
Memutuskan menikah bukan berarti akhir hidup akan bahagia selamanya. Happy ending forever. Nonsens!
Itu hanya ada didunia dongeng 1001 malam dan juga kisah putri-putri dongeng dibuku cerita anak-anak.
Seperti perjalanan Herdilan dan Kartika. Kini keduanya memutuskan menikah secepatnya. Dengan kurun waktu satu bulan, ternyata itu menjadi batu sandungan bagi keluarga Kartika Sari.
"Bagaimana mungkin menyiapkan pesta pernikahan dalam waktu sebulan? Putri Mama ini khan anak gadis! Masa' Mama buatkan sembarangan, asal-asalan!" keluh Mamanya pada Kartika.
Dihadapan Herdilan beliau memang mengiyakan saja. Menyetujui semua kata-kata pria yang berniat menikahi sang putri tanpa bertanya apalagi komplain ini itu karena ia sangat bahagia.
Tapi setelah Herdilan pergi, Ibu Fajar merenung dan banyak khayalannya yang sepertinya tidak akan terealisasi.
Bagaimana tidak, diotaknya terngiang halusinasinya menikahkan putri semata wayangnya dengan pesta besar-besaran.
Kartika adalah putri tunggalnya. Setelah dengan sangat susah akhirnya mereka bisa memiliki satu anak. Sudah semestinya Kartika ia besarkan dengan penuh cinta dan kasih sayang.
Kini diusia Kartika yang 30 tahun, seorang pria yang berstatus duda satu anak datang melamar. Tanpa ia tahu apakah uang mahar pria itu nantinya seberapa besar. Karena itu baru sekedar ucapan permintaan Herdilan secara pribadi kepada kedua orangtua Kartika.
Apalagi pria itu menginginkan ijab kabul dilaksanakan dalam waktu satu bulan.
Semua begitu tiba-tiba.
Bahkan tanpa persiapan dan juga pemberitahuan sebelumnya.
"Mama...! Please, jangan mempersulit diri sendiri!" ujar Kartika mengingatkan Mamanya.
"Nak, semua orangtua menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Bahkan dihari bersejarah putrinya, pasti ingin memberikan yang istimewa! Mama pun begitu. Nanti kamu baru ngerasain kalo udah jadi orangtua!"
"Tapi khan Mama selama ini selalu berharap Tika benar-benar akan menikah. Ada lelaki baik yang bertanggung jawab datang melamar dengan sikap gentlement seperti Abang Herdilan!" kata Kartika.
Mamanya menghela nafas.
"Tapi Mama blank ini..., belum ada persiapan!"
"Ya kita adakan sesuai keadaan aja, Ma! Sesuai budget dan isi kantong kita!"
"Mmm... Mama mau ke rumah bu Narsih! Mau pinjam arisan orang dulu buat modal kamu nikahan! Oiya... kayaknya mana cukup nikahan dengan uang 50 jutaan, Tik!? Haish... Apa Papa perpanjang pinjaman di bank ya?"
__ADS_1
"Mama! Tenang dulu, Ma! Biar nanti Tika obrolin dulu sama Abang Delan!"
"Obrolin apa? Masalah uang mahar? Janganlah! Jangan singgung masalah keuangan! Mama takut dia langsung mundur dan kabur gak jadi nikahin kamu kalo belum apa-apa sudah diajak diskusi soal keuangan!"
"Tapi Mama pusing mikirin ini itu! Ya sudah, nikah Tika secara sederhana saja. Ambil MUA yang murah meriah, ngundang kerabat, saudara terdekat saja. Yang penting sakral dan sah dimata agama dan hukum negara."
Mama Kartika merengkuh bahu anak gadisnya.
"Mama akan usahakan yang terbaik untuk anak Mama semata wayang ini!"
"Tapi Tika gak mau Mama sampai hutang sana-sini demi pesta pernikahan Tika!"
"Ini kewajiban Papa sama Mama. Memberikan kesan terindah sebelum kamu diboyong suami dan jadi tanggung jawabnya."
Kartika menghela nafas.
