PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 106 AKU, KAK FIRMAN DAN KAK JONATHAN


__ADS_3

Aku mendengar suara klakson motor di garasi rumah Ayah Ibu.


Itu pasti kak Firman!


Kulangkahkan kaki ini menuju pintu depan dan membukanya. Terlihat kak Firman yang masih duduk di atas kendaraan roda dua lengkap dengan helm tertutupnya.


Aku setengah berlari membukakan kunci gerbang garasi. Menyambut kak Firman yang masih lengkap atribut berkendaraan.


Kutelisik dari atas hingga bawah.


Tak terlihat luka di sekujur tubuhnya. Bahkan jaketnya dan celana jeans-nya pun tidak ada tanda bekas penganiayaan.


"Kakak!"


Kak Firman memasukkan motornya ke garasi rumah. Mematikan mesin, lalu turun dengan santai. Ia membuka helm hingga terlihat wajah tampannya yang bonyok berdarah-darah.


Mataku memicing. Aku bergidig ngeri melihatnya.


"Ya Tuhan!" gumamku seraya menarik tangannya segera untuk duduk di kursi teras.


Seperangkat kotak obat telah kusiapkan termasuk wadah berisi air hangat untuk membersihkan luka di wajahnya.


"Apa... sebaiknya kita ke dokter saja, Kak?" tanyaku setelah mengamati lukanya yang cukup banyak.


Kak Firman tersenyum. Menggeleng pelan seraya berkata, "Tak perlu, Vi! Ini hanya luka ringan saja!"


"Tapi ini lumayan parah!" ucapku.


Feelingku benar, ini pasti perbuatan keluarga papa Bambang. Atau mungkin juga Herdilan karena tadi sempat mengancam Kak Firman juga di restoran.


"Pasti kerjaan dia! Ini ga salah lagi, pasti ini rencana jahat si Herdilan!" makiku kesal.


"Jangan su'udzon dulu! Bisa jadi fitnah nanti!"


Aku menelan saliva. Ngeri-ngeri sedap mengolesi lukanya yang cukup dalam dengan kapas basah air hangat.


"Aduh!" pekik kak Firman meringis kesakitan.


"Maaf!... Tahan ya, Kak?!"


Aku fokus pada luka di pelipisnya dulu. Me-lap pelan-pelan sekali darah segar yang mulai mengering di dahinya itu.


Ternyata... netra kami tiba-tiba saling bertubruk pandang. Seperti ada aliran listrik yang menyetrumku lewat pancaran bola matanya yang indah.



"Andai saja dulu aku lebih berani mengungkapkan rasa... mungkin saat ini, kita adalah pasangan yang berbahagia!"


Deg deg deg deg


Deg deg deg deg


Jantung ini bagaikan bedug yang ditabuh. Bibirku kelu tak mampu berkata apa-apa.

__ADS_1


Mengapa kak Firman mengatakan sesuatu yang sudah basi? Dulu aku sempat 'menunggu'nya mengucap kata suka, cinta dan sayang. Tapi ternyata... semua menguap begitu saja seiring rasa ini yang perlahan memudar dan menghilang.


"Maaf, Viona! Maaf ya..." tuturnya lagi.


Kini tangannya yang tadi meraih kedua bahuku hingga wajah kami sangat dekat kembali di lepas.


"Sekarang pun aku tak punya nyali untuk mengungkapkan rasa itu padamu. Kamu... terlalu indah untukku! Terlalu tinggi untuk kugapai!" gumamnya pelan membuatku menghela nafas.


Kau kurang berusaha, Kak! Lelaki itu yang di lihat oleh perempuan adalah kerja kerasnya dalam menakhlukan hati. Juga selain jodoh dan takdir Tuhan tentunya.


Aish... Pikiranku menjelajah ke masa lampau. Masa dimana aku dulu begitu mendambanya. Mengungkapkan rasa suka dan cintanya padaku.


Tapi itu dulu. Bukan masa sekarang.


Sekarang aku harus kembali ke masa kini. Dan berfikir normal, untuk tidak dulu mengarah ke hal-hal yang membahayakan diriku sendiri juga membahayakan banyak orang.


Bisa jadi ada orang yang tak suka kak Firman dekat-dekat dengan aku, hingga berani mengancam nyawa dengan begitu entengnya.


Selain itu, saat ini aku baru saja menyandang status 'janda'. Aku juga tak mau orang menilaiku mudah berpaling cinta. Terlebih mantan suamiku, Herdilan Firlando dan keluarganya. Mama Tasya serta papa Bambang.


