PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 241 AKHIRNYA... BAHAGIA ITU UNTUKKU (Sesion 1 TAMAT)


__ADS_3

Ini adalah hari bahagiaku. Hari bersejarah dalam hidupku. Serta hari yang sangat kunantikan setelah sekian lama merasa hidup dalam duka nestapa.


Wajah tampan dihadapanku ini kini telah berstatus sebagai suamiku. Dan aku resmi menyandang gelar baru, sebagai Nyonya Roger Gibran Suherman.


Rasanya bagaikan mimpi.


Mimpi indah yang takut membuatku untuk terbangun dari kenyataan.


Kucubit tangan mas Roger keras-keras.


"Aduh, sakit! Kenapa pipiku dicubit pula, Yang?" pekiknya seraya bertanya dengan mimik wajah kesakitan.


Aku tertegun. Ternyata ini bukan mimpi!


Kucubit pipiku, juga dengan tenaga keras.


"Aduh!" Rasanya sakit sekali.


"Aih? Kenapa, Yang?" tanya mas Roger dengan mata menatap lekat ke indera penglihatanku.


"Kukira mimpi, Mas!" bisikku pelan.


Dia tertawa. Terdengar renyah sekali.


Lalu dia berbaring, tengkurap diatas ranjang pengantin kami yang bertabur kelopak bunga mawar merah dan putih. Kepalanya ditaruh diatas kedua belah tangannya.


"Jadi aku ini seperti mimpi menikahimu? Hm? Hm?..."



Aku tersipu malu. Kutundukkan kepala, berdebar jantung ini melihat tingkah unyunya.


Please... jangan bertingkah menggemaskan seperti itu, Mas!


"Ini malam pengantin kita!" bisiknya setelah bangkit dari mendekatkan kepalanya ke wajahku.


Sontak kututup wajahku dengan kedua telapak tangan. Malu dan gugup.


"Hayooo...! Jangan bilang kalau kita belum boleh tidur bersama!" ancamnya masih dengan suara bisikan yang lembut parah.


Haish, mas!


Mas Roger menghela nafas. Terdengar kelegaan dari hembusannya yang menggair*hkan jiwa.


Ia duduk disampingku. Tersenyum manis dan menarik jemari tanganku.


"Ayo kita keluar! Cuaca diluar seperti memanggilku untuk mengajakmu kencan!"


Aku terkejut.


Kukira dia akan langsung menarikku. Membuka seluruh baju yang kukenakan untuk melaksanakan kewajiban. Nyatanya...


Pukul satu malam. Suasana rumah mendiang kak Jo telah nampak sunyi. Penghuni yang lain termasuk putraku Dzakki, mama Tasya dan Ira serta suami yang sedang menginap pun sudah terlelap dalam mimpi masing-masing.


"Viona!"


"Ya?"


"Lihat bintang-bintang itu! Indah bukan?"


Aku memandang ke langit luas yang gelap. Terpukau oleh keindahannya yang jarang kunikmati, apalagi dimalam gelap sunyi seperti ini.


Mas Roger menaruh kepalanya dipundakku.



"Capek ya?" tanyaku pelan. Beberapa hari ini mas Rogerlah yang paling keras mengatur seluruh acara agar lancar jaya. Dia bersikukuh ingin melakukan semuanya seorang diri.


Aku senang, tapi khawatir. Fisiknya bisa lelah, tubuhnya bisa ambruk. Dan fikirannya pun pasti ikut capek.


"Untuk mendapatkanmu, semua terbayarkan!"


"Tetaplah disampingku, walau apapun yang terjadi ya?" katanya dengan suara yang terdengar sedih.


"Kenapa bilang begitu?"


"Aku takut menikah!"

__ADS_1


"Aih?"


Tentu saja aku kaget pada ucapan mas Roger yang terdengar insecure itu.


"Kenapa kamu takut, Mas?"


