
Fika segera menarik kebab yang ada di tangan Dirga. Sontak Dirga terkejut dan menangis keras.
"Maaf, Sayang! Ateh harus mengambil kebab ini! Kata Papa Diandra, Dirga alergi daging sapi. Dan kebab ini isinya daging sapi! Maaf, tante tidak mau Dirga sakit!"
"Dirga sudah makan dua potong, Tan!" sela Verrel membuat Fika menghela nafas.
Christian dan Mutia segera mendekati Fika. Mutia mengambilkan segelas air putih lalu diberikannya pada Dirga.
"Bagaimana nantinya ya? Haduh!" gumam Fika pelan. Merasa bersalah akhirnya membawa Dirga.
Chris langsung menghubungi Diandra. Tapi hapenya cukup lama tak ada sambungan.
Christian ingat kata terakhir dari Diandra. Bahwa dia sedang ada panggilan darurat.
Fika dan Mutia memberi minum Dirga segelas lagi. Mereka khawatir putra dari Diandra akan mengalami sesuatu yang tidak diinginkan.
"Apa ada sesuatu dikantong pakaian atau tas ransel Dirga? Coba periksa! Siapa tahu ada obat-obatan yang bisa mengurangi alergi Dirga nanti!" kata Chris.
Fika memeriksa kantong-kantong baju yang dipakai Dirga. Sedangkan Mutia membuka tas ransel Dirga. Ternyata nihil. Tak ada obat atau petunjuk lain yang bisa meringankan kecemasan semuanya.
Dirga belum bereaksi apa-apa. Hanya melongo melihat semua orang sibuk tertuju padanya.
"Dirga pusing? Sakit kepala? Sesak nafas?" tanya Fika cemas sekali.
"Apa tak sebaiknya kita ke dokter? Cari dokter terdekat di sekitar sini, sebelum gejala alergi Dirga muncul."
Fika dan Christian saling bertatapan.
Mereka gerak cepat membawa Dirga. Mencari dokter umum terdekat untuk minta obat penetral alergi yang akan timbul setelah Dirga makan kebab daging sapi.
Mutia tetap stay dirumah menjaga putra-putri mereka.
...○○○○○○...
Fika dan Chris bernafas lebih lega. Setidaknya dokter sudah memberikan injeksi epinefrin guna meminimalisir gatal-gatal serta gejala lain yang mulai timbul setelah beberapa jam.
Dirga memang agak sedikit berubah. Matanya menjadi merah dan hidungnya berair seperti pilek. Sesekali putra dokter Diandra itu juga batuk-batuk, membuat Fika semakin merasa bersalah membawa serta Dirga bersamanya.
Hhh... Pantas Dokter Diandra sangat protektif pada putranya dan terkesan lebay menanggapi kedekatannya pada sang putra. Ternyata, ini salah satunya. Fika hanya bisa bergumam dalam hati.
Dirga akhirnya tertidur pulas setelah meminum obat dari dokter yang menanganinya tadi.
Acara ulang tahun Verrel Velli jadi sedikit terganggu karena insiden alerginya Dirga. Namun akhirnya mereka kembali bergembira dan melanjutkan merias ruang tamu menjadi lebih indah dengan balon-balon dan tulisan happy birthday di dinding serta tirai kertas warna-warni.
Dirga juga sudah lebih baik. Dan kini ia sedang bergelayut manja di pangkuan Fika sambil tertawa-tawa menikmati kebersamaan dan juga celoteh lucu Dzakki serta Verrel dan Velli.
"Selamat ulang tahun, kami ucapkan. Selamat panjang umur, kita 'kan doakan. Selamat sejahtera sehat sentosa. Selamat panjang umur dan bahagia!"
"Tiup lilinnya, tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga. Sekarang juga!"
"Horeee...!!!"
__ADS_1
Sorak sorai kegembiraan akhirnya mencairkan suasana yang tadi sempat tegang.
Bahkan kini tawa canda keceriaan tergambar jelas diwajah-wajah polos anak-anak serta para dewasa.
"Dzakki mau nyumbang lagu, boleh?"
"Mau nyanyi apa, Dzakki?"
"Hm... lagu apa ya? Naik-naik ke puncak gunung deh! Soalnya sekarang kita ada di puncak gunung!"
"Anak pintar!" puji Christian.
Semua bersorak memberikan aplouse tepuk tangan pada Dzakki yang sudah berdiri di depan mereka semua.
"Balonku ada lima. Rupa-rupa warnanya,"
"Katanya naik-naik ke puncak gunung!?" protes Velli dengan suara imutnya.
