PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 17 Hari Pernikahan Kami


__ADS_3

Hari ini... hari pernikahan kami. Di hotel mewah bintang lima. Dengan segala keindahan terhampar. Pelaminan tercantik, pesta adat yang meriah dan penuh persiapan matang oleh Wedding Organizernya.


12 Februari. Tanggal bersejarah dikehidupanku dan Herdilan Firlando.


Mengucap ijab kabul dengan sekali hembusan nafas, lalu di doakan para saksi termasuk wali nikah kerabat dan saudara. Kini kami sah suami istri.


Delan lebih dulu menandatangani buku nikah warna coklat. Sementara aku buku nikah yang warna hijau.


Tak ada sepatah katapun keluar dari bibirnya. Begitu juga aku. Hanya senyum yang menghiasi setiap kali para kerabat dan sahabat kami menggoda serta mengajak kami berfoto.


Kami bagaikan raja dan ratu. Bergaun mewah dan tuxedo indah. Melihat iri banyak pasang mata.


Tangan saling bergandeng, senyum saling tertaut. Tapi... bagaimana dengan hati?



Aku sebenarnya sangat bahagia. Diusiaku yang baru menginjak 22 tahun telah ada yang menikahi. Suamiku juga bukan orang biasa. Selain muda dan seusia, Delan juga anak orang terpandang. Tajir melintir, kaya dari lahir.


Nikmat mana lagi yang kau dustai?


Delan juga tampan. Setelah di awal aku salah penilaian. Ternyata suamiku memiliki komunitas yang hampir keseluruhan penggemarnya adalah para wanita.


Delan ternyata seorang seniman mural art. Dan aku juga baru tahu setelah setengah jam dirinya mengucap janji suci.


Rekan sesama komunitasnya hadir undangan ke pesta pernikahan kami yang megah. Bahkan konten video mereka kondangan langsung viral di akun tik tok milik komunitas.


Aku hanya tersenyum malu tanpa tahu jati diri dan juga kegiatan suamiku sebelumnya.


Semua yang tak kuketahui tentang Herdilan Firlando, seperti Tuhan buka-bukakan untuk kuketahui.

__ADS_1


Begitulah.


Hingga pesta usai di pukul 7 malam. Dan aku diboyong langsung ke rumah mewah keluarga Mama Tasya.


Benar-benar seperti putri raja yang cupu luar biasa. Aku ternganga melihat betapa rumah Delan bagaikan istana yang begitu megahnya.



Bahkan Ayah juga Ibuku tak henti-hentinya menebar senyuman lega karena putri semata wayangnya memiliki suami bukan orang sembarangan.


Ruang tamunya sangat cozy. Membuat semua kerabat yang ikut mengantar dibuai impian indah menapaki istana raja.


Aku,... hanya bisa menelan saliva.


Antara mimpi tapi nyata. Antara tak percaya namun kenyataan. Bahkan mataku seolah tak mau berkedip karena dimanjakan oleh keindahan yang ada didepan mata.


"Bawa Viona kekamar, Lan! Ajak istirahat. Pasti Vio capek sekali karena dua hari ini kalian jadi raja dan ratu tercantik sejagat raya!" ucap mama Tasya agak menggoda Delan dan Viona.



Ngeri-ngeri sedap menjadi menantu orang kaya. Takutnya aku berbuat salah sedikit, bisa-bisa di depak dengan sangat mudahnya. Hiks.


Delan membantuku mengangkat ekor gaun yang kepanjangan. Sesekali ia membetulkan jika renda brokat gaun pengantinku menyangkut di lantai tangga.


Aku menatap wajah tampannya yang bersinar cerah kena lampu kristal rumahnya yang original itu.


Suamiku terlihat tampan sekali! gumamku dalam hati.


Sejujurnya aku sangat takut. Hati ini terasa gamang. Mendapati kenyataan kalau aku kini adalah seorang istri dan menantu dari orang kelas atas.

__ADS_1


Sadar diri siapalah diriku ini. Hanya seorang gadis biasa yang beruntung karena dipinang seorang pemuda tampan yang tak suka pamer kekayaan.


Aku juga malu pada diriku sendiri. Sempat memandang rendah Delan karena dandanannya yang cupu.


Kemungkinan ia sengaja berpenampilan begitu supaya tidak ada orang tahu status kasta dan hartanya yang bejibun.


Dan ternyata mungkin aku di pandang 'hina' oleh Delan juga karena penilaian awalku yang tak baik padanya. Mungkin Delan menyetujui pernikahan ini juga atas dasar menutupi aib keluarganya yang nyaris terbongkar umum.


Sebenarnya aku memang tidak benci Delan karena penampilan saja. Itu semua kesalahfahaman. Karena aku memang menjaga jarak dari semua teman laki-laki.


Itu kulakukan sejak aku tumbuh remaja. Karena Ayah maupun Ibu selalu mematokku untuk sesuatu pencapaian yang mereka standarkan.


Yakni, jangan mengenal dulu laki-laki sebelum aku mampu membahagiakan Ayah Ibu. Termasuk nilai-nilai sekolah yang tinggi dan juga ranking kelas yang membanggakan.


Itu sebabnya, aku selalu menjauh dari para teman pria. Karena dimata dan fikiranku, 'bermain-main' dengan mereka justru akan mengalihkan perhatian serta fokusku pada pelajaran sekolah.


Tapi apakah Delan mengerti diriku yang bertingkah di awal perkenalan kami? Haruskah aku menjelaskan semuanya agar Delan bisa memahami diriku yang sesungguhnya? Perlukah aku menceritakan semua itu demi menaikkan pandangannya padaku?


Hhh... Aku hanya bisa menghela nafas pendekku. Membuat Delan menoleh ke arahku.


"Kamu capek? Boleh kubantu?" tanyanya pelan.


Aku tak faham pada pertanyaannya.


Bantu apa?


Namun tiba-tiba tubuh ini langsung di gendong ala bridal di drama Korea membuatku memekik dan segera menutup bibirku yang ternganga lebar.


"Jangan teriak! Mereka memperhatikan kita, Vio! Berperanlah dengan baik!" ujarnya setengah berbisik.

__ADS_1


Jadi ini sandiwaranya?


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2