
Hari berganti hari, minggu berubah minggu. Bulan pun kini silih berganti.
Aku yang tadinya bersikukuh hendak pergi dari dunia kehidupanku diseputaran klan Bambang Suherman, ternyata lain kenyataan.
Roger memohon, memintaku untuk tetap tinggal.
Pria psikopat itu kini mengubah haluan. Sikap ketus dan kasarnya padaku perlahan berubah. Bahkan kini ia mengatakan kalau kita ini adalah kerabat.
Ia menyayangi anakku setulus hati, aku bisa melihatnya itu. Dan kini ia juga bilang, kalau kak Jonathan pernah bercerita panjang lebar tentang aku ketika mereka di Singapura dan berharap aku tetap tinggal dirumah mendiang.
Katanya itu adalah amanah. Dan amanah adalah pesan keramat yang wajib dijalankan.
Putraku bahkan menerima banyak warisan dari almarhum kak Jo. Bahkan beberapa perusahaan yang nama 'Boy' disematkan pula sebagai tanda kalau perusahaan itu nantinya milik putraku Dzakki Boy Julian seutuhnya. Jika sudah berumur 17 tahun pastinya.
Dzakki juga menerima warisan dua buah villa yang berada di Seminyak dan Kuta. Membuatku gemetar juga pada akhirnya.
Bocah bayi berumur dua bulan itu mendadak jadi bayi milyader! Ck ck ck... Beruntungnya nasibmu, Nak!
Aku sendiri kini kembali menuntut ilmu. Tapi bukan melanjutkan S2 bagian Managemen Keuangan. Tetapi mengambil kelas psikologi dijurusan Psikologi.
Aku tertarik sekali mendalami kejiwaan seseorang. Mencoba menela'ah pola fikir manusia, memberi masukan saran serta membantu mengurangi beban mental psikologis seseorang. Itu tujuanku kini.
Walau statusku adalah ibu muda dari bayi berusia dua bulan, tapi tak ada salahnya juga... mengikuti saran dan nasehat dokter Lena agar aku melanjutkan kuliah.
Sayangnya anjuran dokter Lena mengambil kelas apoteker tidak serta merta kuturuti. Aku malah memilih kelas psikologi yang menurutku lebih menarik dan menantang.
Roger pun mendaftarkanku ke kampus swasta untuk kembali kuliah. Dan aku kini menyandang status sebagai mahasiswi lagi.
Hhh... Mahasiswi beranak satu.
............
Suatu ketika, sebelum ngampus... Roger meminta tolong padaku untuk mengambil dokumen penting di rumah kak Christian.
Dzakki habis divaksin imunisasi, jadi agak rewel. Roger tak ingin meninggalkan putraku disaat seperti itu.
Jujur aku senang, meski sedih... karena putraku disayang oleh pria yang bukan ayah kandungnya sendiri.
Mau tak mau akhirnya aku menerima permintaan tolong Roger, mengambil dokumen di rumah Kak Christian.
...♧♧♧♧♧♧...
Suasana rumahnya tampak sepi. Tapi pintu pagarnya sama sekali tak terkunci. Membuatku sedikit bingung, kenapa gerbang besarnya begitu ceroboh tanpa penjagaan dan pintu pagar dibiarkan terbuka.
Aku... melangkah masuk dengan takut-takut.
__ADS_1
Tapi tiba-tiba...
"Aku sudah bilang! Aku akan meminta cerai setelah anak-anak berusia setahun!!!"
Aku tersekat. Berhenti melangkah.
Suara kak Mutia!
Teriakkannya membuatku mengurungkan diri untuk melanjutkan langkah maju ke teras pintu rumah.
Tapi tiba-tiba... kak Mutia keluar rumah dengan membawa tas kopernya. Dengan pakaian rapi dan lengkap. Seperti orang yang hendak bepergian.
Dan tatapan mata kami berbenturan. Membuat kak Mutia gelagapan kikuk melihat kedatanganku yang tak dia prediksi.
"Melody! Please... jangan pergi!"
Kak Chris keluar dari rumahnya juga. Dan kami bertiga tampak kebingungan dengan saling bertatapan.
Aku yang kikuk, serba salah. Merasa seperti pengganggu di antara mereka berdua. Namun... sepertinya waktu kedatanganku kurang tepat.
"Aaaa maaaa..."
