
Hari ini Ira tak seperti biasanya. Wajahnya ditekuk persis amplop kosong di akhir bulan.
Aku hanya mencoba meledeknya yang sepertinya sedang puasa bicara. Hanya jawaban singkat saja keluar dari bibir imutnya membuatku gereget ingin mencubit.
"Ada masalah apa sih, Ra?" tanyaku di sela-sela makan siang kami di sebuah resto kecil langganan kami, tak jauh dari lokasi butik.
"Bukan masalahku sebenarnya!" jawabnya datar.
"Lalu? Kenapa kamu pusing banget keliatannya?"
"Karena ini adalah masalahmu, seharusnya!"
Deg.
Jantungku berdegub kencang.
Apa maksudnya Ira?
"Maksudmu?"
"Nih, lihat!"
Aku memperhatikan layar ponsel milik Ira karena ia menyodorkan padaku.
"Apa ini? Foto apa, sih?" tanyaku karena tak dapat melihat jelas.
"Nih, nih... Lihat, Vi! Ini siapa, coba terka!?"
Kupicingkan mata ini. Berusaha menangkap gambar yang terlihat blur.
"Mas... Delan? Dengan... siapa perempuan ini? Dapat ini darimana, Ra?"
"Coba kau perhatikan baik-baik, Viona! Siapa perempuan yang 'gatal' memeluk suamimu dari belakang itu?"
Dadaku terasa sesak. Foto itu benar-benar membuatku shock, tapi aku berusaha menetralisir keadaan.
"Editan tuh!"
"Vi! Lihat dengan jelas, Vi!" tukas Ira kesal. Ia lagi-lagi menjejakkan telunjuknya ke arah layar ponselnya.
"Lihat, perhatikan baik-baik. Editan bukan?" tanyanya lagi masih bernada ketus.
Aku berusaha tersenyum.
__ADS_1
"Hei, kamu lupa ya siapa mas Delan? Apa kerjaannya? Hahaha... Kenapa jadi kebakaran jenggot gitu, Ra! Itu bisa jadi foto asli. Tapi untuk kebutuhan syuting."
Ira mengambil nafas panjangnya. Mendengus kesal karena aku tampak tak terprovokasi olehnya.
"Please, Vi! Kamu ini punya 'hati' gak sih?"
"Ya punyalah. Dan hatiku ini hanya tulus untuk mencintai suamiku seorang saja. Begitupun mas Delan sebaliknya!"
"Suamimu itu CEO, lho!?"
"Lalu?"
"Viona Yuliana! Hei... sadarlah!"
"Maksudmu apa, Ira Lupita? Hahaha ya aku sadarlah ini!"
"Oh my Gosh! Why you so stupid, Viona?"
Aku menatap serius wajah Ira yang terlihat tegang dan kukuh argumennya.
"Kamu ga mau khan suamimu diambil orang apalagi perempuan yang ada di foto itu? Itu... Lady you know?"
Kutarik hape Ira lagi. Mencoba menilik-nilik kebenaran yang ada di hape itu.
"Lakukan tindakan secepatnya! Jangan biarkan mereka menjadi lebih dekat. Japri si Lady, biar gak kegatelan itu peluk-peluk suamimu segala!"
"By the way ini foto dari siapa?" tanyaku penasaran.
Ira terdiam sesaat.
"Perlu aku jawab pertanyaanmu yang itu?"
"Ya iya dong! Bisa jadi ini dari musuh saingan perusahaan suamiku yang menginginkan perpecahan di antara kami. Dan aku juga ga akan gegabah sembarang marah-marah kalau informasinya gak jelas juga!"
"Dari... Kak Firman!"
"Kak Firman? Kontribusinya sebagai apa? Teman yang bermaksud baik dengan memberimu gambar foto ini? Atau dia ada di kubu lawan perusahaan mas Delan?"
Ira diam. Tak mampu lagi menjabarkan untuk melawan perkataanku yang tegas.