Mamanya sangat aktif kalau membicarakan kebahagiaannya. Apalagi ini adalah momen yang paling beliau tunggu-tunggu dalam hidupnya.
Putrinya akan menikah. Setelah sekian banyak orang mencibir mengatakan kalau putri cantiknya adalah perawan tua.
Kini ia ingin sekali menyumpal mulut orang-orang yang meremehkan putrinya dengan mengadakan pesta besar-besaran kalau putrinya itu bukan perawan tua dan menikah juga pada akhirnya.
"Kamu, melamar langsung Kartika pada kedua orangtuanya tadi? Terus... minta dinikahkan sebulan lagi?"
Christian terkejut mendengar penuturan Herdilan.
Roger dan Fika tertawa terbahak-bahak.
"Kukira kau cupu, ternyata kau suhu, Lan! Hahaha..." ledek Fika membuat merah wajah Herdilan Firlando.
"Lama menduda membuatmu langsung tembak dan pingin cepat-cepat bobol gawang lawan! Hahaha..."
Roger pun tak segan menggoda saudara tirinya itu yang makin merah bak kepiting rebus.
"Ya, si Tika juga sih...! Pake nanya serius gak mau ta'arufan! Aku... cuma mau membuktikan kalau aku laki-laki dewasa, Mas! Ya sudah, kujabani tantangannya untuk langsung lamar dan nikah satu bulan lagi."
"Ck ck ck...! Hahaha..."
__ADS_1
"Aku minta bantuan kalian semua! Please..."
"Ya sudah! Gampanglah itu! Berapa budgetmu, Lan? Sini..., biar Mbak yang urus!" tukas Mutia membuat Herdilan membungkuk hormat mengucapkan terima kasih.
"Terus respon nyokap bokapnya gimana itu? Setuju gak? Jangan main senang dulu, ga taunya lamaran ditolak! Frustasi berat kau nanti!" sela Fika memastikan keadaan Herdilan.
Hati kecilnya tak menginginkan saudara tirinya itu dalam kesusahan mendapatkan cinta.
"Aman, Fik! Orangtua Kartika menyetujui hubungan kami. Jadi, please... pending kepulangan kita. Aku mau lanjut usaha di Singapura setelah menikah!"
"Heleh! Jangan lupa itu kontrak-kontrak muralmu, ada berapa klien itu!"
"Aku akan merapikan dulu kerjaanku yang kadung kutandatangani minggu ini. Makanya kumohon, kita usahakan kosong jadwal di hari besarku!"
"Sip. Tapi kapan tanggal pastinya?"
"Makanya aku minta tolong minggu ini untuk Mas-Mas dan Mbak-Mbak semua membawa seserahan ke keluarga Kartika!"
"Acara Seserahan aku ga bisa ikutan! Sudah ada proyek minggu ini yang harus aku kerjakan. Mas Diandra juga ada kelas psikologi, dia!" sela Fika.
"Urusan seserahan, serahkan saja sama aku, kak Mutia juga Kak Tini!" timpal Viona membuat Herdilan berbinar.
"Yang! Kamu sudah masuk bulannya lho! Aku gak izinkan kamu ikut wara-wiri ke pasar, cari barang buat seserahan!" Roger menoleh ke arah sang istri yang sedari tadi hanya jadi pendengar setia saja.
Viona tersenyum lembut. Berusaha mengiringkan telepati lewat kedipan matanya pada sang suami.
"Aku gak ikut ke pasar, Mas! Cuma bantu bungkus-bungkus di rumah! Boleh, ya?"
"Oke, kalau cuma seperti itu!"
Herdilan mengangguk senang. Ia mengucapkan banyak terima kasih pada mantan istri serta saudara tirinya itu.
Bahagia hatinya, ternyata niat baiknya ingin menikah lagi mendapatkan banyak dukungan dari keluarga. Kini ia lega.
Hanya doa-doa terus selalu ia panjatkan dalam hati. Rumah tangganya kali ini tak ingin sampai kandas lagi.
Ia juga berjanji dalam hati, seberat apapun ujian hidup berumah tangga dan godaan lain dari luar nanti, akan ia minimalisir hingga dijauhi dari yang namanya perceraian.
__ADS_1
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...