
Aku terkejut, seseorang menyentuh pundakku.
"Pak Ando kenapa?"
"Maaf, Miss Gerald! Saya sakit kepala!" jawabku seraya memijit pelipisku kuat-kuat.
"Di kantor saya ada kotak obat. Apa bapak mau minum obat Panadol pereda rasa nyeri? Biar saya ambilkan dulu!"
"Miss... maaf tunggu, Miss! Apa saya bisa minta biodata lengkap Dzakki Boy Julian?"
"Dzakki Boy Julian? Kelas Playgroup B itu ya?"
"Iya."
"Baik, nanti sekalian saya cari!"
Aku menunggu miss Geraldine dengan gugup.
Aku bisa mendapatkan alamat tempat tinggal istri dan juga putraku.
Kini pencarianku semakin dekat.
Kini pertemuanku dengan Viona sudah ada diujung mata.
Mama... doakan aku, Ma! Kini aku bisa menemui istri dan putraku di kediaman mereka, Ma!
"Pak Ando! Ini obat panadolnya. Dan ini..."
"Terima kasih banyak, Miss! Terima kasih banyak."
Dengan hati berdebar kuraih buku besar yang miss Geraldine sodorkan.
Guru perempuan tersenyum sembari mengangguk padaku.
"Oh iya, pak Ando. Nanti setelah jam pelajaran usai, kami mau ada rapat para tutor."
"Miss Gerald, mohon maaf beribu maaf...! Saya bisa izin pulang lebih dulu? Sepertinya kepala saya ini tak bisa ditahan lagi. Jadi saya mohon maaf tak bisa ikut rapat!"
"Hm... baiklah kalau begitu. Biar besok saja saya kasih kisi-kisi hasil rapatnya ya?"
"Terima kasih banyak ya, Miss!"
Aku mengambil gelas berisi air. Meneguk sebutir obat yang diberikan miss Geraldine.
Setelah itu kembali merebahkan kepala di atas meja seraya memejamkan mata.
Kuharap sakit kepala migrain ini segera membaik. Aku berharap waktu cepat berputar. Agar aku bisa menuntaskan tugas mengajarku dan segera mencari alamat rumah Viona dan Dzakki.
Seperti mimpi. Kucari-cari istri dan putraku, ternyata justru ada di depan mata.
Bahkan Dzakki, anak imut berhati emas itu adalah putraku. Putra biologisku.
Meski Viona seolah tidak mau mengakuiku sebagai Ayahnya dan mencantumkan nama Jonathan Lordess sebagai ayah dari Dzakki. Tetaplah Dzakki adalah anakku. Anak kandungku.
Viona tidak bisa menyembunyikan kenyataan yang ada.
__ADS_1
Tetesan air mata ini kembali basah di pipi.
Sakit kepalaku berangsur pulih. Bel Jam pelajaran pun kembali berbunyi. Tanda istirahat para bocah, usai sudah.
Aku melaksanakan tugasku sebagai guru olahraga. Berjalan pelan menuju kelas TK A2. Jadwalku mengajar di kelas itu.
Walau aku sedang ada masalah, tugasku mengajar tidak boleh menjadi batu sandungan.
Aku percaya, Tuhan akan memudahkan jalanku. Jika waktunya sudah tiba.
...........
Rumah Viona! Ternyata ini rumah yang selama ini menaungi anak dan istriku.
Rumah yang asri. Terlihat memang modelnya agak kuno. Tapi terkesan hangat dan penuh kedamaian. Walau aku kurang yakin kalau selama ini Vionalah yang menata keseluruhannya. Karena terlihat berbeda stylenya.
Ting tong
Ting tong
Ting tong
....
Kenapa sepi sekali?
Ah, aku ingat kata Miss Anya! Viona sedang wisuda. Hm... Apa Viona melanjutkan S2-nya? Tapi... dia bekerja di RSJ sebagai konselor. Artinya... Viona calon psikolog? Berarti dia ambil matkul lain untuk titel kesarjanaan yang berbeda ternyata.