Aku faham sedikit dunia perusahaan. Semua orang saling tuduh saling serang demi untuk menjatuhkan lawan. Itu adalah jalan keras untuk mendapatkan tempat yang enak dalam satu pekerjaan.
Begitu pernah kudengar mas Delan bercerita di awal-awal pernikahan kami.
Kemungkinan mendapat serangan dengan berbagai cara adalah hal yang harus kita fahami.
__ADS_1
Jadi... ketika aku mendapatkan berita yang niatnya menjatuhkan suamiku, tentu saja aku harus kuat. Tidak main masuk hati dan menebar amarah. Bisa-bisa, aku sendiri yang oleng lalu si penyerang dengan mudahnya menggoyang kursi kami yang sudah enak dilahan basah.
Hhh...
"Kamu tidak percaya pada kebenaran foto ini, Vi?" tanya Ira memastikan diriku.
"Keterangan di foto ini tidak falid, Ra! Dan aku menolak mempercayai kebenarannya. Terlebih, Lady adalah salah satu artis talent perusahaan mas Delan. Wajar jika ada pose-pose mereka berdua!"
"Wajar katamu? Suamimu pose dirangkul dan digelendotin perempuan lain, itu hal lumrah bagimu?"
Ira menggelengkan kepalanya.
"Aku akan tanya mas Delan pulang kantor nanti!" tuturku berusaha mereda emosi jiwa Ira, sahabatku.
"Jangan cuma tanya, tapi selidiki hubungan mereka, Viona!"
"Ya ya! Asyiap bu Manager Ira Lupita!"
"Suwe! Aku malah diketawain kamu!"
"Hehehe... Maaf Ira, bukan begitu maksudku! Hanya... aku berusaha bijak menyikapinya. Kalau aku ikut terbakar panasnya api cemburu, lantas kumaki-maki suamiku yang selalu pulang pukul sepuluh malam itu. Tapi itu hanya gosip murahan. Fitnah belaka. Lalu suamiku marah, menceraikan aku... lantas aku harus bagaimana? Minta-minta maafnya, dibawah telapak kaki mas Delan gitu?"
Ira menelan salivanya. Menunduk lalu kembali menggeleng-geleng kepala.
"Ya Tuhaan... Hatimu ini terbuat dari apa, Viona! Kenapa sangat pengertian sekali dirimy, sedangkan aku justru sangat panas hati ini melihat si Lady menaruh buah dadanya seenak udelnya di atas punggung suamimu, Viona!"
"Ira... woles Ira! Aku juga cemburulah lihatnya! Tapi aku harus lihat realitanya juga. Bayangkan... lebih sadis lagi para aktris dan aktor yang berperan sebagai sepasang kekasih atau sepasang suami istri. Harus cut diulang berkali-kali dalam adegan hot semisal ciuman bibir. Coba bagaimana itu pendapatmu?"
Ira membelalakkan matanya.
"Ya begitulah dunia akting, Ira! Makanya aku gak pernah mau ikut mas Delan survey ke kantornya. Ya begitu itu! Hahaha... Aku dan mas Delan menghargai profesi kami masing-masing. Lagipula suamiku juga bukan artis, dia gak berlakon selingkuh seperti para artis itu. Dan soal Lady Navisha, dia khan artis... sudah terbiasa dia mungkin berpose seperti begitu!"
"Cih! Najis tralala gue liat foto mesumnya. Malesin banget!"
"Kamu blom liat ya, majalah dewasa yang ada foto vulgarnya?"
"Ya Tuhaan... No command lah aku kalo kayak begitu!"
"Hahaha..."
Aku tertawa lepas. Senang juga akhirnya sahabatku yang kini jadi manajer butik Mama Tasya itu kembali tersenyum meski masih terlihat kekesalannya.
Aku maklum. Mengingat dimasa lalu, Ira dan Lady memang tak pernah bisa akur. Keduanya selalu saling sindir dan saling menjauh satu sama lain.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1