
Seorang dokter menghampiriku.
"Maaf, Nona! Jangan ganggu pasien yang ini!" katanya sopan, namun terdengar kasar ucapannya bagiku. Maklum, aku sedang PMS. Jadi sedikit emosional dan mudah marah tersenggol amarah.
"Saya tidak mengganggu, Dok! Kedatangan saya kemari sudah mendapat izin dari kepala rumah sakit untuk observasi. Dan ini juga tugas kampus, bukan hanya obrolan unfaedah mengganggu para pasien!"
Aku berdiri dari kursi bangsal. Menatap tajam dokter pria yang tadi menegur asal padaku.
Dia tersenyum. Menggaruk-garuk kepalanya yang entah gatal entah tidak. Ora urus aku! Ora peduli!!!
Aku kesal sekali. Hendak berjalan pergi tapi lenganku ditahan dokter jiwa tadi.
"Bukan begitu maksudku, Nona cantik! Jangan tersinggung!"
"Intonasi dan pengucapan Anda memang tidak salah. Tapi kata-kata yang Anda keluarkan tadi membuat saya seperti orang yang salah!" ujarku tegas.
Kini justru sang dokter itu yang terlihat insecure dan serba salah padaku.
"Stt...sstt! Viona! Ish... Nih anak abis makan apa sih tadi siang?"
Reo, salah seorang temanku mendekat. Memberi kode pada sang dokter dengan membungkukkan badannya tanda minta maaf.
"Apa sih, Yo? Ngapain lu bungkuk-bungkuk hormat gerak gitu? Tujuan kita khan jelas! Bukan main-main masuk Rumah Sakit ini! Tugas kampus, bukan mau mengganggu ketentraman para dokter yang sedang istirahat siang!"
Aku makin jengkel. Kawan kampus priaku yang satu ini memang kadang terlalu kaku. Hidupnya terlalu manut pada aturan. Maklum, dia adalah Keturunan Ke-Tujuh Raja Pada Sebuah Pulau.
Tiba-tiba...
Mama Tasya menjambak rambutku. Tangan satunya menarik kerah kemejaku hingga tubuh ini hampir saja jatuh tersungkur jika tak dibantu Reo dan sang dokter jiwa.
Mama Tasya berteriak keras. Memaki-maki sambil menunjuk wajahku. Katanya, jangan masuk PH-nya jika punya niat jahat untuk menyakitinya juga putra kesayangannya.
Membuat aku berdiri gemetar nyaris wajah kena cakar.
Noerazzura, Reina dan juga Hendra berlarian ke arahku. Mereka yang tadi sibuk dengan buku catatan dan target objek masing-masing segera menghampiriku.
Beberapa tenaga kesehatan datang dan mengamankan Tasya Jessica yang makin histeris sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.
Ia naik ke atas kursi bangsal. Berteriak dengan kalimat yang tak jelas, membuat kami yang waras hanya bisa menghela nafas dan yang sama sakit jiwanya berteriak-teriak kegirangan.
Bahkan ada beberapa pasien yang ikutan naik juga ke kursi panjang. Lalu berorasi layaknya Sang Proklamator. Sementara yang lain tertawa, bernyanyi dan ikut ramai. Sehingga suasananya pun menjadi tak terkendali.
Dasar orang gila.
__ADS_1
"Nah! Kukata juga apa!" rutuk Reo. Wajahnya sedikit tegang. Sepertinya dia terbiasa hidup mengikuti protokoler keluarganya yang serba disiplin. Maklumlah, Reo itu ningrat berdarah biru.
Sementara Reina menggandengku yang masih mematung, diam membisu karena kaget setengah mati.
"Hehehe... Lama-lama kita jadi ikutan ga waras nih kalo ada di sini ya, Vi? Asli, gue serasa Mendadak Dikejar Setan!" kata Reina berusaha mencandaiku.
"Lha... Emak-emak dilawan! Viona khan juga emak-emak! Kemungkinan tuh emak tahu, kalo lo juga emak-emak ya Vi! Hahaha... Adauw, sakit nih! Si Noer main cubit-cubitan!"
Hendra dan Noerazzura memang pasangan yang gesrek. Mereka sudah bersama sejak awal jadi maba. Tapi gaya pacaran mereka bukanlah gaya yang cinta bucin-bucinan. Justru cinta yang saling jitak, saling cubit, saling ledek. Tak pernah kudengar mereka bicara mesra satu sama lain. Ada ternyata ya orang pacaran model begitu.
