PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 109 Kedatangan Herdilan Yang Menyebalkan


__ADS_3

Aku pulang ke rumah Ayah pukul sembilan malam dengan di antar kak Jo.


"Kenapa menolak menginap di rumahku? Bi Tini selalu menanyakanmu setiap kali aku pulang!"


"Maaf, Kak! Aku ingin di rumah saja malam ini."


"Kamu sendirian di sini. Siapa yang akan mengurusmu jika terjadi sesuatu, Viona?"


"Ada tante Widya, adiknya almarhumah Mama. Rumahnya tak jauh dari sini, Kak!"


"Hhh..."


Akhirnya kak Jonathan mengalah juga. Hembusan nafas kepasrahannya membuatku senyum penuh kemenangan.


Jujur jantung ini selalu berdebar kencang jika di dekat dia. Tak berani aku terus-terusan seperti ini. Takut colaps dan mati sia-sia.


Hhh...


Aku ikut menghela nafas. Namun lega.


Tadi kak Jo mengecup bibirku di hadapan kakak dan keponakannya. Aku bingung, gugup dan cemas juga.


Bagaimana pandangan orang kalau sampai di antara kami benar-benar ada hubungan?


Benar-benar hubungan yang sangat berani. Gila!


Aku menepuk-nepuk dahiku yang terasa nyut-nyutan setelah menutup pintu rumah dan menguncinya segera.


Kak Jo telah pergi. Terdengar suara mesin kendaraannya yang perlahan menghilang di aspal jalanan.


Tok tok tok


Aku terpaku sebentar, mendengar pintu di ketuk seseorang.


Tok tok tok tok


Kini lebih keras dan lebih cepat.


Tok tok tok tok


"Siapa?"

__ADS_1


Aku degdegan. Agak parno juga karena mengingat kejadian akhir-akhir ini.


Wartawan kah?


Tak ada jawaban membuat bulu kudukku sedikit meremang.


Hiks. Bukan setan atau orang jahat khan ya?!?


"Viona!... Viona!"


Suara seseorang membuatku membuka kembali slot serta anak kunci grendel pintu rumahku. Khawatir kak Jo kembali karena terjadi sesuatu di jalan.


"Herdilan?!?"


Aku terkejut ketika mantan suamiku langsung menyergap tubuhku hingga nyaris terjelembab.


Dari tubuh dan mulutnya tercium aroma alkohol yang menyengat.


Bajingan ini habis minum minuman keras rupanya!


"Pulanglah! Di sini bukan rumahmu!" hardikku seraya mendorongnya keluar.


Pintu rumah di dorong Delan ketika aku hendak kembali menguncinya.


"Pergilah! Di antara kita sudah tidak ada lagi hubungan!"


"Ada anakku dalam rahimmu! Hiks..."


"Pulang! Atau aku teriak biar orang-orang berdatangan!" ancamku kesal.


"Teriaklah! Aku tak peduli! Aku masih suamimu, Vio! Akulah lelakimu! Bukan Firman!"


Aku tersekat mendengar ocehannya yang tak jelas itu.


Rupanya kau cemburu pada kak Firman! Kenapa kau tetap memilih si model kurang bahan itu daripada aku? Andai kau langsung menceraikannya dan tetap mempertahankan aku, mungkin lain cerita. Mungkin aku akan punya pertimbangan mengingat kebaikanmu padaku selama satu tahun lebih berumah tangga.


Kutoyor kepalanya. Hampir Delan jatuh terlentang, namun kutarik segera pangkal lengannya hingga kami kembali nyaris pelukan.


Plak!


Kutampar pipinya agar ia sadar dari mabuknya. Namun hanya cengengesan sambil mengusap-usap pipinya yang memerah.

__ADS_1


"Tak apa pipiku kena tamparmu, asalkan kamu tetap menerimaku sebagai suamimu, Vi!"


Kali ini ku dorong tubuhnya. Tak lagi peduli mau jatuh atau tersungkur. Aku tak mau tahu lagi.


"Hik hik hiks... Aku pria paling bodoh sedunia, Vi!" katanya tiba-tiba menangis.


"Perempuan itu telah menipuku, Vi! Ternyata aku telah mengambil langkah yang salah. Hik hik hiks! Intan permata berharga telah kucampakkan demi sebongkah batu hitam yang di cat emas berkilauan."


Aku penasaran juga pada ocehannya yang tak karuan.


Nyesel khan lo? Nyesel khan?... Rasakan! Akhirnya kau sangat menyesal karena telah menduakan cintaku! Tak ada wanita seperti diriku, Delan! Meski kau bandingkan dengan sepuluh kali lipat yang seperti Lady Navisha!


"Viona! Maafkan aku, Vi! Demi bayi kita yang akan lahir beberapa bulan lagi!"


"Tidak!"


"Vi..."


"Tidak! Cerai ya cerai! Aku tidak ingin rujuk apalagi ketika kau masih bersama perempuan murahan itu!"


"Dia sudah pergi, Vi! Hik hik hiks... Dia menipuku selama ini. Dia... dia benar-benar penipu ulung! Penjahat kel*min! Hik hik hiks..."


Oalaa... Delan patah hati di tinggal pergi sang buaya betina! Ck ck ck... Rasakan kau kini!


Dug.


Kutendang pangkal paha Herdilan hingga ia terjelembab di depan pintu. Lalu aku segera menutup pintu rapat-rapat dan menguncinya.


Muak aku melihat gaya lemahnya yang menjijikkan. Herdilan mabuk karena si Lady pergi meninggalkannya. Sialan!!!


Kemarin-kemarin, ketika aku meninggalkannya, dia hanya marah sebentar saja. Dia hanya mengancamku dengan perkataan kejam menusuk perasaan. Tapi di tinggal si kunyuk itu, ia benar-benar down sampai mabuk-mabukan begini! Hhh... Dasar, sesama sampah memang mereka!


"Vionaaa!!! Vionaaa!!!"


Tak kuhiraukan Herdilan yang masih mengetuk-ngetuk pintu rumah Ayah Ibu.


Aku masuk kamarku yang di lantai atas. Menelpon pak RT setempat dan meminta dikirimkan hansip pengaman lingkungan agar membawa Delan keluar dari kompleks perumahan.


Lamat-lamat terdengar suara bajingan itu berteriak keras mengganggu keamanan warga sekitar.


Masih terdengar berisik, hingga tak lama kemudian suasana kembali sunyi.

__ADS_1


Besok saja aku minta tolong tante Widya untuk mengucapkan terima kasih pada pak RT dan pak Hansip! Sekarsng sudah pukul sepuluh malam. Dan aku ingin istirahat rebahan di kamar!


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2