
Di RSUD, Kartika perlahan mulai kembali belajar berjalan.
Kakinya semakin membaik, seiring menguatnya sensor motorik syaraf kaki Bu Guru cantik wali murid kelas Dzakki Boy Julian.
"Mama, ada yang ingin Kartika sampaikan sama Mama!"
"Apa, Nak?"
"Tika,... punya feeling ga enak sama bu Jamilah!"
"Kenapa? Bu Jamilah khan sayang banget sama kamu. Setiap hari dia ngirimin bekal makan untuk makan siang Tika di tempat mengajar. Dan bu Jamilah selalu lakukan itu, tanpa kenal lelah. Dia benar-benar menganggap Tika seperti anaknya sendiri!"
"Mama...! Apa Mama percaya sepenuhnya kalau bu Jamilah tulus sayang sama Tika?"
"Bu Jamilah baik. Bahkan sejak Tika SMA kelas 3 sampai sekarang. Tika pasti ga akan lupa pada kebaikannya bukan? 13 tahun, bukan waktu sebentar, Nak! Kalau bu Jamilah tidak tulus, pasti tidak akan terus menerus mengirimimu makanan, Sayang!"
Kartika diam.
Ia bingung juga untuk menjelaskan pada sang Mama. Secara logika memang benar, semua ucapan Mama tiada yang salah.
Namun kini setelah ia mengalami kejadian demi kejadian yang aneh tapi nyata, membuat Kartika semakin menyadari kejanggalan yang menghalangi keberuntungan hidupnya dalam asmara atau mencari cinta.
"Tika ingin mengundang keluarga Dzakki termasuk Omnya tempo hari itu."
"Yang kemarin bersama Dzakki? Yang pernah menolongmu waktu kecopetan?"
"Yang satu lagi, Ma! Ada, Omnya Dzakki... yang mengobrol dengan Tika ketika Dzakki pingsan di ruang UKS dan darah keluar dari mulutnya sampai akhirnya pak Kepsek membawanya ke rumah sakit ini juga waktu itu?"
"Kapan kejadiannya?"
"Belum lama ini, sekitar seminggu yang lalu! Mama tahu, Omnya Dzakki bilang apa?"
"Apa?"
"Omnya bilang, Dzakki itu memiliki indera keenam. Dzakki melihat Tika dalam genggaman makhluk yang membuat jodoh Tika terhalang."
Mama Tika melongo, terdiam dan hanya membisu.
"Dia bahkan menyarankan Tika untuk minta bantuan ustad atau Kiyai. Saat itu Tika agak marah, ucapannya sedikit memojokkan kalau Tikalah yang membuat Dzakki jadi mengalami kejadian menegangkan. Jujur, Tika juga takut, Ma! Tika bahkan ikut dengar dan lihat sendiri suara-suara intimidasi yang menyeramkan. Beneran, Ma!"
"Kita... harus ketemu mereka!" kata Mama Kartika dengan suara tersekat.
Urusan membicarakan jodoh anaknya, adalah hal yang sensitif bagi Mama Kartika Sari.
Bahkan beliau pernah saling debat dengan teman arisannya yang mengatakan kalau putrinya bisa masuk kategori perawan tua.
__ADS_1
Alhasil mereka ribut kata-kata. Ujung-ujungnya, Mama Kartika keluar dari perkumpulan arisan ibu-ibu Majelis Taklim tempatnya mengaji karena sakit hati.
Ibu mana yang tak sedih mendengar anaknya mendapat julukan perawan tua, hanya karena diusia dewasa 29 tahun belum juga menikah.
Bahkan anak temannya saja yang umurnya 26 tahun sudah punya anak dua. Tentu saja Mama Kartika merasa risih juga meski tak berani mengatakan terang-terangan meminta putri tunggalnya untuk segera melepas masa lajang.
Karena memang belum ada pria yang serius ingin meminang putri cantiknya itu.
Padahal banyak yang ingin menjodohkannya. Ingin berkenalan dan mereka bahkan beberapa kali datang ke rumah mereka untuk mengenal Kartika lebih dekat.
Namun semua hanya PHP saja. Setelah tiga kali pertemuan, hampir semuanya mundur, menghilang satu persatu padahal Kartika sama sekali tak berbuat salah apalagi berkelakuan minus.
Kartika sendiri sangat ingin bertemu lagi dengan Dzakki dan keluarganya. Saat ini ia masih dirawat di Rumah Sakit. Belum bisa mengajar karena kondisi kakinya yang masih belum bisa berjalan.
Tapi dokter memberi kabar dan harapan, kalau kelumpuhannya masih bisa diobati. Dengan rutin melakukan terapi syaraf kaki.
