PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 39 Puncak Kebahagiaanku


__ADS_3

Ini adalah puncak kebahagiaanku.


Malam anniversary kesatu biduk rumah tangga kami ternyata di rayakan Mama Tasya secara besar-besaran di lingkungan perusahaan.


Membuatkanku pesta mewah di hotel rekanan yang megah tentu saja membuatku sangat terharu.


Kado-kado indah dan mahal pastinya berseliweran dihadapan kami dari para relasi.


Mas Delan pun tak henti-hentinya menebar senyuman seraya menggandeng mesra tanganku.


"Selamat ya, atas anniv pernikahan kalian berdua. Semoga bahagia selalu!"


"Terima kasih pak Dirut!"


"Selamat boss muda! Gong Xi, gong xi!"


"Terima kasih banyak Koko!"



Silih berganti para pengusaha yang datang bersama orang tersayang. Satu persatu mereka mendatangi dan menyalami kami.


Memberi ucapan selamat dan juga doa-doa terbaik agar langgeng serta hubungan rumah tangga kami.


Aku juga mengundang Ira di acara pesta itu dan beberapa temannya turut serta hadir.


Ada satu perempuan sangat cantik yang membuat mataku tak berkedip.


"Lady Navisha!"


Perempuan itu tertawa memamerkan deretan gigi putihnya yang pasti mahal perawatannya.


"Hai Ratu!" sapanya membuatku malu. Lady memeluk dan mencium pipi kiri serta kananku.


"Apa kabar? Hiks... makin cantiknya, dirimu!" pujiku terpesona akan keanggunannya.


"Dia kini masuk jajaran artis papan atas!" bisik suamiku bercanda.


Aku senang sekali, teman-teman terbaikku di masa lalu yang tak datang ketika kami menikah dulu kini hadir merayakan kebahagiaan ini.


Kutarik Ira agar bisa bergabung bersama kami berempat, mengenang masa muda kami di kampus biru.


"Kau keren, Lan! Sangat hebat dengan pencapaian luar biasa di usia 23 tahun!" puji Ira membuat wajah mas Delan merona.

__ADS_1


"Ini semua berkat istriku Viona, pastinya!" kata-kata Mas Delan membuatku melambung tinggi ke negeri di atas awan.


"Aku juga pastinya!" sela Lady membuat mas Delan tersedak dan aku menoleh ke arah Lady yang tertawa-tawa.


"Dasar! Apa kontribusimu dengan pencapaian Delan?" cibir Ira membuat Lady menatapnya tajam.


"Kau tidak tahu ya? Aku ini salah satu artis talent perusahaannya mas Delan!" ujar Lady membuatku membelalakkan mata.


"Benarkah? Iya, Mas?" tanyaku mencari pembenaran.


"Yang Lady ucapkan itu betul, Vi!"


"Sejak kapan perempuan ini jadi artis? Tak pernah tuh kulihat eksistensinya di televisi!" cibir Ira.


Aku tersenyum mengenang ketegangan hubungan Ira dan Lady di masa kuliah kami. Begitulah mereka berdua. Selalu saling cibir dan saling sindir.


"Lady itu model catwalk dan bintang iklan di TVkabel."


Aku terpesona mendengar cerita mas Delan tentang Lady.


"Tapi bukan artis yang terkenal di layar kaca umum khan?"


"Aku ini artis dan selebgram spesial. Iya khan mas Delan?"


"Ya wajar khan? Aku khan anak buah peliharaan perusahaannya! Kenapa kamu jadi sewot? Pantas saja pernikahanmu batal dan calon suamimu memutuskan hubungannya denganmu. Mulutmu berbisa seperti bisa ular kobra!"


"Kau tuh yang berbisa! Kau pasti main belakang biar diangkat jadi artis dengan rayuan dan tubuhmu itu!"


"Ira, please! Mama mertuaku kesini tuh!Keep silent lah kalian!" pintaku melerai percekcokan diantara mereka berdua. Karena kulihat mama Tasya sedang melenggang ke arah kami.


"Hai, ladies!"


Mama memelukku erat. Menciumiku seraya mengucapkan selamat. Membuat kedua temanku ini seperti terlihat iri akan kebahagiaanku.


"Ini... hai, kamu... Jelita Lara?"


"Iya, Miss! Saya Jelita, teman Viona sewaktu SMA!"


"Iyakah? Waah... senangnya, ternyata dunia ini sempit ya!?"


Mama tertawa. Lalu menyalami Ira juga.


Aku tersadar, kalau Lady memanglah artis yang tergabung dalam perusahaan keluarga suamiku. Otomatis pasti Mama mengenalnya lebih dalam juga.

__ADS_1


Bahkan kulihat Lady sampai berani memeluk mama Tasya dan mencantelkan tangannya di pinggang Mama.


Terlihat lebih akrab Lady, malahan sama Mama di banding aku.


"Ya sudah! Kalian lanjutkan obrolan santainya. Saya harus menyambut tamu lain, ya?"


"Jelita ikut Miss ya?"


Mama Tasya menggandeng tangan Lady yang berjalan disampingnya.


Aku dan Ira tersenyum mengangguk berbarengan.


Sementara mas Delan suamiku juga pergi berjalan menghampiri para tamu relasi lainnya yang baru datang.


"Vi! Orang kelas atas itu beda ya, kalo udah ngomong!" bisik Ira membuatku terkikik. Seketika aku jadi rendevous masa lalu bersama Ira.


"Eh, gimana kabar kak Firman?" tanyaku membuat Ira terbahak-bahak.


"Ya Tuhan... kamu masih teringat cowok ganteng itu ya?"


"Kabarnya kak Firman jadian sama finalis Abnon itu khan?'


"Kata siapa, Vi?"


"Aku pernah dengar dari tante Widya. Inget ga, tanteku yang pernah buka lapak ayam geprek di mall waktu itu?"


"Iyakah?"


"Kak Firman makan di kedai tanteku sama ceweknya yang finalis Abang None itu. Cantik Raaaa! Pantesan kak Firman terlihat tak genit pada cewek-cewek lain. Pacarnya model papan atas, Ra!"


"Oh, mana kutahu! Tapi kudengar dari kak Reyhan kalau dia justru sekarang jadi jurnalis lepas di salah satu agency koran lokal. Kamu tahu gak?"


"Masa'? Dia khan nilainya cum laude! Pasti kariernya bagus di bidang pekerjaan. Gak mungkin hanya jadi seorang jurnalis?"


"Hei, hei hei! Ucapanmu bisa menyinggung banyak orang nanti, Nyonya Muda Viona Permata! Itu termasuk pasal pelecehan pada salah satu status pekerjaan."


"Hehehe... Maaf!"


Aku tersenyum malu. Bukan bermaksud ke arah situ sebenarnya. Cuma kaget dan tak menyangka, kalau seorang yang memiliki desikasi dan juga nilai tinggi di masa kuliahnya ternyata cukup kesulitan di masa kerjanya.


Begitulah hidup. Nilai bagus ternyata tak menjamin seseorang pintar juga di kehidupan nyatanya.


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...

__ADS_1


__ADS_2