PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 31 Cobaan Kehidupan Herdilan Firlando


__ADS_3

Ya! Aku kenal artis baru yang menjengkelkan itu! gumam hati Delan.


Lady Navisha!


Teman kuliah Viona Yuliana dan Herdilan Firlando. Setelah hampir tiga tahun tak terlihat batang hidungnya, gadis itu kini ternyata menjajal peruntungannya di dunia keartisan.


Lady memang cantik. Dan semakin cantik di usia dua puluh limanya.


Siapa sangka temannya yang entah menghilang kemana di semester enam itu kini merambah dunia model majalah dewasa.



"Cut!"


Sutradara berteriak. Mengatakan kalau syuting telah selesai satu scene. Syuting iklan itu tak kurang dari setengah jam telah berhasil Lady Navisha selesaikan.


Benar-benar gadis bertalenta rupanya!


Masih ada rapat untuk satu kali lagi syuting dengan lokasi yang berbeda. Dan Delan di situ hanya sebagai 'penyimak' saja. Tapi dalam kapasitasnya sebagai BOSS BESAR.


Matanya hanya terpaku pada Lady, teman akrab istrinya dulu di kampus biru. Namun Lady rupanya telah berganti nama. Kini Jelita Lara adalah nama panggungnya.


Padahal nama Lady Navisha cukup menjual bahkan cukup mendunia malah dibanding Jelita Lara yang terdekat lokal banget! Gumam hati kecil Herdilan Firlando.


Delan mulai mengingat-ngingat kalau Lady itu dulunya satu sekolah SMU dengan Viona. Dan mereka mendaftar kuliah di satu kampus yang sama dengan Delan juga Ira.


Ternyata dunia ini sempit. Orang-orang masih tetap kutemui juga meski kini di bagian kisah yang lain.


Delan tanpa sengaja menyunggingkan senyuman melihat mimik wajah Lady Navisha yang nampak ekspresif dan penuh warna.



Gadis itu memang bukan tipenya. Tapi semakin diperhatikan, Lady semakin membuatnya penasaran.


Dia menilai kalau Lady adalah perempuan sembrono. Karena dua kali penanya loncat dari tangannya dan jatuh ke lantai kantor ketika rapat.


Delan semakin menumpukan tatapannya pada artis baru yang terlihat norak dan kampungan itu.


Hhh... Lady! Meski kau cat warna rambutmu menjadi pirang keemasan, tetap saja kau itu perempuan kampungan yang tak mampu terjual tinggi. Sangat beda dengan Viona istriku. Meski Viona tak suka berdandan, tapi kelasnya tetap jauh lebih tinggi di banding kamu yang sok kebarat-baratan.


Tiba-tiba mata Herdilan saling bertatapan dengan mata elang Lady Navisha.


"Uhuk uhuk uhuk!" Membuatnya tersedak dan batuk-batuk.


Dan ternyata mata Lady tetap pada matanya. Menatap tajam tak berkedip. Sepertinya ia mulai mengenali Produser Eksekutif yang ada di hadapannya itu.


Hingga rapat selesai, dan Delan adalah orang pertama yang bangkit berdiri lalu keluar ruangan.


Sementara pak Yoss, asisten produser cabang yang merekrut Lady mengikutinya dari belakang.


"Bagaimana Boss? Oke juga khan akting anak baru itu? Meski tadi sempat molor datangnya satu jam karena suatu keadaan yang membuat kinerjanya terganggu!" tuturnya mencoba mencari simpati Tuan Besar anak Pemilik PH.


"Siapa yang merekomendasikan?" tanya Delan singkat.


"Sa-saya, Boss! Kalau Boss ada waktu, saya bisa menyuruhnya untuk..."


"Untuk apa? Untuk melayaniku?"


Delan menoleh marah. Langkah kakinya terhenti karena pak Yoss menyamaratakan dirinya dengan para pengusaha-pengusaha lain yang butuh pelayanan khusus untuk memuluskan langkah karier sang artis.

__ADS_1


Pak Yoss pucat pias.


"Dengar ya, saya sudah beristri! Meskipun jiwa muda saya masih menggelora. Saya sudah memiliki tempat penyalurannya yang benar dan bersih!"


"Ma-maaf, Boss! Maaf! Bukan maksud saya..."


"Permisi... Boss Delan? Herdilan Firlando?"


Pak Yoss makin pucat, karena artis yang ia promosikan itu tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dengan tangan menyentuh bahu sang Boss yang tengah kesal.


Lady Navisha alias Jelita Lara, kini berdiri berhadapan dengan Herdilan Firlando. Boss sekaligus produser eksekutif perusahaan Production House of Pesona Tasya.


"Lady Navisha!"


"Akhirnya... Kukira kamu gak akan mengenaliku lagi setelah menjadi seorang boss eksekutif!"


Lady tersenyum menatap Delan yang datar saja.


"Bo-boss!?!" sela pak Yoss kebingungan.