Kartika sendiri sudah mulai jenuh dan tak betah berlama-lama opname di rumah sakit. Ingin segera kembali pulang dan sehat serta kembali bisa beraktifitas mengajar lagi.
Titik-titik airmata merembes membasahi pipinya yang kini nampak tirus dan lusuh.
Kartika kembali down hatinya.
Lelah serta ingin segera pulih.
Kartika memberanikan diri berinisiatif menelpon Maminya Dzakki yang memang nomor handphonenya terdaftar di grup kelas.
Ia menanyakan kabar Dzakki pada Viona. Berharap mendapatkan pencerahan setelah menghubungi Mami dari muridnya itu.
Ternyata Kartika tidak dapat berbincang langsung dengan Dzakki karena sedang general check up di RS yang berbeda dengan rumah sakit tempat Kartika dirawat.
"Kenapa, Sayang?" tanya Sang Mama setelah Kartika selesai berbicara dengan Viona.
"Dzakkinya ga ada, Ma! Sedang di rumah sakit juga, general check up. Mungkin lusa baru bisa Kartika hubungi lagi!" jawab Kartika lesu.
"Sabar ya? Mungkin saat ini adalah ujian kesabaran bagi kamu dan juga Mama!"
"Iya, Ma! Tika juga berfikir seperti itu. Selama ini hidup Tika selalu bahagia dan baik-baik saja. Kehidupan Tika, karier juga, semua begitu lancar tanpa hambatan. Mungkin sekarang Allah sedang menguji Tika ya, Ma!"
Mamanya mengangguk. Mengelus-elus punggung sang putri yang kini nampak kurus.
Hatinya sebenarnya sangat sedih sekali. Melihat kenyataan sang putri yang kini sedang dalam keadaan mengkhawatirkan.
Selain jodoh yang tak kunjung datang, kini Kartika juga mengalami penyakit yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
...........
__ADS_1
"Bu Guru!!!"
Roger kaget, tiba-tiba Dzakki terbangun dari tidur sambil berteriak keras memanggil bu Guru.
Dzakki saat ini memang sedang melakukan general check up setelah tiga hari sempat tertunda karena kejadian yang menimpa sang Mami. Kini ia tengah menunggu dokter yang menangani untuk tindakan rontgen, setelah cek darah dan juga beberapa test medical check up.
Roger hanya menghela nafas.
"Dzakki hanya mimpi!" katanya berusaha menenangkan Dzakki.
"Bu Guru ingin sekali bertemu Dzakki, Ayah!"
"Dzakki saat ini sedang berobat. Bu Guru juga sudah ditangani dokter yang lebih mengerti tentang penyakitnya. Dzakki jangan terlalu banyak fikiran. Ingat, peristiwa yang terakhir terjadi. Bahkan sampai nyaris mencelakai Mami dan adek bayi!"
Ucapan Roger membuat Dzakki terdiam. Kembali mengingat peristiwa menegangkan yang sempat membuat janin Maminya menghilang selama tiga puluh menit. Dan membuat panik semua orang.
Viona yang baru kembali dari kantin rumah sakit membeli minuman dan cemilan untuk mereka bertiga datang dengan senyuman manis.
"Ini susu ultra coklat yang Dzakki pesan! Ini, roti sobek untuk Ayah, ini macarons punya Mami. Hehehe..."
"Terima kasih, Mami!"
Roger dan Dzakki mengucapkan terima kasih berbarengan.
"Oh iya, Dzakki dapat salam dari bu Guru Kartika! Katanya semoga Dzakki cepat sembuh."
"Bu Guru memangnya bertemu Mami?"
"Bu Guru menelpon Mami barusan sewaktu di kantin. Rencananya lusa bu guru juga pulang ke rumah dari rumah sakit."
"Oh, begitu ya Mi!?!"
Roger hanya bisa diam mendengar obrolan istri dan anaknya yang begitu santai sampai lupakan peristiwa yang sempat terjadi akibat kedekatan Dzakki dengan ibu Gurunya itu.
Membuat Roger hanya bisa mengusap wajahnya yang tampak lelah.
Dzakki menyadari kalau sang Ayah agak kecewa dengan sikapnya. Ia memeluk tangan Roger. Menciumi punggung lengan sang Ayah.
Hanya tatapan penuh arti mengandung kata maaf, Dzakki haturkan lewat telepati. Dan Roger hanya bisa menghela nafas. Pasrah, pada semua ketentuan Tuhan saja.
Viona yang memang sedikit lemot, lupa kalau ia bertingkah seolah mendekatkan Dzakki dengan ibu gurunya adalah hal yang sewajarnya padahal peristiwa besar sempat menghancurkan perasaan mereka yang nyaris kehilangan janin dalam rahimnya.
Hhh...
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1