"Semangat, Viona! Hal-hal yang tak terduga di RSJ itu ya seperti ini. Hehehe...! Ayo ah... kita cari pak Zack Lee, kepala rumah sakit ini. Tadi katanya beliau mau mentraktir kita dulu minum es boba di kantornya!"
"Si Noer! Perasaan lo minumnya es boba mulu deh! Obesitas lo lama-lama!" tukas Hendra pada kekasihnya.
"Ga papa ya Noer, obesitas juga. Seksi, gemoy, semok. Dan pastinya bikin Hendra makin cinta! Hehehe..." jawab Reina membuat pria muda itu pura-pura mau muntah dan Noer tertawa seraya memeletkan lidahnya pada Hendra.
"Oek..."
Aku yang tadi pucat pias, berangsur-angsur kembali normal dan ikut tersenyum tipis mendengar banyolan ngasal teman-teman kampus itu.
Thanks, gaess! Kalian luar biasa. Aku yang tadinya gugup, gemetar... kini perlahan kembali normal. Hanya hati ini yang sedih melihat mama Tasya yang jadi seperti itu. Hhh... Ya Tuhan! Ini semua adalah buah dari kelakuannya sendiri memang, yang tak bisa menerima suratan nasib Tuhan. Dan berakhir menjadi goncangan yang maha kuat bagi jiwa mama Tasya.
Para pasien ODGD satu persatu dibawa masuk oleh para nakes dan dokter tadi.
"Woles sajalah, Yo! Nanti Noer traktir Reo semangkok bakso! Hehehe..."
"Lha? Kenapa jadi si Reo yang lo traktir, Noer? Emang pacar lo siapa? Reo apa gue?" kata Hendra yang langsung berang dengan perkataan pacarnya itu.
"Haish... Kalian nih! Ga di kampus ga di mana-mana! Ribut mulu kerjaannya. Tapi kagak putus-putus! Hadeh!" timpal Reina sambil menepuk dahinya.
"Maaf, Reo ga suka bakso! Dilarang Mami sedari kecil, karena banyak mengandung boraks dan formalin!"
"Yassalam..." kata Reina makin keras menepuk dahinya lagi.
Semua tertawa ngikik termasuk aku.
"Viona Yuliana!"
Kami berlima kompak menengok ke arah panggilan suara dari ruangan lain.
"Iya? Saya, Dok?"
"Dipanggil Dokter Diandra diruangannya!" jelas seorang perempuan yang kukira salah seorang dokter juga.
"Dokter Diandra?"
__ADS_1
"Yang tadi itu lho?!"
"Oh, iya. Terima kasih, Kak! Maaf, ruangannya dimana ya?"
"Lurus saja, lalu belok kanan. Ada koq itu papan namanya di depan pintu ruangan."
"Baik, Kak! Terima kasih infonya!" kataku sambil menarik nafas.
Pasti aku dapat nilai merah ini!
"Aku pergi dulu, ya?" kataku pamit pada teman-teman.
"Vi! Jangan lupa, pakai pesona emak-emak! Biar sang dokter mengampunimu! Hehehe..." ledek Hendra membuatku tersenyum kecut.
"Ayo, semangat!" kata Reina dan Noer berbarengan.
"Hati-hati, Viona!" ucap Reo singkat. Tapi matanya memandang cemas ke arahku.
Pasti aku akan kena skor. Dan kalaupun ini berimbas pada nilai teman-temanku, sudah pasti aku akan membela diri. Aku memang yang buat keributan di bangsalnya. Tapi bukan berarti kami sekelompok mendapat nilai anjlok.
Jangan khawatir, Reo, Reina, Noer juga Hendra! Aku tak akan membuat nilai kalian ikut rendah. Kalaupun aku memang harus bertanggung jawab, biar nilaiku saja yang dia kasih merah. Yang lain, jangan!
....
Aku membaca sebuah papan nama yang tertera di depan sebuah pintu.
...DOKTER DIANDRA ALEXANDER SpKJ...
Pasti ini ruangannya.
Tok tok tok
"Masuk!"
Terdengar suara dari balik pintu. Dan aku mengikuti arahannya.
Aku masuk, lalu menutup kembali pintu ruangannya. Tapi... kulihat wajahnya seperti melihat sesuatu yang menegangkan. Bola matanya membulat dan bibirnya agak terbuka.
Telunjuknya kemudian mengarah ke tempat...
"Kamu, sedang menstruasi ya?"
"Hah???!!"
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1