"Takut pada perceraian. Takut pada kenyataan kalau nanti aku tidak bisa menjadi suami yang sempurna. Takut mengecewakanmu. Takut tidak becus menjadi kepala keluarga!"


Kuusap pipi lembutnya.


"Aku juga takut. Sama sepertimu, Mas..."


Roger menatap mataku.


"Aku takut, karena aku pernah gagal. Aku takut, kamu tidak bisa menerimaku seutuhnya. Aku takut, khayalan indahmu memiliki istri tidak sesuai realita."


Mas Roger tersenyum. Ia mendekat dan...


Cup.


Dikecupnya bibir ini dengan sangat lembut.


"Mami, Ayah! Kenapa kalian di luar?"


Nyaris aku dan mas Roger melompat saking kagetnya.


Putraku Dzakki tengah berdiri di belakang kami dengan berkacak pinggang.


"Sayang? Kamu belum tidur?" tanya mas Roger langsung memangkunya.


"Kenapa bukan di kamar? Bukan bikin adik buat Dzakki?"


Uhuk uhuk...


Aku tersedak air ludahku sendiri. Mas Roger tertawa pelan mendengar celoteh Dzakki.


"Ayo, masuk! Ayo, cepat bikin adik buat Dzakki! Dzakki akan awasi Mami sama Ayah! Jangan sampai bohongi Dzakki dan menolak bikin adik!"


Ya ampun, Tuhan tolong! Dzakki kira membuat adik seperti membuat brownies kukus apa?! Dikocok, diaduk, dikukus dalam langseng. Hiks...


Mas Roger hanya tertawa-tawa.


Dzakki menyuruh kami naik ke atas ranjang. Lalu ia kembali ke pintu dan menutupnya.


"Ayo, bikin adik sekarang! Dzakki mau adik! Hik hik hiks... Dzakki mau ada saudara yang bisa jadi teman bermain di rumah. Yang menunggui Dzakki pulang sekolah. Dan menyambut setiap kali Dzakki pulang sekolah. Ayo...hik hik hiks!"


Ya Tuhan!!! Anakku Dzakki...polosnya kamu, Nak!


Mas Roger tertawa terbahak-bahak.


Dipeluknya Dzakki seraya mendudukkannya ditengah ranjang.


"Cup cup cup! Jangan menangis, Boy! Kalau mau jadi kakak ya tidak boleh cengeng! Khan tugas kakak itu berat. Harus bisa meredakan tangis adiknya kelak. Dzakki siap jadi kakak?"


"Iya. Siap, Ayah!"


"Oke. Sekarang Dzakki tidur di sini! Tunggui Ayah sama Mami bikin adik buat Dzakki!"


"Janji?"


"Janji!"


"Beneran?!"


"Iya, Sayang!" jawabku ikutan permainan mas Roger.


Kami bertiga rebahan di atas ranjang. Dengan Dzakki ditengah-tengah dan tangan kami berpegangan di atas tubuh mungil Dzakki.


"Ayo, jangan lupa doa tidur! Dzakki hafal?"


"Iya, Ayah! Bismillahirrohmanirrohiim... Bismika Allahumma ahya wa bismika amut!"


Putraku memejamkan matanya. Membuat aku dan Roger menahan tawa.


Cup


Cup

__ADS_1


Bibirku dan bibir mas Roger mengecup pipi putra kami dengan penuh kasih sayang.


"Yang!" bisik mas Roger setelah beberapa menit.


"Hm...?"


"Yang!"


"Iya, Mas?"


"Dzakki sudah tidur belum?"


"Hihihi... entahlah!"


"Hhh... Anak kita terlalu cerdas ya?!" gumamnya membuatku bangga dan bahagia.


Malam pertama kami tidur bertiga.


...⚘⚘⚘⚘⚘⚘...


Sementara di tempat yang berbeda, namun dengan pemandangan langit kelam yang sama. Herdilan Firlando tengah memandang bintang yang berkelip diangkasa sana.