"Dzakki tidak kuat naik ke puncak gunung, kak Velli! Nanti saja kalau sudah besar, baru Dzakki naik gunungnya!"
"Hahaha..."
Sontak semua tertawa.
"Anak ini bisa jadi komedian juga ternyata, hahaha...!"
"Dzakki lanjut nyanyi apa jangan, Mama Mutia?" tanya Dzakki dengan polosnya.
"Tadi Dzakki nyanyi sampai mana kak Verrel?"
"Sampai rupa-rupa warnanya!"
"Tapi balonnya sudah terbang semua, jadi mohon maaf... balon hijau gagal meletus ya!? Terima kasih! Selamat ulang tahun kak Verrel, kak Velli!"
Dzakki kembali duduk dengan polosnya. Tak dihiraukannya Fika dan Mutia yang terpingkal-pingkal melihat gaya kocak putra Viona itu.
Chris yang merekam siaran langsung gaya komediannya Dzakki ke semua channel media sosial miliknya.
Sontak hari itu juga nama Dzakki Boy Julian jadi viral karena keimutan dan kelucuannya.
Hingga sang Ayah yang sedang membuka medsos langsung berteriak heboh, memanggil istri tercinta yang ada di kamar mandi.
"Sayaang...Sayang, cepat sini!"
Tok tok tok
"Yang buka pintunya cepat!"
"Ada apa, ada apa, Mas?" Viona membuka pitu kamar mandi, masih dengan handuk pink melilit ditubuh mulusnya.
"Lihat nih, Dzakki kita!"
Keduanya monitor layar hape Roger. Dan seketika tertawa bahagia.
__ADS_1
"Ya ampun putraku! Bisa-bisanya dia melawak tanpa dibuat-buat! Hahaha..."
"Darimana dia punya ide joke macam itu ya? Hahaha...! Anakku hebat!" tutur Roger terbahak-bahak.
"Yang! Kangen Dzakki. Pingin peluk Dzakki!" rajukan Viona membuat Roger menatapnya penuh arti.
Segera didorongnya tubuh sang istri perlahan ke atas ranjang.
Dengan keisengan tingkat tinggi Roger menarik handuk yang melilit.
"Ayaaang! Ish Ayang mah! Aku pingin dipeluk Dzakki!" pekik Viona dengan wajah memerah. Malu dan suka bercampur menjadi satu dalam perasaannya.
"Berarti, menolak dipeluk aku nih? Mau cepat nyusul Dzakki gak?"
Viona tersenyum lebar.
Mereka benar-benar bersemangat sebagai pasangan pengantin baru yang sangat hot.
"Kita jalan malam, Yang?" tanya Viona dengan suara berbisik pada sang suami.
"Iya. Mau khan? Kita makan sate kiloan PSK di Puncak!" bisik Roger langsung dapat cubitan mesra sang istri.
"Seneng banget sih sama kata-kata PSK? Mentang-mentang novel favoritnya judulnya Miss Yety Bukan PSK Biasa!"
"Ssstt...! Aslinya aku gak suka PSK. Dan gak pernah main sama PSK. Hehehe... maaf Yang! Jangan salah persepsi ya?"
"Habis kata-katanya ambigu. Bikin aku jadi banyak fikir aneh-aneh!"
Cup.
"Kamulah segalanya bagiku. Tiada yang lain selain kamu!"
Woaaaa...!
Hati Viona hampir meledak. Wanita mana yang tidak bahagia dimanja dan disayang oleh pasangannya.
Dia merasa sangat beruntung memiliki suami seperti Roger.
"Mas!"
"Hm?"
"Jangan terlalu baik padaku!" bisiknya mulai merasa cemas.
"Kenapa, Yang?"
"Aku takut... terlalu bahagia! Takut Tuhan mengambil lagi kebahagiaanku ini!"
Roger merangkul tubuh istrinya. Lalu mengecup kening Viona dengan penuh kasih sayang.
"Doakan selalu suamimu ini, Sayang! Doakan segala kebaikan untukku. Jangan pernah putus, meski ada keraguan dan kecemasan dalam hatimu. Dan Tuhan tidak akan membiarkan doamu sia-sia. Percayalah! Ayo mandi lagi, biar kita bisa sholat Maghrib berjama'ah sebelum berangkat ke Puncak menyusul putra kita! Hehehe..."
Viona menunduk malu. Tangannya lagi-lagi mencubit pinggang sang suami. Hari ini dia sampai mandi tiga kali. Karena kelakuan suaminya yang menggemaskan.
__ADS_1
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...