
Tak terasa tiga minggu lebih Viona dan Dzakki telah tinggal di Ubud Bali.
Pemandangan indah dan hamparan sawah. Jalan-jalan yang bersih serta tertata rapi, semuanya tampak tenteram, asri dan damai.
Dzakki sebenarnya menyukai saat Cemen mengantar dan menjemputnya sekolah dengan sepeda motor balap yang dimodif.
Tapi kesepian hatinya yang jauh dari Kenken, Tini serta Roger membuat bocah imut itu merana.
Kadang Viona membawa Dzakki serta ke toko cinderamatanya di daerah kotanya. Tapi tetap saja, Dzakki merasa ada ruang kosong hampa di sudut hatinya.
Terlebih Roger belum juga mengunjungi di tempat barunya itu.
Seperti hari ini, cuaca hujan deras ketika ia selesai belajar di sekolah.
Sementara Bli Cemen belum juga datang menjemputnya. Membuat Dzakki hanya bisa memandang rinai hujan dari balik jendela kaca ruang kelasnya.
"Dzakki Boy, tunggu sebentar ya? Miss akan coba hubungi dulu Mamimu. Mungkin terjebak hujan deras, jadi belum sampai ke sini untuk menjemputmu!" kata Madam Aurora, pemilik yayasan sekaligus guru Dzakki di Taman Kanak-Kanak Edelwis.
Dzakki hanya diam tak menjawab. Ia cuma bisa menunduk menahan kegelisahan hatinya.
Wajah-wajah orang yang ia sayangi satu persatu singgah di otaknya. Dzakki kangen Kenken, Tini, Velli, Verrel, Roger, bahkan Fika yang jauh di negri Singapur sana.
"Hhh...!"
Helaan nafas panjangnya keluar dari bibir mungilnya.
Satu persatu kawan telah beranjak pulang setelah dijemput oleh orangtua mereka.
Jemari telunjuk mungil Dzakki mengukir huruf demi huruf di dasar kaca jendela yang berembun.
AYAH ROGER ♡ MAMI VIONA
Tanpa sadar ia menulis nama orang yang sangat ia rindui.
Anak itu memiliki mental kuat. Walau batinnya sedang sedih, namun sangat jarang Dzakki menangis mengeluarkan air mata.
Roger berhasil mendidiknya menjadi anak laki-laki yang kuat.
"Dzakki Boy, ini Maminya..."
__ADS_1
Madam Aurora memberikan handphone padanya. Terdengar suara Maminya berkata dari dalam telepon seluler itu.
"Sayang! Tunggu sebentar ya? Bli Cemen motornya terperosok di tanah lumpur. Jadinya mogok. Mami dan mbok Klon akan segera jemput Dzakki. Tunggu ya, Nak!? Jangan kemana-mana!"
Dzakki hanya mendengarkan suara sang Mami yang dianggapnya berisik. Tak ada sepatah katapun keluar dari bibir mungilnya menjawab perkataan Viona
Dzakki sedang diambang batas kesedihan mendalam.
"Sudah?" tanya Madam Aurora.
Dzakki memberikan handphone milik gurunya dengan senyum tipis.
"Terima masih, Madam!" katanya dengan suara pelan.
Semangatnya yang dulu selalu hangat dan membara, kini perlahan memudar. Ia takut sekali jika dirinya hidup sendiri, jauh dari orang-orang yang ia sayangi.
Dalam fikirannya, sang Mami sudah tak lagi menyayanginya hingga membawanya pergi jauh dari orang yang sangat Dzakki sayang.
Begitulah. Kesalahan Viona perlahan menumpuk pada Dzakki. Kesalahan yang menjadi kekecewaan sang buah hati.
...○○○○○○...
Tanah merah membuat mobil yang dikendarainya lewat rentalan di Denpasar Bali tertahan ditengah jalan.
Roger rindu pada anak angkatnya, Dzakki Boy Julian. Hampir tiga minggu mereka tak bersua. Setelah kejadian datangnya Herdilan ke rumah mendiang Jonathan Lordess, Omnya.
Sebenarnya Roger ingin sekali membawa Dzakki dan Viona ikut bersamanya. Tapi apa daya, ia tak bisa memaksa Viona.
Kekeras-kepalaannya membuat Roger tak mampu berbuat apa-apa. Bahkan Christian sang kakak pun tak dapat membantunya untuk melangkah bersama Viona.
Roger terkejut, melihat sesosok bocah yang berlarian di jalanan basah dan becek di tanah merah itu.
Itu... Dzakki?
"Dzakkiii!!!... Dzakkiii!!!" teriaknya lantang memanggil nama bocah imut yang berlari dengan tas ransel menutupi kepala.
Dzakki sepertinya tak mendengar panggilan kerasnya. Suara derasnya rinai hujan tak mampu membuat Roger berteriak lebih kencang. Ia segera berlari mengejar.
Dan Dzakki terkejut mengetahui siapa yang menarik tangannya hingga tubuhnya nyaris tertarik kebelakang.
"Ayah? Ayah!!! Ayaaah!!!"
__ADS_1
Dzakki menangis keras dalam pelukan Roger. Ini pertama kalinya anak yang seperti anak kandung bagi Roger itu menangis seperti memiliki masalah yang besar.
Hujan besar yang mengguyur tak keduanya hiraukan.
Dzakki menangis sesegukan. Tak lama kemudian Roger menggendong Dzakki masuk ke dalam mobil. Basah seluruh tubuh mereka.
"Kenapa kamu menerobos hujan, Boy? Mana Mamimu?" tanya Roger dengan tangan melap seluruh tubuh putra asuhnya yang kuyup.
"Mami katanya mau jemput. Tapi belum juga datang."
Roger mengerutukkan gigi gerahamnya. Kesal mendengar Dzakki bercerita.
Ternyata Viona lebih asyik dengan dirinya sendiri dibanding mengurusi buah hatinya! Katanya sayang anak! Katanya takut kehilangan! Tapi nyatanya semua hanya omong kosong! Perempuan egois! Lebih mementingkan diri sendiri!!!
Untungnya Roger membeli banyak pakaian untuk Dzakki. Sehingga baju basah Dzakki bisa segera diganti agar tidak sakit.
Roger tak pedulikan pakaiannya yang juga basah kuyup. Baginya Dzakki lebih berharga dari apapun di dunia ini. Untuk itu, ia akan berusaha sekuat tenaga melindungi putra angkatnya dari apapun.
Hujan perlahan mereda. Dan air yang menggenang juga mulai surut.
Seiring jalanan berbatu dan tanah merah kini tak lagi selicin tadi.
Roger perlahan menghidupkan mesin mobil rentalnya.
Dan diujung jalan ia melihat Viona dan Cemen berboncengan di sebuah motor.
Tin tin
Roger membunyikan klakson. Viona langsung mengenalinya.
"Putar balik! Dzakki bersamaku!" ujar Roger dingin sekali auranya.
Ia melirik pada Dzakki yang ternyata tertidur pulang setelah kehujanan.
Hati Roger semakin panas membara ketika matanya tanpa sengaja melihat satu tangan Viona memegang pinggang sang pelayan.
Giginya bergemerutuk menahan amarah.
Lihat saja kau nanti, Viona! Ancamnya dalam hati. Kesal tingkat tinggi.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1