
"Pa! Maafin Mama ya, karena tadi Mama tanpa sadar berkata kasar bahkan mengeluarkan kata-kata yang tak baik!"
Bu Fajar memeluk tubuh sang suami di atas ranjang. Mereka berdua bersiap untuk tidur karena hari telah malam.
"Mama harus minta maaf pada Kartika. Mama secara tidak langsung telah mendzolimi putri sendiri!"
"Iya. Mama sudah minta maaf sama Kartika tadi! Hik hiks..."
"Ma! Perihal nasib, setiap orang memiliki nasib masing-masing. Jangan samakan nasib putri kita dengan putri orang lain! Tidak boleh menyamaratakan Kartika dengan anaknya bu Bedah teman Mama itu. Mama tahu engga' cerita aslinya tentang Yuli, putri teman pengajian Mama? Papa tahu sebabnya kenapa anak itu tidak pulang-pulang dari merantau ke negeri seberang?"
"Papa tahu Yuli putrinya bu Bedah? Tahu dari mana?"
"Khan suaminya yang cerita sama Papa!"
"Aih? Dikira bapak-bapak jarang gosip, ternyata... sama juga!"
"Iya tapi bapak-bapak tidak bergunjing seperti ibu-ibu. Cuma sekedar sharing, cerita keluh kesah soal istri-istri yang keras kepala tapi baperan."
"Hehehe..., gitu ya!?! Oiya, gimana cerita Yuli yang sebenarnya, Pa?"
"Yuli sebenarnya sudah menikah di Malaysia. Bahkan Pak Fendy malah yang jadi walinya meskipun via online! Anaknya sering menelpon Ayahnya. Yuli hanya selalu menghindar dari Ibunya."
"Hah?!? Koq bisa? Kenapa Bu Bedah ga tahu kalau anaknya nikah di sana?"
"Anaknya kesal karena Ibunya itu orang yang cerewet dan selalu mengatur setiap langkah putrinya. Dari semuanya, bahkan sedari masih kecil. Sang putri sengaja pergi kerja ke luar negeri demi bisa bebas dari Ibunya yang super cerewet. Bahkan pak Fendy sampai mengeluh dan mau ikut menyusul Yuli kerja di Malaysia juga!"
"Iyakah?!?"
"Itulah, Ma! Jangan mentang-mentang kita orangtua, lalu kita terus menerus mengatur hidup anak kita. Mama tahu? Anak adalah titipan. Bukan berarti kita harus terus menentengnya kemana-mana. Memerintahkannya untuk selalu ada dibawah ketiak kita. Tidak bisa seperti itu, Ma!"
__ADS_1
"Tapi Mama takut hidup jauh dari Tika! Mama belum pernah berpisah dari putri kita."
"Doakan saja, putri kita selalu bahagia. Berikan dia support dan dukungan. Jangan putus-putus minta kebaikannya pada Sang Pencipta. InshaaAllah, putri kita akan selalu ingat pada kita. Dan Papa yakin, Kartika justru malah semakin sayang sama kita. Masalah kita jauh tinggal setelah Tika menikah, ya khan memang sudah kodratnya seperti itu, Ma! Seorang istri itu harus selalu bersama suaminya, kemanapun pergi. Kalau mereka tinggal berjauhan, rentan dari yang namanya kesalahfahaman. Kita yang setiap hari ketemu saja masih suka cekcok, apalagi yang tinggal berjauhan. Ketemu sebulan dua bulan. Dan juga, kita tidak bisa lagi mengatur putri kita setelah dia menikah. Kewajiban dan hak kita sudah putus setelah suaminya mengucap ijab kabul dan penghulu serta para saksi mengatakan sah. Mama khan sering ikut kajian, pasti jauh lebih faham daripada Papa!"
"Iya. Maaf, Pa!"
