PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 184 POV Christian Suherman


__ADS_3

Namaku adalah Christian Suherman.



Lahir 35 tahun yang lalu, sebagai anak pertama dari Bambang Suherman dan Tania Camila. Dengan dua orang adik lelaki serta perempuan bernama Roger Gibran Suherman dan Fika Olivia Suherman.


Tak ada yang tahu, kecuali Papaku kalau aku adalah anak indigo.


Aku terlahir dengan kelebihan melihat makhluk-makhluk astral sedari kecil.


Makhluk tanpa kepala, makhluk muka rata tanpa wajah, bahkan makhluk hitam tinggi besar dengan rambut panjang sampai menyapu jalanpun pernah mengikutiku.


Menjadi anak yang berkemampuan khusus sangatlah tidak menyenangkan.


Selalu ada momen-momen menyeramkan ketika sedang menikmati hari bersama teman maupun keluarga.


Setiap kali aku sedang mengobrol, bercanda dan bersenda gurau, selalu saja ada hal-hal ghaib yang membuat bibirku langsung membiru dan membiru.


Apalagi jika makhluk itu kemudian berhari-hari mengikutiku. Membuntuti langkahku setiap waktu karena mereka meminta bantuan dariku.


Itu sebabnya aku jadi anak yang sangat pendiam sedari kecil.


Setiap kali aku menjadi diriku sendiri dengan bersosialisasi pada orang lain baik itu teman sepantar atau siapapun itu, selalu ada makhluk lain ciptaan Tuhan yang mencoba mengalihkan perhatianku.


Bahkan ada yang sampai berhari-hari menangis dibawah jendelaku demi meminta tolong agar aku membantunya menemukan keluarganya.


Papa lah yang mengetahui keadaanku ketika usiaku tiga tahun. Kala itu, aku sedang bermain lego sendiri. Roger belum lahir. Dan Papa belum terjun ke dunia politik.


Aku seperti sedang ditemani banyak makhluk kecil berbagai bentuk. Dari yang botak tanpa rambut, sampai yang rambutnya memenuhi semua wajahnya ikut menemaniku. Membuatku hanya bisa menjerit-jerit takut dan risih.


Sambil berteriak mengusir mereka semua yang ingin ikut bermain denganku. Dan aku akan sangat senang jika azan berkumandang di mesjid. Karena mereka satu persatu menghilang ketika azan.


Papa yang saat itu duduk bersamaku, bingung melihat respon dan juga ketakutanku yang tak masuk akal. Hingga Papa menanyakan padaku, apakah ada yang menggangguku.

__ADS_1


Tiba-tiba salah seorang makhluk yang menjulurkan lidahnya padaku seraya berkata, "Papamu akan menjadi seorang politikus yang hebat beberapa tahun nanti!"


Aku hanyalah bocah berusia 3 tahun. Dan belum bisa bicara sedetil makhluk itu. Sampai sang makhluk memasuki ragaku untuk menyampaikan ucapannya pada Papa.


Aku, kerasukan makhluk itu. Berbicara banyak sekali pada Papa soal masa depannya di kancah politik. Entah apa yang makhluk itu ucapkan. Yang pasti setelah itu, Papa selalu membawaku ketempat-tempat keramat yang kata orang memiliki karomah.


Dari satu cenayang ke cenayang lain. Dari paranormal yang ini sampai paranormal yang itu, Papa membawaku serta menyambangi mereka satu persatu.


Hingga ada salah seorang dari mereka mengatakan kalau aku adalah anak yang bisa melihat hal-hal gaib.


Aku tak mengerti. Belum faham pada apa yang Papaku lakukan, selain menjadi buntut dan mengekornya kemanapun Papa pergi.


Setahun Papa wara-wiri sana sini ke orang pintar tanpa Mama ketahui. Hanya aku seorang yang sering Papa bawa.


Bahkan aku pernah mandi kembang tengah malam bersama Papa demi mengurangi diganggu makhluk-makhluk beda alam itu.


Umur lima tahun, Papa mulai berjaya. Beliau meninggalkan kota kelahiranku dan memulai kariernya di Ibukota.


Ternyata hasil pertapaannya tidak sia-sia.


Usia enam tahun, aku, Roger yang baru saja lahir dan juga Mama baru pindah ke Ibukota mengikuti Papa.


