru sehari menjadi member baru turut serta mengirim emoji love pada gambar keluarga mantan istri calon suaminya itu.


Lagi-lagi perasaan itu kembali hadir.


Rasa cemburu yang datang menyeruak tanpa bisa ia kendalikan.


Mbak Viona cantik. Dia jadi rebutan Mas Herdilan dan juga Mas Roger. Pastinya ada sesuatu yang jadi keunggulan pribadinya. Andai aku tahu. Aku ingin sekali mengetahui rahasia itu. Walau kutahu perceraian Mbak Viona dan Mas Herdilan karena adanya orang ketiga, tapi pastinya ada satu hal yang istimewa dalam diri Mbak Viona sampai Mas Roger yang seorang bujangan bisa tertambat hatinya. Hhh...! Bisakah aku menanyai Mas Herdilan? Apa aku tidak terlalu terburu-buru untuk kepo masa lalu ketiganya?


Kartika hanya bisa bergumam dalam hati.


Posisinya kini hanyalah calon istri. Belum jadi istri. Masih ada waktu tiga minggu lebih untuknya menyandang gelar itu.


Setelah berkali-kali nyaris naik pelaminan tapi gagal, membuat Kartika tidak berani berkhayal terlalu tinggi.


Dia justru semakin waswas.


Dan kini rasa penasarannya itu hanyalah jadi pertanyaan yang menumpuk dengan pertanyaan lainnya di hati.


Bahkan ketika ia dan Herdilan sedang bersama.


Kartika membawa Herdilan pergi nyekar ke makam Chintia sahabat kecilnya.


Cukup lama ia juga calon suaminya itu terpekur disana. Buku yasin kecil lengkap terjemahannya telah selesai di baca dalam hati. Karena Kartika takut Herdilan mengetahui suaranya ketika mengaji.


"Chintia! Maaf..., aku baru mengunjungimu. Maafkan aku yang nyaris melupakanmu! Bukan maksud melupakan, tapi aku sangat takut sedih berkepanjangan ketika menyambangimu di tempat peristirahatan terakhirmu ini! Tia..., aku...akan menikah tiga minggu lagi. Kuharap kamu juga senang mendengar kabar baik dariku. Andai..., saat itu aku tidak sakit. Andai waktu itu kita pergi sekolah bersama-sama seperti biasa, mungkin cerita sedih ini tidak akan terus menerus menghantuiku karena rasa bersalah yang dalam. Bahkan Mamamu, sampai melakukan hal-hal diluar nalar. Dan kini..., hhh... beliau juga menyusulmu karena tindakannya! Aku tidak menyalahkan beliau! Tidak, Tia! Aku justru merasa tak enak hati. Dan aku selalu terbebani rasa bersalah itu seumur hidupku. Hik hik hiks..."


Perlahan tangis Kartika pecah.


Herdilan mendekatinya dan sedikit ragu untuk merapatkan tubuh merangkul Kartika.


Akhirnya hanya usapan telapak tangannya yang dengan lembut ia taruh di punggung Kartika.


Herdilan tak mengucapkan sepatah katapun.


Ia tahu, Kartika sedang berkomunikasi dengan sahabat masa kecilnya itu. Berharap hatinya akan lega dengan permintaan maaf yang tulus.


Ia juga pernah merasakan hal yang sama. Bahkan lebih sadis karena dirinyalah yang telah membuat nyawa Firman melayang.


Meski Delan telah mendapat balasan lima tahun penjara, tapi hati kecilnya masih menyimpan rasa bersalah yang besar. Bahkan sampai hari ini.


Ia sangat menyesal pada perbuatan jahatnya dengan menghilangkan nyawa orang.


Makanya ia bisa memaklumi perasaan Kartika Sari perihal permasalahannya dengan bu Jamilah.


Makam Bu Jamilah cukup jauh dari makam Chintia.

__ADS_1


Tapi Kartika sudah berjanji dalam hati, juga akan menziarahi beliau selepas dari makam Chintia.


Tanahnya masih merah dan basah. Beliau baru meninggal beberapa hari lalu. Masih terlihat sisa-sisa taburan kelopak bunga mawar merah di atasnya.


Bu Jamilah meninggal dunia, jadi korban pembunuhan Mbah Jambrong sang dukun cab*l.


Kartika mengaji surat Yassin sampai selesai, juga dalam hati. Sementara Herdilan menemaninya dengan tenang dan sabar tanpa banyak bicara.


"Bu Jamilah! Kartika minta maaf karena telah membuat ibu terus menerus menyimpan rasa sedih ditinggal pergi Chintia. Sungguh Kartika sangat mengerti perasaan Ibu! Ditinggalkan adalah hal yang paling menyakitkan! Tika juga turut merasakan hal itu ketika Tia tiada. Hik hik hiks...! Tapi semua itu bukanlah kemauan Tika! Andaikan bisa ditukar, Tika ikhlas jika harus bertukar tempat dengan Chintia! Hik hiks..."


Kali ini Herdilan memberanikan diri merengkuh bahu Kartika.


Ia mengambil sapu tangan handuk dari saku celana lalu memberikan pada calon istrinya itu.