"Kita itu lahir sendiri. Mati pun pasti sendiri. Jadi, segala sesuatunya telah Allah atur sedemikian rupa. Cukup kita meminta kebaikan Tuhan dengan rajin berdoa. Semoga Tuhan mengabulkan semua permintaan kita. Dan sekiranya Tuhan tidak memberikan yang kita harapkan, pastinya Tuhan punya rencana lain yang lebih indah untuk hidup kita kedepannya."
"Iya. Mama langsung tersadar, setelah pak Saiful datang dan ngobrol banyak sama Papa!"
"Tadi pak Saiful juga terlihat lebih agamis. Dari obrolan kami tadi tersirat kalau hidupnya kini lebih bijaksana. Bahkan dengan berani, beliau mendatangi rumah kita untuk minta maaf. Dulu, seingat Papa pak Saiful itu jarang mengobrol akrab seperti tadi sejak Chintia putri mereka meninggal dunia. Beliau hanya mengekor istrinya. Bahkan nyaris tak pernah ia menegur Papa duluan. Tapi sekarang, semuanya telah menjadi pelajaran hidup yang sangat berarti bagi pak Fajar. Begitu juga bagi kita, Ma! Jangan pernah mencerca atau mencaci orang dan mendoakan keburukan karena tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Tapi justru kita berdoa, semoga selalu ada kebaikan dari apa yang Tuhan berikan pada kita. Pasti ada hikmah dibalik semuanya."
Bu Fajar menenggelamkan wajahnya ke dada sang suami. Ia benar-benar malu hati. Suaminya sangat pengertian dan seratis persen benar ucapannya.
Kadang rasa takutnya memang terlihat begitu berlebihan.
Seperti ketika Herdilan yang melamar putrinya tiba-tiba. Betapa ia kaget dan takut hajatan pernikahan Kartika tidak sesuai harapan. Tapi ternyata, keluarga Herdilan justru memberikan lebih banyak dari khayalannya. Bahkan semuanya di urus dan di bayar oleh Herdilan sekeluarga.
..........
...[Kenapa wajahmu terlihat agak pucat, Nona?]...
Tanya Herdilan pada kesempatan VC an dengan Kartika di pagi hari.
"Iya, Bang! Mungkin karena kurang tidur akhir-akhir ini! Hehehe..."
...[Jangan terlalu banyak fikiran, Non! Nanti kamu sakit!]...
"Iya. Ternyata banyak ujian ketika menjelang menikah ya? Pantas saja, banyak orang sering stres malah sampe depresi pas mau menikah! Hehehe..."
__ADS_1
...[Setiap mau naik kelas, pasti kita dihadapkan ujian. Hehehe...! Jangan stres, please! Sejujurnya aku juga merasa sangat antusias sampai-sampai kepingin cepat hari minggu. Biar lega rasa hati ini]...
"Masalahnya justru mungkin nanti setelah menikah, Bang!"
...[Masalah setelah menikah?]...
"Iya. Mama..., tidak setuju Tika pindah ke Singapura ikut Abang!"
...[Sudah Abang duga. Setiap orangtua pasti tidak ingin ditinggal jauh anaknya. Apalagi Nona anak satu-satunya. Pasti Mama sangat sedih!]...
"Malah sempat ada drama. Hehehe..."
...[Drama? Terus Mama sekarang kondisinya?,]...
"Alhamdulillah. Kini jauh lebih baik. Cuma..., Tika gak berani buat omongin masalah setelah menikah nanti!"
...[Nanti kita cari jalan keluarnya! Abang juga belum bisa menentukan apa-apa saat ini. Tapi, kemungkinan usaha di sana gak mungkin di pindah ke sini, Non! Moga ada jalan keluarnya yang pas buat kita nanti!]...
"Aamiin..."
...[Abang tutup dulu VC nya ya, mau pergi sebentar. Antar Verrel Velli ke sanggar!]...
"Oh iya, Bang!"
...[Assalamualaikum]...
"Wa'alaikumsalam..."
Herdilan menggalau. Apalagi Kartika.
__ADS_1
Keduanya sama-sama terpekur di tempat duduk masing-masing. Dengan fikiran bingung, harus bagaimana.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...