
"Hai, Viona!"
"Kak Firman!?"
"Maaf ya,... akhir-akhir ini aku sering kerja di wilayah sekitar sini. Jadi suka mampir!" katanya lengkap dengan senyum manis.
"Hehehe...! Memangnya bisa sesantai ini ya, kerja di media?"
"Aku khan orang lapangan! Kerjaanku cari bahan dilapangan!"
"Hehehe...! Iya ya!" Aku tersenyum mengangguk. Begitulah jurnalis. Terlihat santai padahal otaknya mumet cari berita.
"Sedang apa?" tanya kak Firman.
"Kompor error nih?"
"Sini, aku bantu!"
Aku menyerahkan kompor gas satu tungku-ku yang agak mengkhawatirkan. Percikan apinya hanya keluar sebelah. Cukup membahayakan buatku ketika menggoreng sosis dagangan di teras rumah.
Kak Firman membuka kemejanya.
Kini yang terlihat adalah otot-otot tangannya yang perfect karena rajin nge-gym sepertinya.
"Kotor, Kak!?"
"Berani kotor khan bagus, kata iklan!"
"Hehehe..."
Ternyata, selain pintar menulis... Kak Firman juga pandai mengotak-ngatik alat-alat rumah tangga.
Dalam waktu sekejap, komporku kembali bisa menyala dengan sempurna.
"Wah, kereen..." pujiku dengan mata berbinar senang.
"Ada lagi gak yang mau direparasi? Mumpung aku masih ada waktu senggang ini!"
"Hahaha...! Ya ampun..., tukang servisnya ganteng maksimal!" ledekku membuat kak Firman menyeringai.
"Haish! Ganteng doang, tapi masih ditolak juga! Hiks... malang nian nasibku!"
__ADS_1
"Hehehe... kakak! Oiya sebentar...! Setrikaanku juga error kak! Boleh minta bantuan lagi?"
"Bawa sini, setrikaan... blenderan, mixer...atau kalau perlu meja kompormu di dapur biar ku cat ulang! Sepertinya aku lihat ada sisa cat ya, dekat pintu kamar mandi!"
"Hahaha... iya betul, Kak! Asiiik... tukang servisnya baik banget nih!"
"Sini cepetan, mumpung lagi baik!" kata kak Firman membuatku tertawa dan masuk rumah mengambil setrikaan, juga meja kompor kecil yang agak kusam warnanya. Lalu kembali mengambil cat kayu yang sisa setengah, bekas mengecat kusen dapur yang pudar warnanya di awal pindah.
Aku tersenyum memperhatikan kak Firman yang sibuk bekerja.
Segera berinisiatif membuatkannya lemon tea ice segelas besar dan sepiring bakwan sayuran yang dilengkapi cabai rawit segar.
"Wow wow wow...! Nona cantik pintar menawan hati abang 'kang servis'! Bisa betah ini 'kang servis' kerja di sini!" katanya dengan senyum lebar membuatku ikut tersenyum juga.
"Hehehe... Kang servis salah muji emak-emak hamil besarp! Salah sasaran, atau mungkin matanya katarak nih, kang servis ganteng!"
Kak Firman menatapku pura-pura marah. Ia melanjutkan pekerjaannya membetulkn setrikaanku.
"Coba minta steker!"
"Apa itu steker?"
"Colokan listrik. Biar kita tes, gimana sekarang!"
Aku hanya tersenyum malu melihat kak Firman menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal seraya menatapku pura-pura kesal.
Setrikaanku kembali berfungsi! Waah... keren juga si tamvan ini!
"Gimana? Aku oke khan?!?"
"Keren! Makasih banyak, kak! Ayo, minum dulu sambil ngemil!" ujarku seraya mengacungkan jari jempol padanya.
Kak Firman minum es teh lemon-nya. Makan sepotong bala-bala, lalu melanjutkan pekerjaannya.
Kak Firman kini beralih membuka tutup kaleng cat dan...
Kuprak...
Nyaris tumpah seluruh isinya ke atas tanah di pekarangan rumah.
Aku dan kak Firman spontan mengambil sisi kaleng yang oleng, hingga jemari kami saling berpegangan.
"Haish!..."
__ADS_1
"Maaf...!"
Aku dan dia sama-sama tersipu malu. Mirip sepasang remaja yang merona ketika mengambil suatu barang dalam waktu bersamaan.
Kak Firman melanjutkan mencat meja komporku. Catnya tampak berantakan hingga mengenai kaos singlet dan celana panjangnya.
"Ya ampun, Kak! Untuk kerjaan yang satu ini, nilainya aku kurangi karena sampai belepotan tuh ke baju-baju!" ledekku membuatnya tertawa.
"Hahaha... Iya juga ya?! Berarti kang servis ini gak lolos dong di babak penyisihan?"
"Hehehe...! Kang servis tetap ada di hati!"
"Walaupun hanya jadi kang servis, bukan jadi kang guru! Hiks..."
"Ya ampun... Hahaha, maaf kak! Jangan dimasukkan hati ya, candaan jahatku ini!"
"Ya. Kamu memang jahat! Bisa-bisanya selalu nolak aku! Nanti aku patah hati, cari ganti!"
"Itu yang terbaik, Kak! Aku senang kalau kakak bahagia."
Kak Firman tersenyum tipis. Ia makan sepotong lagi bakwan yang kusediakan sambil memberikan sedikit remahan pada seekor anak kucing yang datang menghampiri kami.
"Delan mengajakku pada sebuah persekongkolan!" katanya membuat mataku membulat.
"Lalu? Kakak sendiri bagaimana? Menerima tawarannya? Dan... apa yang ia pinta?"
"Hhh... Aku galau, Vi!"
Kutatap dalam diam keseluruhan visual kak Firman. Ia merebahkan tubuhnya ke sandaran kursi yang ada di teras dengan mata terpejam. Seperti sedang banyak fikiran. Dan aku tahu, itu bukanlah beban yang ringan.
"Mau dengar ceritaku?" tanyanya.
"Tentu. Jika kakak percaya aku!"
"Hhh..."
Aku menyiapkan mentalku untuk cerita kak Firman yang kuyakin benar-benar kerjaan jahat Herdilan.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1