PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
SESSION 2 SETIAP PERBUATAN PASTI ADA BALASAN


__ADS_3

Bu Jamilah datang ke kediaman keluarga bu Fajar setelah mendengar Kartika akan segera menikah.


Begitulah tinggal dilokasi yang penghuninya rata-rata kepoan semua.


Kabar Kartika akan menikah dan telah dilamar oleh duda satu anak yang sempat viral dan ramai di beranda media sosial itu seketika bocor ke seluruh penjuru kompleks perumahan menengah kebawah strata kastanya itu.


Semua orang bertanya-tanya. Apakah kabar berita itu benar atau cuma hoaks saja.


Termasuk bu Jamilah yang mendengar sepintas selentingan itu.


Wanita berumur itu kadung penasaran hingga berani menampakkan diri kembali ke rumah Kartika yang telah mengetahui belangnya lewat penerawangan ustad yang memiliki indera keenam.


"Apa benar, Kartika ada yang lamar? Katanya, pria yang lamar itu orang yang sedang viral itu di video tik tok ya? Yang anak petinggi bunuh diri setelah bunuh adik iparnya itu? Iya kah? Ya ampun...! Sampai sebegitu depresinya kamu Kartika, mau menerima pria sembarang bibit, bebet, bobotnya seperti itu! Ck ck ck..."


Kartika tak menjawab. Begitupun Mamanya. Keduanya berusaha menenangkan diri dengan menyunggingkan senyuman tipis.


Bu Fajar sendiri menerima kedatangan Bu Jamilah dengan sewajarnya. Namun kali ini ia tidak terlalu respek seperti dahulu.


Hatinya sakit mengetahui kalau tetangga lamanya itu telah membuat putrinya jauh jodoh dengan menjadikannya tumbal kemakmuran usahanya.


Tapi Allah tidak tidur.


Siapa yang berbuat curang, akan dapat balasan. Sepertinya perlahan Tuhan bukakan mata Bu Jamilah untuk segera sadar dan mawas diri.


Suaminya pergi meninggalkannya. Usahanya bangkrut setelah kebakaran menghanguskan resto kateringnya.


Satu persatu pelanggannya lari dan pergi ke katering lain yang lebih enak.


Mbah Jambrong sendiri hanya memberinya janji-janji, tanpa bukti. Padahal bu Jamilah telah melakukan ritual mandi kembang tengah malam. Memakai pakaian yang ternyata baginya hanya terbuat dari saringan nasi saja, saking tipis dan terawangnya.


Awalnya ia menolak keras. Tapi Mbah Jambrong bilang, jika ia tak mau memakai pakaian haram itu...maka usahanya mandi kembang tengah malam sia-sia belaka.


Dengan wajah ditekuk malu, ia mengikuti perintah sang guru spiritualnya yang sejak mula usahanya dimulai selalu memberinya dukungan penuh.


Kini, mandi kembang tengah malam ia lakoni seorang diri tanpa ditemani suami.


Statusnya yang janda bukan, bersuami juga bukan membuatnya gantung. Dan Mbah Jambrong seperti memanfaatkan keadaan diri sang pasien yang gila harta dan kedudukan itu tanpa menilai moralitasnya yang jadi anjlok.


Sehingga akhirnya dua manusia beranjak tua itu lupa pada akidah. Melakukan hubungan badan yang diharamkan karena keduanya bukan muhrim.


Dua anak lelakinya seolah tidak peduli dan jarang juga menyambangi ibundanya yang keras kepala sedari masih muda.


Sehingga kini bu Jamilah hanya luntang-lantung bolak-balik Mbah Jambrong meminta perlindungan.


Hidupnya kini bagaikan istri namun tak dinikahi.


Pandangan orang perlahan menjatuhkan. Bahkan satu persatu bisik-bisik tetangga bergosip tentang kelakuannya yang gila meski sudah tua.


Begitulah. Tuhan Maha Berkehendak. Pada siapa saja Tuhan memberikan safa'at serta kemudhorotan.


.....


"Cuih! Dasar manusia-manusia sombong! Baru juga diiming-imingi mau dinikahkan sudah bangga dan besar kepala, sampe rame orang bilang calonnya bukan orang sembarangan!"

__ADS_1


Bu Jamilah bergerutu kesal mendatangi gubuk Mbah Jambrong.


"Kenapa lagi?"


"Coba terawang dong, Mbah! Kenapa ada orang yang mau melamar anak itu sekarang! Kemana piaraan Mbah? Apa sudah gak bisa lagi itu jadikan si Tika istri goibnya?"


Ia menghentak-hentakkan sebelah paha Mbah Jambrong hingga pria setengah abad itu berteriak kesakitan.


"Adaauw!!! Sakit, pe'a!" pekiknya spontan.


"Aih? Mbah? Beraninya bilang aku pe'a? Kemarin-kemarin kau bilang aku ini cantik! Sangat menarik! Bodiku bak gitar Spanyol, bempernya aduhai! Haish!!! Dasar aki-aki peyot, bau busuk! Mulutmu juga busuk kata-katanya!"


Plak


Plak plak plak


"Aduh!!!"


Plak


Bug.


"Hiyaaa... sakit!!!"


Plak, plak, plak!!!


Wanita itu berteriak histeris. Tak menyangka kalau pria yang dulu selalu ia sanjung dan hormat luar biasa itu melakukan tindakan KDRT. Bahkan hingga wajahnya lebam-lebam kena tampar dan tubuhnya pun penuh terluka akibat pukulan tangan Mbah Jambrong yang pedas luar biasa.


Suasana menjadi menegangkan.


Dan para polisi membawa Mbah Jambrong dengan tangan diborgol dan muka ditutup sarungnya yang bau apek, karena berhari-hari tak dicuci.


