
Keluarga Christian pindah rumah.
Mereka tinggal di rumah mendiang Jonathan Lordess untuk sementara atas permintaan Roger dan Viona.
Rumah mereka sedang dalam tahap penawaran. Ada seorang pengusaha yang tertarik dengan properti yang Christian miliki. Dan ingin memiliki rumah kenangan mereka.
Aset-aset milik saudara-saudaranya pun kini sedang tahap pelelangan.
Menjual properti tidak sama seperti menjual terasi. Selain harganya yang tinggi, juga butuh waktu serta hoki juga agar harga jualnya tidak sampai anjlok jatuh dari harga pasaran karena jual butuh agar cepat laku.
Sementara waktu yang diperlukan sudah semakin mepet. Tinggal dua hari lagi.
Membuat Christian ketar-ketir dan Mutia dilanda kegelisahan.
Memang uang tunai yang terkumpul sudah lebih dari separuhnya. Namun untuk mencapai nominal yang ditentukan, masih lumayan jauh.
Mutia merapikan kemeja yang suaminya pakai. Ia degdegan sekaligus cemas. Ini pertemuan sang suami dengan para pemegang saham.
Antara harus kehilangan perusahaan, atau kehilangan aset-aset... keduanya pilihan yang menegangkan.
Pak Yosef juga terlihat bersikukuh pada pendiriannya yang keras. Membuat Sang Suami kewalahan menangani kasus tender yang gagal kali ini.
"Jangan putus-putus, selalu doakan aku ya, Yang!?" pinta Chris pada Mutia.
Mutia langsung mengangguk. Meskipun hatinya gamang, tapi ia tak ingin membuat suaminya lebih frustasi lagi.
Setelah Chris berangkat kerja dengan doa-doa dan juga lambaian tangannya. Mutia masuk kembali ke dalam kamarnya.
Putra-putrinya sudah berangkat sekolah diantar Kenken bersama Dzakki juga.
Ada hikmah dari kepindahan mereka ke rumah ini. Anak-anak justru semakin senang karena mereka satu rumah dengan si imut Dzakki. Bahkan mereka juga meminta untuk pindah sekolah di sekolah yang sama dengan putra Viona itu.
Tapi Chris memberi pengertian. Akan rumit mengurus kepindahan sekolah karena mereka sudah kelas tiga dan juga sebentar lain ulangan semester kenaikan kelas.
Verrel dan Velli pun mengerti penjelasan yang Papanya berikan.
Mutia mengambil wudhu, melaksanakan sholat Dhuha. Banyak doa dan harapan yang ia panjatkan. Intinya meminta keberkahan Tuhan agar memberinya dan suami kelancaran pada semua urusan. Permasalahan yang Chris tengah hadapi, bisa selesai dengan segera.
Viona sendiri masih di dalam kamarnya. Juga melakukan hal yang sama dengan kakak iparnya. Sholat sunah di pagi hari.
Kandungan Viona sudah memasuki usia enam bulan. Tinggal beberapa bulan lagi. Bayi yang diprediksi laki-laki itu akan hadir kedunia mengisi kesehariannya bersama Roger serta Dzakki.
Rumah yang mereka tempatipun kini terasa ramai menyenangkan. Karena ada Si Kembar Verrel dan Velli yang membuat Dzakki semakin suka.
__ADS_1
Fika dan Diandra sudah kembali ke Singapura dengan penerbangan pagi hari tadi. Mereka juga turut membantu menghibahkan rumah Diandra untuk dijual.
Jika semua uang terkumpul dan digabungkan, hasilnya cukup untuk mengganti tender gagal perusahaan Christian.
Dalam usaha bisnis, gagal adalah suatu kata yang lumrah. Bahkan ada beberapa pengusaha yang gulung tikar berkali-kali dalam membangun kerajaan bisnisnya.
Kalau tidak untung, sudah pasti rugi. Begitulah kata sakti para pengusaha.
.............
"Maaf, Pak Chris! Anda harus segera merapikan dokumen-dokumen penting yang Anda miliki. Karena besok lusa, pak Yosef akan menempati ruangan ini sebagai kantor eksekutifnya."
"Masih ada waktu dua hari lagi. Sesuai kesepakatan! Jika saya belum bisa membayar ganti rugi atas tender yang gagal, saya pastikan perusahaan ini saya lepas. Jadi, Anda tidak perlu mengintimidasi saya! Ini masih kantor perusahaan saya! Jadi saya masih berhak meminta Anda untuk segera meninggalkan gedung ini, sekarang juga. Karena Anda bukan karyawan perusahaan ini dan tidak berkepentingan untuk ada di wilayah ini!"