Terdengar tangisan nyaring dari dalam rumah megah kak Chris, membuat kak Mutia bimbang. Dan akhirnya kembali masuk kedalam rumahnya dengan tubuh berlari melesat.
Aku yang berdiri mematung, masih galau gegana. Hendak berbuat apa.
"Roger... menyuruh saya untuk ambil dokumen,"
"Oh iya... yang itu! Tunggu ya Vi, sebentar kuambilkan!" jawab kak Chris cepat-cepat masuk rumah.
Aku hanya berdiri di teras rumahnya. Menghela nafas pendek dan mengalihkan perhatianku pada tanaman hias yang begitu apik tertata rapi di setiap sudut terasnya.
"Ini, Vi!"
"Terima kasih, kak! Aku pamit ya?" kataku bergegas tergesa-gesa hendak segera pergi dari rumah kak Christian.
"Tunggu! Viona!... Bolehkah aku minta bantuan?"
Aku terpana mendapati permintaannya. Degdegan juga gugup, menerka apa yang kak Chris ingin bicarakan.
"Bisa mencoba menenangkan Melody?" tanyanya pelan.
Tatapannya terlihat mengiba. Ada riak kekhawatiran tergambar jelas di sana.
"Hm... tapi kalau kamu sibuk, tidak usah Vi! Tidak apa-apa. Silakan kamu lanjutkan aktivitasmu!"
__ADS_1
Aku memang mau berangkat kuliah. Tapi... urusan kak Chris juga penting. Karena dia juga kini kerabatku. Yang senantiasa membantu dan menyokong kehidupanku serta Dzakki. Tak ada salahnya aku bolos ngampus, lebih mementingkan permasalahan rumah tangganya dengan kak Mutia. Khawatir mereka benar-benar divorce. Sedangkan sikembar masih sangat membutuhkan Mama dan Papanya.
Aku mengangguk. Lalu perlahan memasuki rumahnya setelah menatap dan meminta izin lewat telepati pada sang empunya rumah yang mengangguk mengiyakanku untuk masuk pebih dulu.
Aku melihat kak Mutia tengah duduk di sofa sembari merangkul putrinya yang sedang menyusu.
Ah... aku jadi kangen putraku, Dzakki. Saat ini pasti dia sedang menyusu juga dipangkuan Roger!
"Kak Mutia! Boleh aku ikut duduk?" tanyaku berusaha selembut mungkin.
Mutia menatapku lembut. Dibibirnya tersungging senyuman manis.
"Mas Chris kah yang memintamu untuk menenangkanku?" tanyanya membuatku tersenyum malu.
"Kalian terlihat sangat cocok."
"Ya. Hanya terlihat di covernya saja. Tidak pada kenyataan di dalamnya, Viona!"
Aku tertegun. Diam tak melanjutkan ucapan.
Benar. Kita manusia lebih melihat covernya saja, tanpa mendalami dan melihat apa isi yang ada di dalamnya. Kita lebih suka men-judge, menghukum dan menghakimi tanpa mencoba melihat dari sisi yang lain... pada apa yang sebenarnya terjadi.
Hhh...
"Boleh aku menumpang tinggal di rumahmu?"
Aku mendongakkan wajah. Lalu tertawa kecil seraya berkata, "Bukan rumahku, Kak! Tapi rumah almarhum kak Jo. Hehehe... Tapi dengan senang hati aku menerima kakak jika berkenan."
Mutia menghela nafasnya. Seperti ada kelegaam yang ia hempaskan setelah mendengar jawabanku.
Putri kecilnya sudah terlelap setelah menghabiskan susu setengah botol. Dan dia menaruhnya perlahan sekali ke atas kursi sofa, agar sang putri tak terbangun tidurnya.
"Ayo!" bisiknya sambil menarik tanganku.
"Sekarang? Anak-anak?" tanyaku juga dengan berbisik.
Kak Mutia mengibaskan tangan kanannya. Seolah dia tak peduli dan berusaha mengabaikan perasaannya.
Mana mungkin dia tega meninggalkan kedua putra-putrinya yang lucu dan menggemaskan itu!
Kak Chris hanya bisa menatap istrinya yang menarik tanganku berjalan cepat.
"Kak, aku permisi pamit!" kataku pada kak Chris. Wajahnya terlihat lebih tenang. Tak setegang tadi. Sepertinya ia mempercayaiku. Dan lega karena kak Mutia ikut denganku.
Hhh...
__ADS_1
Rumit ternyata rumah tangga Chris dan Mutia.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...