Hanya tepukan pelan yang bisa Herdilan berikan di bahu Kartika, agar kesedihannya mereda.


Isak tangis gadis itu membuat Herdilan segera menuntunnya meninggalkan area makam.


"Mari kita pulang! Kita doakan keduanya ditempatkan di tempat yang indah bersama orang-orang soleh dan soleha!"


Kartika menurut. Ia merasa tenang karena ada Herdilan membimbingnya.


Mereka melipir ke sebuah warung kecil diluar kompleks pemakaman.


Memesan dua gelas teh manis hangat untuk menenangkan hati.


Kartika mengembalikan sapu tangan Herdilan dan mengucapkan kata terima kasih.


Pria dewasa itu mengangguk tapi tak berkata apa-apa. Ia masih terlihat kikuk dihadapan Kartika.


Sangat berbeda sekali dengan dirinya di masa muda. Kini ia sangat tidak percaya diri dihadapan wanita. Bahkan terkesan pasif tak berani ambil tindakan lebih dahulu.


Berbeda dengan ketikan tangannya lewat gadget. Herdilan lebih merasa nyaman mengutarakannya lewat jari jemari daripada lewat lidah tak bertulang.


"Mas!"


"Ya?"


"Hm... engga' jadi deh!"


"Aih? Hm... hehehe ya udah deh!"


"Apa...aku ini membosankan?" tanya Kartika juga pada akhirnya.


Herdilan termangu sesaat. Lalu menggeleng cepat.


"Mbak Viona seperti apa orangnya?"


"Viona? Maminya Dzakki?"


"Iya."


"Kenapa Nona tanya Viona? Maksudnya mau kasih kado apa ya, buat bayinya?" Herdilan balik bertanya.

__ADS_1


"Bu-bukan seperti itu, Bang!"


Herdilan merasa jantungnya berdebar-debar.


Ia bisa menebak, Kartika pasti sedang ingin mengetahui kedalaman hatinya.


"Viona itu... memang mantan istri Abang!" cukup lama Herdilan diam terpaku dengan kedua tangan sibuk memutar-mutarkan gelas yang dipegangnya.


"Viona adalah ibu dari putraku satu-satunya. Dan kini, Viona adalah kakak iparku. Tuhan sepertinya memang tidak ingin hubungan kami jauh walaupun telah lama bercerai!"


"Perasaan Abang sendiri pada Mbak Viona, bagaimana?"


Entah mengapa Kartika menjadi seberani ini menanyakan hal yang sangat pribadi pada Herdilan. Ia benar-benar ingin tahu, apakah calon suaminya itu masih memendam rasa pada mantan istrinya.


Kartika tidak ingin pernikahannya nanti menjadi penghalang. Dia juga tidak mau menjadi tameng bagi Herdilan untuk terus memuja mantan istrinya.


Ia ingin hanya menjadi ratu satu-satunya nanti setelah mereka resmi sebagai suami istri.


"Apakah Nona cemburu pada Maminya Dzakki?"


Deg.


Kini jantung Kartika yang berdebar kencang.


Ia memang cemburu. Tapi juga ingin tahu kisah itu dari mulut Herdilan sendiri.


"Apa Nona merasa risih dengan masa laluku?"


Lagi-lagi pertanyaan Herdilan menohok jantungnya.


"Bolehkah aku tidak membuka masa laluku pada Nona yang sudah lama kucoba menghilangkan rasa tidak enaknya? Apa... masa laluku sepenting itu bagi Nona?"


"Bukan masa lalu, tapi masa kini yang ingin saya ketahui, Bang!"


"Baiklah. Viona adalah masa laluku. Tapi Dzakki juga adalah masa kiniku yang ada dari hubungan masa laluku dengan Viona."


Kartika bergetar mendengar jawaban ambigu Herdilan.


Seolah terdengar jelas nada suaranya yang tercekat dan seperti sedang balik menyelidik perasaannya.


"Abang sudah bilang, Abang siap menikah dengan Nona saat ini juga asalkan Nona bersedia menerima Abang beserta kekurangannya. Apa Nona kini ragu pada Abang?"


Kartika menelan salivanya. Bibirnya kelu dan lidahnya kaku. Ia tak mampu menjawab. Tapi hati kecilnya berteriak, kalau ia perlu tahu perasaan terdalam Herdilan pada Viona. Sebab Herdilan sebentar lagi akan jadi suaminya. Dan ia takut jika suaminya itu akan lebih menyayangi Maminya Dzakki yang adalah mantan istrinya.


Usianya memang sudah dewasa. Dan menikah adalah prioritasnya kini.


Tetapi jika hanya akan dijadikan pajangan dalam status, ia tidak mau. Ia lebih memilih menjadi perawan tua apabila harus menjadi istri di atas kertas saja.


Kartika belum bisa melihat cinta Herdilan padanya. Meskipun seserahannya begitu banyak dan sangat menggembirakan Mama Papanya.


Hhh...


Rumitnya cinta.

__ADS_1


Dan ini adalah ujian Kartika Delan menjelang pernikahan.


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2