Menarik nafasnya kuat-kuat.


Sesekali matanya melihat ke layar hape yang dipegangnya.


Sang Mama mengirimi video pernikahan Viona dan Roger tadi siang. Video yang membuat hatinya kembali teriris, meski tiada dendam di sana.


Terlihat wajah Viona yang manis tersenyum bahagia. Juga wajah sang putra yang ganteng dan keren, Dzakki Boy Julian. Senyum mereka seolah sebuah ledekan untuknya.


Untuk kebodohan dan ketololannya dimasa lalu. Menyia-nyiakan anak istri yang selalu mendukungnya sepenuh hati. Demi sebuah nafsu sesaat dan egois tinggi serta kebanggaan semu saja.


Ia yang tadinya begitu jumawa, mendapatkan dua cinta dari dua wanita yang berbeda. Yang begitu bangganya karena telah mendapatkan apa yang diidam-idamkan pria lain.


Justru menjadi bumerang bagi kehidupannya hingga kini.


Poligami bukanlah pilihan yang tepat untuknya. Terlebih dengan kurangnya ilmu pengetahuan agama serta ketidak-terbukaannya dirinya pada Viona. Semua justru menjadi biang kehancurannya.


Dulu ia sangat benci mengingat Mamanya adalah istri kedua Papanya.


Dulu ia sering illfeel melihat Papanya hanya berani mengenalkan Christian di khalayak umum sebagai putranya. Sedangkan dia tidak pernah diperkenalkan dan justru merasa disembunyikan.


Dulu sekali, ia sangat marah pada keadaan yang memposisikan dirinya dalam kondisi yang tak mengenakkan. Nyatanya kini dia justru melakukan kesalahan yang sama dengan sang Papa.


Hhh... Hingga akhirnya ia pun hancur. Nyaris berbarengan dengan kehancuran sang Papa pula.


Lalu, siapa yang harus disalahkan jika sudah begini? Padahal semua itu adalah imbas dari pilihannya yang salah. Dari perbuatannya sendiri yang akhirnya balasan harus ia terima.


Herdilan hanya bisa menghela nafas.


Kini ia berusaha berdoa untuk dirinya sendiri. Moga Tuhan memberinya kesempatan dengan mengirimkan jodoh untuknya memperbaiki diri.


Pembalasan Viona sebagai istri pertamanya dulu sangatlah epik. Meski orang cenderung menilai kalau pembalasan berdarah-darah adalah pembalasan yang sempurna, luar biasa.


Namun mereka salah.


Justru pembalasan yang keren itu adalah seperti yang Viona lakukan. Dia hidup bahagia, mendapatkan lagi pasangan yang sangat mencintainya. Juga anak yang selalu mendukung setiap saat. Sedangkan mantan suaminya kini hidup sendirian. Kesepian tanpa pasangan. Dan merana, merutuk, menyesali akan perbuatan bodohnya di masa lalu.


Sejatinya Dendam tak baik jika terus disimpan dalam hati.


Selayaknya Dendam tak boleh berlanjut bahkan sampai diturunkan ke anak cucu.


Janganlah mendendam terlalu dalam.


Meskipun kau terluka sangat parah, yakinlah... setiap perbuatan ada balasan.


Dan setiap tuaian akan dapatkan hasil.


Tuhan Maha Adil.


Tuhan Tidak Tidur.


Semua akan mendapatkan haknya sesuai kewajibannya.


Viona tanpa sadar telah berhasil melakukan Pembalasan Dendamnya sebagai Istri Pertama Herdilan Firlando.


Tawa ceria Viona bersama Roger serta Dzakki adalah yang terbaik.

__ADS_1


Tinggallah Herdilan yang merana dengan kesendiriannya sebagai hukuman yang Tuhan berikan padanya.


...❤❤❤TAMAT❤❤❤...


__ADS_2