
Ini adalah pertemuanku yang kedua kali dengan kak Tania juga Fika. Keduanya merangkul tubuhku erat sekali.
Bahkan Fika seolah memberiku kecupan kekuatan di sebelah pipi ini membuat haru hatiku.
"Semangat selalu ya!?!"
Aku mengangguk. Tersenyum manis ke arah kak Tania dan Fika.
Tiba-tiba...
"Huuu huhuhuhu... Aku gak sangka ternyata, kamu adalah mantan istri sodara tiriku! Huuu huuu huhuhu..."
Fika terisak menangis.
Tentu saja, aku jadi tak tega juga melihatnya.
"Yang sabar ya, Fika! Takdir membawa kita jadi saling mengenal!'
"Tapi takdir koq jahat banget! Papaku juga! Tanteku apalagi! Huuu huhuhu..."
Fika menangis seperti bocah ingusan. Padahal usia kami tak jauh beda. Sekitar dua puluh empat tahun kini.
Hanya kak Tania yang berkali-kali menghela nafas. Memperhatikan tingkah kami berdua.
"Viona! Saya dan Fika akan pindah ke Singapura. Selain untuk berobat, tapi juga untuk menenangkan diri dari keadaan yang ricuh ini."
"Saya mengerti, Kak!" jawabku tak berani berasumsi lebih.
Fika merangkul tubuhku erat. Bibirnya tak mampu mengeluarkan kata, tapi dari tatapannya yang dalam... aku bisa merasakan kesakitan dari luka yang diakibatkan perbuatan Papa dan Tantenya sendiri.
Tangisnya masih mengalir, meski kini tak lagi meratap.
"Kuat, Ya Vi!?!"
"Kakak dan Fika juga!"
"Harus kuat!" tambah kak Jo membuat Fika merangkulnya dan pecah lagi tangisnya.
__ADS_1
"Christian yang mengurus semuanya! Roger masih melanjutkan S2 nya di Amsterdam!" kata kak Jo lagi.
Aku kini mulai faham. Satu persatu putra putri papa Bambang mulai mengetahui kelakuan busuk sang Tante yang sangat disayangi Mamanya.
Tapi memang mau bilang apa. Nasi telah menjadi bubur. Semua kejadian itu sudah terjadi berpuluh-puluh tahun lalu.
Itu sebabnya kak Christian juga Fika sampai tak bisa berkata-kata di awal terbongkarnya rahasia 'Papa Bambang' dengan 'Tante Tasya'.
Tuhan tidak tidur.
Setelah sekian lama menutup aib yang suami tercintanya, kini saatnya satu persatu Tuhan ungkapkan hingga Papa Bambang dan Mama Tasya kelimpungan.
Kak Tania akhirnya mengambil sikap. Melaporkan sepupu serta mengajukan perceraian pada suami yang telah hampir tiga puluh tahun itu ia dampingi.
Dari titik terendah kehidupan seorang Bams, hingga puncak kesuksesan yang membuat sang suami terkenal di seantero bumi pertiwi.
Kini baik Papa Bambang dan Mama Tasya harus siap dengan konsekuensi dari langkah hidup yang mereka ambil.
Keduanya telah berani mengambil sikap menikah diam-diam di belakang kak Tania. Jadi mereka juga harus siap dengan impact yang akan mereka dapatkan.
Sama seperti halnya suamiku, Herdilan Firlando yang telah memutuskan menikah lagi dengan Lady Navisha tanpa sepengetahuanku. Aku yakin suatu saat nanti, Tuhan akan bukakan.
Hhh...
Kak Jo terlihat lebih pendiam. Lebih kalem dan lebih dingin padaku.
Apakah peristiwa tadi, yaitu kelakuanku mengobati luka kak Firman membuat kak Jo marah? Tapi terakhir justru terlihat pertemanan mereka mulai terjalin. Apa... hanya pertemanan semu saja? Hanya untuk terlihat bersikap manis di hadapanku? Entah...
Aku sesekali melirik wajah kak Jo. Membuat pria dewasa itu seolah merasa kontak batin denganku.
Kami saling bertatapan. Lama, tapi tak saling bicara.
Kak Tania mengajak kami berkaraoke di cafe keluarga tempat ketemuan.
Kata beliau sebagai kenangan sebelum pindah domisili ke luar negeri. Kami ingin senang, bukan ingin sedih. Begitu katanya lagi.
Aku tersenyum mengangguk tanda setuju.
__ADS_1
Ada pertemuan, maka dipastikan akan ada perpisahan. Meski kak Tania memintaku untuk membuat pasport dan mengurus visa supaya bisa mengunjunginya di hari senggang. Namun Indonesia-Singapura bukanlah tempat yang dekat bagi aku 'kaum sederhana'.
Aku bukan dari kalangan borju, yang bisa melipir setiap bulan hanya untuk melihat-lihat keindahan alam negeri orang.
Fika menyanyi. Suaranya merdu sekali. Aku sampai terhanyut mendengar lantunan irama yang Fika syairkan.
"Mau menari bersamaku?"
Aku terkejut mendapatkan ajakan kak Jo yang tersenyum manis sekali.
"Ayo, ayo, ayo..."
Fika dan kak Tania menyoraki kami. Bahkan kak Tania menghias rambut serta jubah mirip kepunyaan ratu dan raja padaku serta kak Jo.
Aku tertawa malu.
Tapi akhirnya menuruti ajakannya yang bikin hatiku gegana juga.
Kami menari mengiringi nyanyian Fika yang berganti beatnya menjadi lebih riang.
Mata ini saling memandang dan tanpa sadar terpukau satu sama lain.
Cup.
Kak Jo mengecup cepat pucuk b*birku. Namun seperkian detik langsung ia hapus dengan sapu tangannya.
"Maaf!"
Kata 'maaf' yang ia ucapkan membuatku gemetar seluruh jiwa raga. Bingung... Antara percaya atau tidak, kenapa semua ini terjadi pada hidupku.
Kak Jo, omnya Herdilan. Dan apakah pantas jika aku... janda keponakannya menjalin hubungan serius dengan omnya?
Ya Tuhan...
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1