"Tolong biarkan kami bicara empat mata di ruangan saya, tanpa ada yang ganggu!"


"Siap, Boss!"


Delan kembali melanjutkan langkahnya. Kini Lady ikutan berjalan di sampingnya.


"Apa kabarmu, Jelita Lara?"


"Hahaha... Not bad, Big Boss!"


"Ga sangka ternyata kamu ada bakat dan minat jadi artis!"


...Kreeet... Drek...


Pintu ruangan bertuliskan "KANTOR PRODUSER EKSEKUTIF" kembali di tutup. Ia mempersilakan Lady untuk duduk di salah satu sofa ruangan kantornya yang maha luas.


"Hebatnya kau, Lan! Tak kusangka kau anak orang kaya!" gumamnya penuh kejujuran.


Mata Lady bak mata polos seorang gadis cilik yang terpukau pada keindahan dihadapannya. Seperti sihir yang tengah Delan mainkan. Kini Lady berdiri mendekati Delan.


Tiba-tiba jemarinya mengelus rambut Delan.


"Dulu rambutmu tak begini!" katanya lagi, benar-benar tak percaya melihat kenyataan yang ada.


"Dulu aku cupu dimatamu, bukan?"


"Bukan hanya aku. Semua perempuan termasuk Viona Yuliana, yang begitu membencimu!"


"Aku dan Viona telah menikah!"


"Wh What? Are you..."


"Aku tidak bohong! Lihatlah!"


Delan menunjukkan sebuah bingkai figura berisikan foto pengantin dirinya dan Viona.


"Sudah mau sebelas bulan!"


Terlihat Lady menghela nafas.

__ADS_1


"Jodoh tiada yang tahu, ya? Hehehe..." katanya seraya tersenyum. Membuat Delan ikut senyum membalasnya.


"Kamu terobsesi sama Viona, ya? Hingga akhirnya berubah total demi mendapatkan cintanya. Iya khan? Hahaha... Cinta yang begitu indahnya!"


Delan menggeleng-geleng.


"Jangan pura-pura kau! Hahaha... Kau mengikuti Viona sampai pintu toilet perempuan waktu itu. Itu pasti karena memang sedari awal kau menyukai Viona! Hahaha..."


Sungguh Lady melupakan jarak dan benteng yang sedari tadi Delan buat. Kini keduanya terlihat seperti kawan lama yang begitu akrab sedari dulu.


Bahkan bisa dengan santainya tertawa-tawa mengenang masa lalu. Dan Lady memanggil Delan dengan sebutan 'kau' bukan lagi 'boss'.


"Hahaha..."


Keduanya terlibat obrolan santai namun agak serius.


"Kamu kemana, Lady? Berhenti kuliah di tengah jalan. Pergi tanpa kabar apalagi pamit pada sahabatmu itu! Apa itu yang namanya sahabat? Sedangkan Viona begitu menyayangimu sebagai sahabat waktu itu!"


"Kami bukan sahabat. Dan sebenarnya Viona jengah berteman denganku yang memiliki sifat bertolak belakang dengannya!"


Delan memperhatikan wajah Lady. Bibir mungilnya bergerak-gerak membuat dada pria bersuami itu berdesir kencang.


Apa ini? Tak mungkin aku tertarik pada perempuan model begini! gumamnya tak percaya.


"Kenapa kamu bilang begitu tentang Viona?" tanya Delan berusaha menyelidik.


"Viona anak baik. Hidupnya penuh keberuntungan karena kedisplinan pastinya. Beda dengan aku!"


"Apa bedanya?"


"Ya bedalah, Boss! Viona istrimu, sedangkan aku... hanya bawahanmu!"


"Yassalam... Hahaha..., kukira apa! Dasar kau nih!"


"Suatu saat nanti aku akan cerita lebih panjang lagi. Maaf,... hari ini jadwalku lumayan sibuk, Boss! Ada pemotretan di lain PH. Oh iya, boleh aku minta nomor pribadimu yang bisa kuhubungi setiap waktu?"


Delan menelan salivanya. Menyukai keberanian gadis yang berdiri dihadapannya sambil membuka layar ponselnya.


"Berapa nomornya?" tanyanya lagi, tak pedulikan seringaian Herdilan setengah meremehkannya.


"Ternyata begitu ya, pengorbanan seseorang untuk menjadi seorang artis terkenal?"


"Eh? Apa maksudmu?... Kau pasti berfikir aku menjual tubuhku agar bisa mendapatkan kerjaan di dunia keartisan ini?"


"Bukan aku ya, yang ngomong!"


Bug.


"Ngasal! Aku masih 'perawan'! Cam kan itu, Boss!"


Deg.


Jantung Herdilan seolah ditabuh. Berdetak keras mendengar suara lembut Lady Navisha ditelinganya. Nyaris bergetar jiwa raganya seketika.


"Hahaha... Boss aku pamit ya? I'll call you later!"


Ugh...


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...

__ADS_1


__ADS_2