
Kami kembali pulang ke ibukota dengan perasaan yang berbeda.
Ira memisahkan diri dengan kami setelah Leon, pacar barunya datang menjemput di bandara. Setelah puas menggoda pasangan baru yang katanya sedang di mabuk cinta itu, aku dan mas Delan pulang ke rumah dengan taksi online.
Mobil mas Delan sedang diservis di bengkel langganan. Katanya.
Liburan sungguh membuat kepenatan otakku serasa menguap begitu saja. Berganti dengan rasa bahagia dihati dengan banyaknya gambar-gambar selfie foto diri di galeri handphone, pastinya.
Walaupun kulitku menjadi agak gelap karena puas selama lima hari bermandikan cahaya matahari Lombok bulat-bulat pagi, siang sore. Tapi hatiku sangat puas.
Sembari menggelayut mesradi tangan Mas Delan. Aku kembali menanyakan perihal rencananya untuk melakukan cek up ke dokter perihal planning bayi tabung kami.
Mas Delan termangu. Seolah dia baru teringat setelah hampir dua bulan kami tak lagi membahasnya.
"Nanti Mama Tasya pasti akan nanyain kita soal itu, Mas!" tukasku mencoba mengingatkan kembali rencana awal kami.
"Sebaiknya kita tunggu kebesaran Tuhan sajalah, Vi!" ujar Mas Delan membuatku terdiam.
"Masih kerkendala kerjaan ya?" tanyaku mencoba mengerti kepusingannya.
__ADS_1
Mas Delan mengangguk. Berarti tebakanku benar. Dan memang perusahaan Production House yang saat ini sedang mas Delan pegang, sedang berkembang pesat. Banyak talent-talent muda yang ingin bergabung pada perusahaan Mama Tasya itu setelah melihat prospek cerah bekerja sama dengan kami.
"Jadi gimana, Mas?... Mas? Mas Delan?"
"Ah iya sayang! Maaf... aku lagi banyak fikiran, Viona!"
Hhh...
Aku mengerti kegundahan hati suamiku. Lagipula, usia kami juga baru akan dua puluh empat tahun. Jadi,... masih banyak waktu untuk kami bekerja dan berkarya lebih baik lagi.
Ibu juga ayahku memberiku dukungan, agar tak terlalu sibuk dengan pekerjaan yang bisa membuatku stres berlebihan.
"Terus Mama Tasya, nanti gimana kalau tanya-tanya!"
"Sejujurnya aku sudah diskusi sama Mama, Vi! Sekarang Mama lebih legowo nerima keadaan kita yang belum mampu memberinya cucu! Jadi... Mama ga akab tanya-tanya hal itu lagi, pasti!"
"Yakin, Mas?!"
"Iya Sayang! Jangan terlalu takut sama Mama, Viona! Khan kamu juga berhak menjawab sesuatu yang gak bisa kamu jawab karena semua jawaban pasti itu hanya Tuhan Yang Maha Kuasa."
__ADS_1
Hhh... Aku menghela nafas dan menelan saliva.
Bukan takut juga sama Mama Mertua, tapi aku tak berani membantah omongan beliau. Takut salah ucap. Salah-salah justru membuat beliau sakit dengan jawabanku nanti. Itu saja.
"Tenang saja, Yang!"
Mas Delan memelukku. Membuatku kembali nyaman dan akhirnya mengangguk. Berjanji dalam hati untuk tidak memusingkan diri ini yang tak kunjung hamil.
...□□□□□□...
Rutinitasku kembali seperti hari-hari biasanya. Mengurus butik Mama Tasya. Sementara Mas Delan juga sibuk dengan PH Pesona Tasya-nya.
Setidaknya, kami selalu semangat bekerja mengumpulkan cuan sedikit demi sedikit untuk masa depan.
Cita-cita kami adalah pensiun diusia sekitar 40-45 tahun. Tinggal di daerah pegunungan atau perkebunan dengan memiliki ternak serta tanah yang luas. Bersama berdua bahagia hidup selamanya sampai akhir hayat.
Tinggal duduk manis menikmati hasil jerih payah kami di masa sekarang ini. Membiarkan putra-putri kami yang meneruskan tampuk kepemimpinan generasi terdahulunya yakni kami. Itu angan dan impianku dengan mas Delan.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1