"Ck ck ck... sombong sekali kau, Chris!"
Kaki tangan dari pak Yosef ternyata adalah Fahrurrozi. Teman sekaligus rivalnya dimasa sekolah dulu.
Tak disangka, rupanya semua ini terjadi karena adanya campur tangan orang itu juga.
Chris kini mengerti. Mengapa sampai bisa melakukan kesalahan padahal ia selalu meminimalisir apapun dalam setiap langkah.
Rupanya, Fahrurrozi sudah cukup lama mengintainya. Dan diam-diam dia juga menyusupi mata-mata ke dalam perusahaannya.
...○○○○○...
"Masih belum ada kabar, Mas?"
"Menjual properti itu tidak semudah yang dibayangkan, Ger! Temanku bahkan sampai menunggu bertahun-tahun rumahnya baru laku terjual!"
"Hhh..."
Roger tak bisa berkata apa-apa lagi.
Ia semalam mengobrol banyak dengan Dzakki sang putra. Berbicara dari hati ke hati perihal kejadian kesalahfahaman antara dirinya dan Dzakki.
Dzakki sudah kembali seperti sedia kala. Bahkan kini lebih manis dan manja pada dirinya. Hingga mandi pagi pun ingin diantar oleh Roger.
Ada satu ucapan Dzakki yang membuat Roger termenung. Kalau ia tak boleh meninggalkan papa Chris yang sedang mendapat cobaan berat. Tentu saja hal itu menjadi bahan pemikiran Roger terus menerus.
Kemungkinan Chris kehilangan perusahaan sepertinya akan ada di depan mata.
Dan... ia takut sekali kalau sang Kakak yang sudah begitu berjuang selama ini membangun kerajaan bisnis tradingnya harus jatuh terhempas karena satu masalah.
__ADS_1
Chris sudah lama berkecimpung di dunia bisnis.
Bahkan Chris yang juga melanjutkan perusahaan sang Papa dengan meleburkan dua perusahaan menjadi satu adalah ide tunggalnya tanpa diskusi pada Roger dan Fika.
Roger faham, Chris anak tertua. Dan Chris lebih mengerti dunia perbisnisan ketimbang dirinya juga Fika.
Namun beginilah resikonya jika digabungkan. Perusahaan benar-benar diambang kehancuran. Dan Roger juga tak bisa menyalahkan kakaknya itu sepenuhnya.
"Mas...! Kalau kamu butuh teman bicara,... hubungi aku! Jangan pernah sungkan, ya!?"
Chris mengangguk.
Roger hanya bisa memberikan kata penghiburan pada sang Kakak sebelum ia pergi ke kampus tempatnya bekerja.
Ia hanya bisa memberinya support agar bisa melewati cobaan ini dengan ketenangan seperti biasanya.
Semakin tinggi pohon itu tumbuh menjulang, semakin banyak pula angin yang menerpanya di atas sana. Begitulah pribahasa mengatakan.
Roger berharap sang Kakak selalu bisa mengatasi angin-angin yang berhembus menerpa kejayaannya.
............
"Khaila! Bagaimana?" tanya seseorang pada putri tunggal sang pemilik PT Eagles King itu.
Wanita itu mengangkat bahu. Tak mengeluarkan sepatah kata pun.
"Jangan menyerah! Aku akan membantumu dengan menyerang Christian dari arah lain!"
"Sudahlah, Bang! Khaila gak mau bicarakan itu lagi!"
"Hei, hei...! Jangan patah semangat! Kamu bisa mendapatkan Christian! Tinggal selangkah lagi! Dan Chris ada dalam genggamanmu!"
"Tidak semudah itu, Bang! Aku... ditolak Mas Chris!"
"Dia menolakmu sekarang, tapi nanti... dia akan mengejar-ngejarmu!"
"Hhh... Aku pesimis!"
"Jangan! Jangan sampai kamu patah arang hanya karena penolakannya! Aku, Fahrurrozi... akan selalu mendukungmu! Ingat itu!"
Begitulah. Jika dalam hidup kita ada lalat yang selalu mengganggu. Merusak ketenangan dengan dengungan yang memusingkan. Terlebih jika si lalat kotor itu sudah menjilat dan mencicipi makanan yang kita makan. Siap-siaplah sakit perut kemudian.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1