Aku sedang hamil. Harus fokus untuk mengandung, melahirkan, mengurus dan membesarkan anakku nanti.


Bukan berfikir untuk diri sendiri. Juga berfikir mencari cinta lain lagi. Tidak.


"Kakak... Tahan sedikit. Mungkin ini agak perih," ucapku berusaha mengalihkan arah pembicaraan dan hendak mengoleskan cairan betadine ke luka di pelipis dan pipinya.


"Ufffhh..."


Kak Firman meringis menahan sakit. Aku ikut menyeringai seolah merasakan perihnya juga.


"Boleh lihat bagian mulutnya, kak?"


Kak Firman menganga. Membuka lebar mulutnya hingga terlihat ada robekan sedikit di sudut bibir kanannya.


"A aduh..."


"Maaf ya, maaf..."


Aku mengusap pelan bibirnya setengah gemetar.


"Viona...! Apakah kamu ada rasa padaku? Meski itu hanya secuil saja? Adakah cintamu sedikit untukku?"


Lagi-lagi dada ini bergemuruh. Seperti ada longsoran yang membuatku gundah.


"Kakak...! Aku adalah janda. Dan di perut ini ada seorang calon bayi yang akan lahir kedunia sekitar lima bulan lagi! Kumohon... jangan membuatku sedih dengan keadaanku!"


Mata kak Firman seolah menembus wajahku. Perlahan di sorong wajahnya makin mendekat ke arahku.


Tidak! Jangan merusak persahabatan kita, Kak! Kumohon...


Aku terus berdoa dalam hati.


Tin tin tin

__ADS_1


Suara klakson mobil berisik sekali parkir di depan gerbang rumahku. Tentunya jadi membuyarkan konsentrasi kak Firman yang sepertinya berusaha menembakku.


Aku salah. Telah menyuruhnya datang ke rumah ini dan mengobati luka di wajahnya.


Hal itu justru bisa berakibat fatal bagiku dan juga persahabatan kita.


Tapi untungnya ada pengalihan lain yang membuat kami sama-sama menoleh melihat ke arah sang pengendara sedan warna hitam itu.


"Viona! Ayo! Kamu harus ikut aku, Tania dan Fika menunggumu dan ingin bertemu!"


Kak Jonathan!


Kak Jonathan keluar dari mobilnya. Wajahnya terlihat datar menatap ke arahku.


"Siapa pria dewasa itu, Vi?" tanya Kak Firman pelan. Matanya terus menatap ke arah kak Jo berdiri. Ada kilat cemburu jelas tergambar di sana.


Aku segera berdiri. Setengah berlari menghampiri kak Jo dan tak menghiraukan pertanyaan kak Firman.



"Kakak! Apa kabar?" tanyaku dengan senyuman sumringah.


"Baik!" jawabnya masih datar.



"Masuk, Kak!" ajakku sopan. Lengkap dengan senyuman.


"Ga usah! Bereskan saja dulu urusanmu dengan pemuda itu! Setelah itu lekas kita berangkat bertemu Tania!" jawab kak Jo tanpa ekspresi.


Raut wajah kak Jo nampak kusam dan dingin.


Sepertinya hatinya sedang kacau. Semoga keadaan tak sekacau yang kubayangkan.


Aku hanya bisa menghela nafas sembari menelan saliva.


Aku mencoba menarik jemari kak Jo, namun ia tepis pelan.


"Jangan dituntun, aku bukan manula!" tukasnya.


Ya ampun, Kak! Jujur aku ingin ngakak, tapi kutatap wajah kak Firman yang duduk di kursi santai teras memandangi kami yang terlihat akrab satu sama lain.


"Kak Jo, ini kakak katingku waktu kuliah dulu. Kak Firman namanya. Kak Firman, ini kak Jonathan... dia,"


"Kenalkan, Jonathan! Orang terdekat Viona!" selanya sambil mengulurkan jemari kanannya dan mereka saling berjabatan.


Wow... Kak Jo berani sekali memperkenalkan dirinya. Aduh!!?! Jangan sampai ia kebablasan lalu bilang kalau dirinya adalah Om nya Herdilan. Bisa mati kutu aku dihadapan kak Firman kalau sampai terbuka rahasia itu!


Garis rahang kak Jo terlihat mengeras. Begitu pula sorot mata kak Firman mengandung magnet hingga nyaris tak berkedip dan menatap penuh lawan bicaranya kini.


Hiks.


Tuhan, tolong aku! Please...

__ADS_1


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2