Harus sabar menanti. Viona berjuang membesarkan Dzakki seorang diri menjalani hidupnya yang berat tanpa aku.
Aku berjongkok di gerbang rumah Viona. Berharap istri pertamaku itu pulang segera bersama putra kami tercinta.
Namun ternyata... sampai pukul tiga sore dan adzan Ashar memanggil, Viona juga Dzakki tak kunjung kembali.
Herdilan akhirnya hanya bisa pasrah. Lalu pergi setelah pukul lima sore dan mereka belum juga pulang.
...Pov Herdilan The end...
...⚘⚘⚘⚘⚘...
Di tempat berbeda, setelah acara wisuda selesai, Viona dan keluarga mungilnya pergi ke luar kota mencari angin segar.
Kota hujan jadi pilihan mereka. Toko roti unyil dan toko asinan buah menjadi tempat favorit Bi Tini dan Viona.
"Kita nongkrong aja di sini! Ribet kalau perempuan sudah masuk toko cinderamata!" sungut Roger yang kegerahan dengan kemeja dan jas formalnya.
Untungnya Dzakki selalu membawa pakaian ganti yang disediakan bi Tini setiap saat. Sehingga ia dapat berganti pakaian yang lebih nyaman.
"Ger, Ger...! Tolong bantu, please...!" teriak Viona yang kesulitan membawa kardus-kardus oleh-oleh untuk Mutia dan keluarga, juga untuk ia bagikan pada Tante dan Om adik dari almarhumah Ibunya.
Roger segera berdiri dan berlari menaiki anak tangga menghampiri Viona.
"Mami!"
__ADS_1
"Iya, Sayang?"
"Kenapa panggil Ayah dengan sebutan Ger, Ger! Tidak sopan!"
Roger tertawa mengangguk pada Dzakki.
"Tuh, tidak sopan. Dengar kata Dzakki!"
"Terus... panggilnya apa dong?" jawab Viona dengan senyum lebar.
"Ya Ayah. Ayah khan suka panggil Mami 'Mami'. Iya khan Yah?"
"Iya. Betul. Seratus untuk Dzakki!"
"Iya deh, Mami panggilnya Ayah!"
"Coba panggil Ayah!"
Hadeh anak ini! Bikin urusan makin rumit. gumam hati kecil Viona. Anaknya super cerdas. Selalu membuatnya bergetar. Ibarat kata, seperti menyimpan kupu-kupu dan lebah dalam hati.
"Ayah, tolong bantu!"
Viona selalu jadi bulan-bulanan Tini, Kenken dan Dzakki yang tertawa puas kepadanya.
"Ayo, pulang! Wawa' masih harus masak untuk besok!" ajak Tini pada semua.
"Besok memang ada apa?" tanya Viona bingung.
"Upsss... Wawa' keceplosan ya? Padahal kemarin Wawa' bilang, Dzakki... jangan buka rahasia ya...kalau besok mau ada acara untuk Mami! Kita kumpul semua makan besar bersama keluarga!"
Aih?
Kata-kata Dzakki membuat Viona menoleh padanya dan Dzakki hanya menutup mulutnya segera melihat mata bi Tini yang terbelalak dengan senyum melebar.
Dzakki merasa bersalah.
"Maaf... Maaf! Ayah!"
Roger yang membawa banyak totebag hanya tertawa pada sang bocah.
"Tidak apa, Mami akan Ayah beritahu kalau besok akan banyak tamu di rumah kita!"
"Tamu? Siapa?" pekik Viona dengan mata membulat.
"Pokoknya... hari istimewa Mami, super spesial!"
Viona tersipu. Bahagia hatinya mendapatkan surprise dari orang-orang tersayang.
"Ayo, ayo... kita pulang!"
Kenken yang menunggu diparkiran segera keluar dari mobil membantu Roger memasukkan barang belanjaan ke bagasi.
Mereka pun pulang dengan hati riang.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1