
"Selamat malam! Pak Christian-nya ada?" tanya Herdilan setelah seseorang membukakan pintu pagar rumah besar yang ia sambangi.
Setelsh menekan tombol bel dan menunggu beberapa saat. Sang asisten rumah tangga pemilik rumah membukakan pintu pagarnya.
"Ada. Maaf, dengan Mas siapa? Nanti saya sampaikan langsung pada beliau!"
Sang asistennya masih muda. Sekitar dua puluh tahunan usianya. Namun tutur bahasanya terkesan seperti seseorang terpelajar.
"Saya Herdilan. Tadi siang sudah chat kak Christian dan bilang mau datang ke sini malam ini!"
"Oh... Baiklah. Silakan masuk, Mas Herdilan! Saya panggilkan Pak Chrisnya dulu di dalam!"
Herdilan mengangguk sopan.
Kini ia berada di teras rumah kakak tirinya yang beda ibu itu.
Christian membuka pintu rumahnya. Menatap wajah Delan dengan seksama. Menerima jabatan tangan sang adik lalu mempersilakannya duduk.
"Mas Chris...! Apa kabar?"
"Baik. Kabarmu?"
"Alhamdulillah, baik juga."
"Syukurlah!"
Keduanya terlihat canggung. Baik Delan maupun Christian sama-sama merasa tak nyaman satu sama lain untuk memulai suatu obrolan.
"Mas..., maksud kedatanganku kesini...mmm,"
__ADS_1
Christian menatap serius wajah adiknya.
Namun tiba-tiba asisten yang tadi membukakan pintu datang membawa nampan berisi minuman dan juga camilan.
"Pak..., Ibu kata... mengobrolnya di dalam saja!"
"Tidak usah, tidak apa-apa Mas! Di sini justru lebih rileks daripada di dalam rumah!" Spontan Herdilan menjawab.
Christian hanya mengangguk saja. Tak mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya.
"Kamu pasti kesini karena ada tujuan penting!" ujar Chris kembali membuka obrolan serius.
"Iya, Mas!"
"Katakanlah, apa maksudmu!?"
"Mas...! Aku minta tolong, cabutlah tuntutanmu pada Mamaku!"
"Atas dasar kemanusiaan, Mas! Mamaku... sekarang sakit. Jiwanya terguncang! Kumohon kebaikan hatimu untuk Mama Tasya! Aku yakin, Mas adalah orang baik!"
"Hhh... Bukankah setimpal? Mamaku masuk liang lahat, mamamu masuk penjara. Dan kini Papa kita juga ada di sel tahanan. Impas bukan?"
"Mas..."
"Kenapa? Kamu menyayangi Mamamu. Aku pun begitu. Kita berada di posisi yang sama! Saat ini Pihak Berwajib sedang menginterogasi aku juga saudara-saudaraku yang lain mengenai kasus Papa. Kurasa tak ada salahnya aku mengingatkanmu untuk hati-hati. Karena pastinya kepolisian tidaklah bodoh untuk mengetahui mana yang pencucian uang mana yang tidak! Kau harus lebih waspada dari pada mengasihani Mamamu sendiri. Itu lebih penting, karena khawatir Mamamu keluar dari penjara akan lebih stres lagi karena hartanya disita kejaksaan negeri!"
Delan termangu. Ia menelan saliva berkali-kali hingga jakunnya ikut turun naik.
Gugup, grogi dan cemas. Itu yang kini bergejolak dalam dadanya.
__ADS_1
"Mas...! Aku hanya minta ketulusan hati untuk Mamaku saja. Aku tak peduli hartaku disita negara. Yang kupedulikan hanya Mama, Mas! Aku tak punya siapa-siapa selain dia. Bahkan sodara ataupun pasangan,... semua telah pergi meninggalkanku, Mas! Hik hik hiks..."
"Hhh... Anak yang berbakti! Tunggu saja di persidangan dua minggu kedepan. Aku sudah tidak ingin membalaskan lagi dendam ini pada Mamamu. Biarlah Tuhan Yang Membalas. Tapi urusan kasus yang sudah jadi urusan pihak kepolisian,... aku tak bisa lagi mengaturnya. Kini semua sudah jadi urusan polisi! Maafkan aku Herdilan Firlando!"
Delan menangis. Sesak dadanya, lobinya sia-sia.
Christian tak bergeming untuk menarik kasus yang dituduhkan pada Mama Tasya. Otomatis semua akan terbuka di pengadilan nantinya.
Apakah sang Mama bersalah atau tidak, semua adalah urusan sidang.
Mutia Permata keluar dengan membawa seorang bayi tampan. Lalu tersenyum mengangguk pada Delan serta memberikan bayi itu pada Christian.
Hidupnya terlihat sempurna! Walaupun sebenarnya tidak seperti yang terlihat. Istrinya pun hasil dia rebut dari si Firman! Hhh... Tuhan pasti akan memberimu karma, sebentar lagi, Christian! Tunggu saja, pembalasanku! Sialnya si Firman malah mati sebelum membalaskan dendamnya terlebih dulu. Pria bodoh! Malah menolak ajakanku untuk kerja sama menghancurkan pria arogan ini!
Hati kecil Herdilan dongkol kesal.
Hanya makian dan cacian yang kini memenuhi relung hatinya.
Kesal karena Christian tak menggubris permohonannya untuk sang Mama.
Mamanya masuk liang lahat, masa' mamaku juga! Seenaknya dia memberi balasan. Sedang Tuhan pun Maha Pemaaf!
Begitulah Herdilan.
Manusia egois yang tak punya malu lagi.
Ia justru memaki dan menyalahkan Christian. Bukan berfikir ulang atas semua perbuatannya juga perbuatan sang Mama. Justru berfikir orang lain begitu kejam memperlakukan dirinya serta mama Tasya. Tidak merasa malu dan bersalah karena membuat Mama Christian sakit hingga meninggal dunia.
Betapa mirisnya manusia-manusia kini!
__ADS_1
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...