PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 49 Amarahku Apakah Berlebihan?


__ADS_3

"Hm... gitu ya? Berarti kedudukanku cukup sejajar dong dengan kamu di mata mas Delan ya, Vi!"


Aku sangat tak menyangka, jika Lady Navisha seberani ini bahkan merangkul bahuku erat seraya mengedipkan satu kelopak matanya yang lentik karena bulu tanam.


As*. Lady... Beraninya kamu menggoda suamiku di depan mataku sendiri!


"Lady, maaf... Kamu sudah tak ada keperluan lagi khan di sini? Boleh tidak aku memintamu undur diri? Ini adalah ranah keluarga pribadiku. Kumohon... maafkan jika permintaanku supaya kamu meninggalkan rumahku dianggap kurang sopan! Kamu bisa pergi segera setelah urusanmu selesai!"


Aku tak tahan lagi.


Meski setelah kalimat-kalimat berani itu keluar dari bibirku, kulihat Papa, Mama dan Mas Delan sendiri menatapku seakan tak percaya.


Aku terusik dengan kedatangan Lady Navisha. Sungguh sangat terusik sekali.


Apalagi dari gaya dan bahasa tubuhnya yang seolah mengambil hati berakrab-akrab ria dengan Ayah Ibu serta Papa dan Mama mas Delan juga.


Aku tak ingin 'ketakutan' Ira jadi kenyataan. Dan memang aku harus bisa mengambil sikap.


"Maaf, Vio... jika kedatanganku ke rumah indahmu ini jadi membuat pertemuan keluarga kalian tidak nyaman. Maafkan Lady, yang tiada maksud lain. Hanya ingin menjadi akrab dan merasakan bagaimana rasanya punya keluarga yang hangat serta saling menyayangi. Karena... Lady tidak memiliki apa yang Viona miliki!"


Hhh... Please Lady! Jangan drama di tengah keluarga besar kami. Pergilah! Aku mulai muak melihat wajahmu yang sangat cantik tapi palsu itu!


Wajah Lady basah airmata.


"Ibu, Ayah... juga Pak Bambang dan Miss Tasya,... Lady mohon pamit! Terima kasih sudah di terima di rumah ini dengan kebaikan kalian! Jika suatu hari kita bertemu di jalan, tolong tegurlah Lady ya Ayah, Ibu!"


Lagi-lagi Lady berakting. Itu anggapanku.


Tapi sayangnya akting buruk itu terlilhat sempurna di mata Ibuku dan Mama Tasya.

__ADS_1


Keduanya spontanitas merengkuh Lady yang berurai air mata.


"Maafkan Viona ya Lady... Sepertinya Viona sedang PMS jadi agak jutek pembawaannya!" kata Ibu memberi Lady pengertian.


"Iya. Viona aslinya tak segalak ini koq. Hehehe..." timpa Mama Tasya mengajak Lady bercanda.


"Lady pamit. Terimakasih Ibu juga Miss Tasya! Permisi... assalamualaikum!"


Hhh...


"Waalaikumussalam!"


Setelah Lady keluar dari rumahku dan mas Delan, suasana seketika menjadi agak canggung.


"Jangan bersikap keterlaluan seperti itu, Viona! Baik dengan temanmu itu juga dengan orang lain! Terkesan arogan sekali!" Ayah mencoba menasehatiku. Terang saja aku jadi sedih dan kesal.


Mereka tak tahu jati diri Lady yang asli. Yang hanya menyukai sesuatu yang indah tanpa suka bersusah payah lebih dahulu untuk mengasah keindahan itu.


Ucapan Ayah tak kuindahkan. Hanya menunduk tersenyum lalu mengucapkan kata maaf pada semua orangtua kami.


Aku faham... mungkin tingkahku tadi yang jelas-jelas mengusir Lady dipandang kurang baik bahkan oleh Ayahku sendiri. Entah Papa dan Mama. Mungkin juga menilai sikapku yang buruk.


Seketika suasana yang tadinya hangat menjadi dingin dan kurang gereget lagi. Obrolan kami menjadi hanya sekedar basa-basi.


Bahkan Papa dan Mama pun tak lama kemudian izin pamit. Padahal adzan Maghrib masih cukup jauh. Baru pukul lima tiga puluh dua menit. Biasanya mereka pamit pulang setelah adzan Maghrib berkumandang.


Ayah Ibu juga menyusul pulang setelah seperempat menit kemudian.


Tinggal aku dan mas Delan berduaan, tapi diam tak saling bicara.

__ADS_1


"Sayang...! Apa kamu... menyimpan dendam pada Lady Navisha?" tanya mas Delan tiba-tiba.


"Dendam? Dendam apa? Engga'lah, mas!"


"Terus... kenapa tadi kamu koq keliatannya ga suka banget pas Lady main ke sini? Secara kalian dulunya adalah kawan akrab!"


"Hm... Entah, Mas! Apakah kami ini bisa dibilang kawan akrab dulu? Aku ngerasa... ada yang sedang Lady sembunyikan!"


"Uhuk uhuk!"


Suamiku batuk, membuatku langsung bergegas memberinya segelas air putih yang ada di atas meja.


"Apa kalian pernah bertengkar hebat?" Tak kusangka mas Delan melanjutkan pertanyaannya. Masih membahas soal Lady Navisha, membuatku makin jengah.


"Sudahlah, Mas! Jangan diteruskan lagi obrolan kita yang gak mutu ini!" tolakku agak ketus.


"Apa maksudmu, Viona? Obrolanku gak mutu? Begitu?"


"Maksudku... jangan bahas terus soal Lady. Please! Aku ga mau dengar namanya disebut-sebut terus di rumah ini."


"Kenapa? Apa kesalahannya yang membuatmu begitu illfeel? Semua tindakanmu itu harus jelas. Karena bisa kebablasan nanti sikap ketusmu itu dilihat orang banyak!"


"Maksud, Mas? Lha koq jadi marahin aku?"


"Bukan begitu, Vio! Masih mending kamu mengeluarkan amarah di depan kami... keluargamu sendiri. Bagaimana kalau sampai kamu mengeluarkan amarahmu tadi di muka umum? Seperti pertemuan kantor. Dan ada wartawan lihat, itu bisa jadi masalah! Sikapmu tadi bisa jadi bumerang bagi dirimu sendiri. Dan orang akan mencapmu buruk. Itu lihat, istrinya boss PH Pesona Tasya cemburu buta pada artis talent perusahaan suaminya. Ish... harusnya ya konsisten juga karena pekerjaan suaminya bersinggungan dengan banyak artis cantik!"


"Dan apakah pantas seorang artis bergelendotan mesra di punggung produser eksekutifnya!"


Aku terprovokasi ucapan suamiku sendiri yang menyebalkan. Ia hanya bisa ternganga melihat respon ucapanku yang tak disangkanya.

__ADS_1


Dan aku sendiri malas berdebat apakah ini cemburu yang berlebihan ataukah rasa ketakutan kehilangan yang besar. Aku hanya bisa melipir masuk kamar. Menarik selimutku lalu pergi tidur tanpa basa-basi lagi pada sang suami.


❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤


__ADS_2