Begitulah akhir hidup bu Jamilah dan Mbah Jambrong.


Kisah viral selanjutnya yang menghebohkan adalah kasus Mbah Jambrong sang dukun cabul yang membunuh pasiennya sendiri karena kesal dan marah dihina serta dikatakan mulutnya bau busuk.


...○○○○○○...


Treeet... treeet... treeet


Kartika sangat nervous menerima panggilan telepon dari Herdilan Firlando.


Hatinya berbunga-bunga, bagaikan gadis remaja usia belasan mendapatkan respon ditelepon sang calon suami.


"Hallo, assalamualaikum!"


Suaranya sengaja ditekan serendah mungkin. Agar terkesan sopan dan halus terdengar telinga sang pujaan.


...[Waalaikum salam]...


Terdengar suara sapaan balasan dari seberang sana. Entah mengapa, suara Papinya Dzakki Boy Julian itu terdengar sangatlah merdu ditelinga Kartika.


berdesir seketika dadanya. Seperti ada semut bergerumut menggelitik geli. Degdegan Kartika kebingungan hendak berkata apa.

__ADS_1


"Mmm... Iya, Bang? Apa kabarnya?" tanyanya gugup.


...[Baik, Nona! O iya... tolong sampaikan pada Mama Papa, besok sore keluarga besar Abang akan datang kerumah Nona! Kami... ingin silaturahim saling mengenal satu sama lain. Boleh ya? Hehehe...]...


Jantung Kartika semakin kencang bergetar.


Keluarga Abang Herdilan akan datang besok sore? gumamnya dalam hati, kaget.


"I-iya, Bang! Nanti Tika sampaikan. O iya, kira-kira pukul berapa keluarga besar akan datang? Dan... maaf..., berapa orang, Bang? Takutnya kami kurang bisa menjamu kalau tidak bertanya secara detil! Maaf, kalau Tika terkesan banyak tanya!"


...[Kemungkinan ba'da Ashar. Sekitar tiga-empat mobil. Hanya keluarga inti Abang saja, Non! Jadi,... jangan repot-repot berlebihan! Kami cuma mau kenalan saja. Sekalian...antar seserahan! Tapi sebelumnya Abang minta maaf, kalau nanti bawaan kami hanya sedikit dan tidak sesuai harapan. Abang, minta maaf sebelumnya untuk keluarga Nona Kartika! Ya?]...


"Abang..."


...[Ya?]...


"Bisakah Abang memanggil namaku saja? Kartika atau Tika? Aku... agak gimana gitu mendengar Abang panggil aku 'Nona'!"


...[Hehehe... Aku..., mau panggil Nona. Apa... tidak boleh? Nona itu kedengarannya manis! Boleh ya, Nona? Kalau Abang panggil nama itu justru terdengar biasa. Kalau panggil 'Nona'... itu artinya kamu spesial dimata dan hati Abang!]...


Oh my God, Bang! Gombalanmu koq manis sekali!? Bikin hatiku melting seperti keju parmesan asli buatan Itali. Hiks... Hati Kartika Sari seketika meleleh.


"I iya. Tika terserah Abang saja!"


Herdilan berdebar mendengar jawaban Kartika yang malu-malu dengan suara lembut. Ada sensasi lain menggelitik jiwa raganya.


Tuhan Azza Wazzalla! Izinkan aku menikahi gadis manis ini! Entah kenapa, semakin kesini aku semakin menginginkan prosesi pernikahan kami segera terjadi! Begitulah isi hati Herdilan disela-sela desiran lembut di dadanya.


...[Nona, sedang apa?]...


"Sedang... melamun!"


Yassalam..., perempuan ini jujur dan polos! Kenapa menjawab spontanitas tanpa fikir panjang. Kenapa tidak pura-pura sibuk agar aku segera mengakhiri sambungan telepon ini? Lagi-lagi Herdilan membatin.


Sementara Kartika tak kalah grogi mendapati pertanyaan yang begitu sederhana tapi jadi luar biasa karena Herdilan yang bertanya.


Ya Allah! Kenapa aku jadi tak karuan seperti ini? Beginikah rasanya ditanya 'pacar' dengan rasa cinta yang besar? Ya Tuhanku...kuatkanlah imanku!


Kartika bukan baru pertama kali memiliki hubungan. Bahkan berkali-kali, namun selalu gagal ditengah jalan.


Selama ini ia pandai membawa diri. Menjaga harga dirinya hingga tidak sampai kebablasan dalam berpacaran.


Tak dipungkiri dan tak mau dibilang munafik, kalau untuk sekedar berpegangan tangan atau menempelkan pipi dengan pipi...Kartika beberapa kali melakukannya.


Namun untuk lebih dari itu, cium bibir apalagi kontak fisik kearah yang dilarang agama...tak pernah ia merasa tertarik. Tetapi mendengar suara Herdilan yang merdu merayu, Kartika benar-benar terpincut dan klepek-klepek.


Mungkin ini yang namanya cinta tak pakai logika.


Berapa banyak orang terjerumus melakukan hal yang diluar batas norma moralitas, karena merasakan jatuh cinta yang luar biasa.


Untungnya mereka serius untuk menjalani hubungan langsung ke jenjang pernikahan. Karena jika tidak, entahlah... apa yang akan terjadi diantara mereka. Kalau sampai menunda-nunda meresmikan hubungan suami istri.


Kartika segera sadar kalau haluannya membangkitkan nafsu. Ia segera mengakhiri sambungan telepon Herdilan dan mengatakan akan menyampaikan pesannya langsung pada Papa dan Mamanya.

__ADS_1


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2