Karier Papa melesat secepat kilat. Perusahaannya perlahan mengembang membuat uang Papa semakin banyak.


Dari situ aku tahu, kalau Papaku ternyata percaya pada hal-hal mitos termasuk percaya pada setan yang pernah merasukiku diusiaku tiga tahun waktu itu. Yang mengatakan kalau ia akan berjaya di tahun sekian. Menjadi politikus terkenal, tersohor dan terakredibiltasi hidupnya.


Masa muda yang ceria memang membawa Papa menjadi pria humble yang banyak dikagumi orang akan pandangan-pandangannya.


Papa Bambang seorang idealis yang penuh ide-ide brilian dalam setiap langkah hidupnya.


Beliau sangat aktif mengeluarkan pendapat hingga beberapa orang sangat terbantu oleh pencerahannya.


Diusianya yang ke-30 tahun, Beliau pun menjadi seorang politikus di salah satu partai terbesar di Indonesia. Masuk ke parlemen di gedung terhormat sebagai anggota muda berprestasi. Semua karena dedikasi dan loyalitasnya. Juga kemampuannya berpolitik yang mumpuni.

__ADS_1


Berbekal kepercayaan diri serta satu kalimat dari setan yang menghasutnya, kalau ia akan ada di puncak kesuksesan di usia ke-40an sebagai orang yang disegani banyak orang.


Aku kecil belum tahu apa-apa. Hanya dibawa Papa kemana-mana sebagai salah satu penjaga kedigjayaannya. Kata Papa.


Ditambah lagi, Mama selalu tenang jika Papa membawaku serta sebagai pengingat kalau beliau telah berkeluarga.


Mama sebenarnya tidak suka Papa terjun kedunia politik. Karena Mama kata, politik itu kejam. Kecil jadi kawan, besar jadi lawan. Politik tidak bisa diprediksi. Begitu kata Mama.


Dan pastinya dalam politik selalu ada tumbal dan menumbalkan. Itu sudah jadi suatu keharusan sejak zaman dulu kala.


Setelah agak dewasa, aku pun mengakui kebenaran ucapan Mama.


Perlahan aku yang tumbuh besar dan bisa menghandle kemampuanku tanpa harus minta bantuan orang-orang kepercayaan Papa. Dan aku mulai mencari kesibukan lain selain terus menerus dituntun Papa sana-sini.


Tidurku tak pernah nyenyak. Selalu ada mimpi-mimpi jahat yang menghantui. Semua seolah menjadi firasat buruk bagiku dan keluarga.


Papa makin sibuk, bahkan super sibuk. Meski kami sama-sama berada di Ibukota dan tinggal di atap yang sama, namun Papa jarang sekali kami temui.


Aku seringkali memimpikan Papa yang dikelilingi banyak bidadari tapi berwajah pucat. Entahlah, maksud mimpiku itu apa. Karena perlahan aku berusaha keras mengabaikan kebisaanku dalam menilai sesuatu.


Makanya aku berusaha menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan hingga mengikuti segala even pertandingan dan juga lomba-lomba.


Roger seringkali sirik padaku karena memiliki banyak medali dari berbagai prestasi.


Papa Mama selalu memujiku sebagai putra sulung yang luar biasa multitalenta.


Sejak itu, Roger yang suka mengekorku pecah kongsi. Ia dan aku berpisah jalur. Di awal kami selalu sekolah bersama, les bersama sampai aktif mengikuti ilmu bela diri taekwondo pun bersama.


Sejak ia SMA dan aku jadi mahasiswa, kami tak lagi bersama. Bahkan Roger seolah enggan mengikuti jejakku dalam segala hal. Selalu protes kalau ia tak mau dibanding-bandingkan denganku.


Padahal, aku hanya ingin melindunginya dari cahaya gelap yang seringkali tertangkap mata batinku yang ingin menguasai diri Roger.


Aku juga melihat aura Mama perlahan berwarna suram dan pudar. Entah maksudnya apa.

__ADS_1


Ada beberapa kawan yang menyuruhku untuk mengasah kemampuanku soal ilmu kebatinan. Tapi aku tak mau. Tak tertarik dan takut tak bisa mengimbangi kehidupan nyata maupun mistis.


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2