
Still In Frame POV HERDILAN FIRLANDO
Aku meluncur menuju kawasan Bungur. Termangu melihat Lady Navisha yang luka lebam bagian dagu hingga mencuat kulit dagingnya membuatku bergidik ngeri.
Gila! Pamannya benar-benar gila!
"Sebaiknya lapor Polisi!" tukasku tidak senang melihat artis talent ku menjadi korban kekerasan yang brutal.
"Jangan, please Boss!" Tiba-tiba Lady memeluk erat tubuhku. Sangat erat hingga terdengar lenguhan tangisnya yang menyayat tepat di dada ini.
"Lady... Ini harus ditindak-lanjuti! Jika tidak, pamanmu itu akan semakin semena-mena padamu!"
"Jangan, jangan! Dia sudah berjanji, ini yang terakhir kali. Dia sudah dapatkan apa yang ia inginkan!"
"Apa?"
"Seluruh uang dan assetku selama dia memanagerin aku!"
"What??? Segampang itu hidupnya!"
Aku menghela nafas. Geram mendengarnya.
"It's Okay. Never mind! Aku sudah terbebas kini dari dia, Mas!"
"Mas!..."
Aku terhenyak mendengar Lady menyebutku dengan 'Mas'.
Seperti Viona tapi suaranya lebih lembut dan terdengar menggoda.
"Ini tidak benar, Lady! Ayo kita visum!"
Aku menuntun tangannya. Tapi ia tetap bersikukuh untuk tidak menuruti keinginanku.
"Aku ingin istirahat saja, Mas! Kumohon!"
Aku menatapnya. Kalah. Dan lagi-lagi hanya bisa mengusap lembut rambut kepalanya yang kemudian merebah di dadaku.
Aku tersadar. Khawatir akan ada bidik kamera wartawan iseng yang mengabadikan momen kami.
Aku membawanya keluar ruangan perawatan di apartemen. Kemudian kami berjalan cepat menuju mobilku. Dan...
__ADS_1
"Apartemen Bungur sudah tak aman buatmu! Aku akan bawa ke apartemen Angkasa!"
Lady yang kusuruh memakai masker serta kacamata sebelum keluar dari ruang perawatan, kembali membuka atribut-atribut yang di pakainya tadi.
Terlihat lelehan airmatanya kembali mengalir.
Aku hanya bisa mengintipnya diam-diam lewat kaca spion mobil yang ada di atas kemudiku. Tanpa sadar jemariku bergerak ke arah jemarinya. Kuremas dengan niat menyalurkan hawa panas suhu tubuhku padanya. Menyemangatinya, maksud awalku.
Tapi...
Tiba-tiba Lady merebahkan kepalanya di bahuku.
Rupanya tindakanku membuatnya semakin sedih dan lebih terbuka menceritakan nasib dirinya yang buruk sedari kecil.
"Kau tahu, Mas? Aku ini... diurus pamanku sedari usia lima belas tahun. Sejak saat itu aku sudah dibidik dia untuk menjadi apa yang ia inginkan. Itu pula sebabnya aku terkesan arogan dan suka pilih-pilih teman! Karena aku tidak mau ada teman yang melihat penderitaanku. Aku hanya... bersandiwara berteman!"
Seperti aku, sifatnya. Aku begitu karena aku juga muak teman bermuka dua. Makanya aku agak kesulitan berteman di masa remaja. Terlebih sejak kasus rusaknya wajahku oleh para sahabatku sendiri yang memang sangat berniat memberiku 'pelajaran hidup'.
Aku diam mendengarkan ceritanya. Hingga kami memasuki area parkiran apartemen Angkasa.
Ini adalah apartemenku sendiri. Hadiah ulang tahunku yang ke-dua puluh dari Mama. Namun jarang sekali kusambangi karena jaraknya yang cukup jauh dari rumah Mama.
"Masuklah!"
Aku menekan saklar lampu dan membuka sepatu vantopelku. Memasuki pintu diikuti oleh Lady yang masih kutuntun perlahan.
"Mas!... Maaf! Aku menyusahkanmu selalu!"
"Jangan bilang begitu, Lady! Kamu salah satu artis talent PH ku. Sudah sewajarnya aku melindungimu!"
Lady memelukku erat. Bahkan hingga tubuh kami menempel begitu terasa.
Hhh...
Kucoba longgarkan pelukannya. Lalu fokus mengamati wajahnya.
"Legammu lumayan parah. Padahal minggu depan kamu ada kerjaan pemotretan bukan?"
"I-iya. Maaf, Mas!"
"Sekarang istirahatlah! Lusa bisa kita ke dokter. Setelah itu ke klinik kecantikan untuk di laser dan dihilangkan lebam yang merusak wajah cantikmu."
__ADS_1
"Mas..."
"Iya?"
"Apa pendapatmu tentang aku?" tanyanya membuatku bingung.
"Maksudmu?"
"Apa... aku ini seperti wanita murahan dimatamu? Hik hik hiks..."
Lagi-lagi Lady menjatuhkan airmatanya.
Kutarik ia ke dalam kamar dan duduk di sofa empuknya.
"Kamu istimewa! Kamu bukanlah wanita murahan. Kenapa berkata seperti itu? Jangan pernah merendahkan dirimu sendiri apalagi dihadapan orang lain even itu aku, boss mu sendiri! Jangan, Lady!"
"Tapi pamanku selalu mengataiku wanita murahan! Aku selalu ia rutuk!" ceritanya dengan berderai air mata, membuatku mengusap linangannya dan menariknya dalam dekapanku.
"Sstt...! Sudahlah... jangan sedih lagi, Lady! Ada aku bersamamu di sini!"
"Sungguh? Sungguh kamu akan bersamaku di sini, Mas?"
Deg.
Aku terkena karma ucapanku sendiri. Seperti buah simalakama. Dimakan ibu mati, tak dimakan bapak yang mati.
Sementara Lady Navisha... kini ibarat cicak yang melekat erat di dinding. Memeluk tubuhku dengan begitu eratnya. Hingga otakku travelling karena tekanan demi tekanan dari bagian tubuh yang menonjol serta suhu tubuhnya yang makin menghangat.
"Lady...! Lady..., jangan peluk aku terus seperti ini!"
"Ke-kenapa? Apa kamu jijik, dengan pelukanku ini?"
"Bukan begitu..."
Tiba-tiba... Lady mengecup bibirku. Jemarinya mengusap lembut pipiku...terus menjalar ke seluruh wajah.
Hm... Aku lelaki normal. Apakah hanya diam saja mendapati rangsangan dari seorang perempuan seperti Lady di sebuah kamar di apartemenku yang hanya ada kita berdua saja? Ini salah siapa?... Aku yang seorang lelaki, atau dia... yang seorang wanita?
...ππππππ...
...β€β€β€BERSAMBUNGβ€β€β€...
__ADS_1