
Hari-hariku setelah menandatangani akta cerai yang Viona buat, bagaikan di neraka.
Panas, cemas, gelisah dan selalu resah.
Lady Navisha kembali ke rumah Mama setelah lima hari menghilang setelah kena gaplokan.
Aku yang masih sangat terluka karena kepandaiannya menipu hati ini hanya bisa menatap nanar wajah topengnya yang lembut tapi penuh kepalsuan.
"Kukira kau tak akan berani kembali lagi ke sini setelah kedokmu terbuka!"
"Itu masa laluku, Mas! Itu adalah dosa-dosaku di belakang!"
"Hehehe... Pandai kau bersandiwara!"
"Aku memang perempuan nista! Tapi hatiku tak sebusuk yang kau kira, Mas! Aku memang bersalah, menyembunyikan masa laluku yang hina. Tapi... seperti yang kamu ketahui, pernikahan kontrakku selama tiga bulan dengan pria-pria itu adalah atas prakarsa pamanku yang gila uang!"
"Kau pun gila uang!" tukasku menyelanya.
"Aku ingin hidup nyaman untuk kedepannya. Mereka hanya inginkan tubuhku saja selama tiga bulan, setelah itu... kami bercerai dan hanya mendapatkan harta imbalan yang disepakati. Semua itu adalah kerjaan paman, Mas! Aku sengaja memang ingin menjeratmu! Karena aku mencintaimu dan juga kasihan padamu. Viona bukan istri yang baik!"
"Teganya kau melecehkan Viona!"
"Kenyataan seperti itu bukan? Dia tak mengurusmu dengan lihai di atas ranjang. Dia tak melayanimu dengan benar di meja makan. Dan dia juga tak bisa mengimbangimu di pekerjaan. Apa itu bisa dinamakan istri yang baik?"
"Tapi dia bukan perempuan murahan seperti kau!"
"Dia terbiasa hidup enak. Disokong kedua orangtua yang selalu mencintainya. Tentu berbeda denganku pastinya! Makanya dia itu perempuan sok jual mahal!"
Oh my Gosh! Sungguh terkejut aku mendengar kata-kata Lady Navisha. Seperti inikah 'istri kedua' yang telah kunikahi? Jiwa raganya, tutur kata bahasanya. Aku tertawa menyadari diri yang teramat bodoh dalam menilai seseorang.
__ADS_1
Soal tubuh, wajah dan penampilan, Lady di atas rata-rata. Cantik jelita, luwes, penuh perhatian dan manis dalam berbicara. Tapi ternyata semakin kumengenalnya,... dia benar-benar perempuan 'rendah' yang minum attitude.
Sangat jauh berbeda dengan Viona, istri pertamaku. Dan aku tertawa sendiri mengingat kebodohanku, yang bisa-bisanya tergoda perempuan berbodi sintal ini.
Mataku nanar menatap wajah Lady.
Teringat masa-masa bahagiaku tertawa bersamanya ketika membuka-buka buku raport dokumen kami di masa lalu. Foto-foto jaman muda dahulu, jadi candaan yang menyenangkan kala itu.
Perempuan ini benar-benar berbeda dengan foto masa sekolah menengah pertamanya yang terlihat polos dan lugu.
Kini wajah itu berubah drastis. Memang lebih cantik. Tapi ternyata hanyalah plastik. Semua plastik sama seperti wajahnya juga.
Aku menelan saliva kembali teringat dirinya yang dulu.
Aku secara tidak langsung telah menipu Viona, soal wajahnya di masa lalu. Tapi Lady mengetahuinya, karena memang mereka sama-sama merombak wajah. Bedanya, aku operasi plastik karena kecelakaan kena prank teman-teman. Sedangkan Lady operasi benar-benar untuk menambah kecantikan.
"Jadi sekarang apa maumu?"
"Kita sudahi pertengkaran rumah tangga ini, Mas! Mama Tasya sedang ada masalah, kumohon kita jangan sampai menambah penderitaan lagi. Kita bisa saling dukung. Kita support Mama yang sedang ada kasus, Mas!"
Aku memikirkan ucapannya yang ada benarnya.
Mamaku sedang ada masalah hukum. Aku tak boleh menambah beban Mama. Dan juga kasusnya mama bukan kasus ringan atau perdata. Tapi ini kasus pidana. Otomatis kurungan badan bisa jatuh kepada Mama jika terbukti salah di pengadilan.
Hhh...
Akhirnya aku menerima Lady kembali ke rumah besar Mama.
__ADS_1
Terlebih perutnya juga kini sudah mulai terlihat menggelembung. Pertanda bayi yang di rahimnya berkembang dengan baik.
Viona! Bagaimana keadaanmu, Sayang? Aku rindu dengan jutekmu. Juga rindu tawa candamu yang dahulu sebelum ada Lady di antara kita. Semoga bayi kita yang ada dalam kandunganmu selalu sehat. Semoga Tuhan selalu menjaga kalian!
Jujur aku ragu pada bayi yang dikandung Lady. Apakah 100% anakku atau bukan. Apakah benar murni hanya perbuatanku atau ada perbuatan orang lain.
Kutarik kerah baju Lady karena rasa penasaran ini benar-benar membuat otakku selalu panas.
"Jujurlah padaku! Bayi ini adalah hasil perbuatan orang lain?" tanyaku sinis.
"Kau tak percaya padaku, Mas?"
"Tentu saja! Kau penipu ulung!"
"Bagaimana dengan Mamamu sendiri? Apakah dia juga penipu ulung? Lebih ulung mana, aku atau dia?"
Brak!
Kuhempaskan tubuhnya dan...
"Auwww! Kau lagi-lagi KDRT, Mas!" jeritnya kesakitan.
Punggungnya mengenai meja marmer asli milik Mamaku.
Aku tak peduli. Berjalan ke lantai atas, lalu masuk kamarku yang dulu bersama Viona.
Tinggal Lady seorang dengan mata tak berkedip menatap tubuhku yang meninggalkannya.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1