
Aku memasuki belakang sekolah Taman Kanak-Kanak yang berbatasan dengan tembok akhir perumahan elit.
Ada lobang cukup besar di tembok itu. Membuatku penasaran ingin masuk kedalamnya.
Ternyata didalamnya seperti hutan kecil yang tersembunyi dan hanya jadi lahan penyerap air karena ada kolam kecil di sana.
Aku terus menerobos masuk. Meskipun ada plang tertulis "DILARANG MASUK", tapi tak kuhiraukan karena rasa penasaran.
Ternyata... ada bangunan kecil yang terbuat dari kayu. Terlihat rapuh dan sangat tidak layak memang, tapi... fikiranku justru tertuju pada rumah gubuk itu.
Mungkinkah aku bisa tinggal sementara dirumah itu, sampai keadaanku membaik dan otakku bisa berfikir jernih?
Aku mencoba mendekati gubuk itu.
Sepi. Dan benar-benar kosong melompong selain sampah berserakan dimana-mana.
Krieeeet...
Kucoba buka pintunya.
Beberapa burung gereja yang tadi bergerombol didepan rumah langsung terbang.
Suasana yang sangat asri dan alami. Tapi bisa dibayangkan akan sangat menyeramkan jika dimalam hari.
Aku mencoba mencabuti rerumputan tinggi yang tumbuh disekitar gubuk dengan tangan ini.
Khawatir dimalam hari ular melintas dan masuk melewati lobang kecil diarea dinding kayu gubuk jika kutempati nanti.
Lumayanlah! Masih lebih baik daripada aku ngemper dipinggiran toko orang dan diguyur di pagi hari nanti.
Hidup yang miris.
Dari CEO kini turun derajat jadi tunawisma. Bahkan meminta-minta pekerjaan dari satu orang ke orang lainnya. Sangat mengenaskan sekali hidupku ini.
Mama,... Viona...! Kalian dimana? Bagaimana keadaan kalian kini? Apakah lebih miris dari aku? Dan Viona... Aku tak tahu keadaanmu sampai sekarang. Andai saja Papa tak menembak om Jonathan Lordess,... mungkin aku masih bisa mendapatkan kabarmu darinya.
Hhh... Kuhela nafas sebagai jeda dari pemikiranku yang seperti kaset kusut.
Viona... Apa benar kamu ada hubungan dengan om Lordess? Apa iya kamu bermain cinta dengannya hingga kau berniat menikah lagi setelah anakku lahir?
__ADS_1
Viona! Kamu pasti sekarang sudah melahirkan. Dimana kamu Viona? Dimana? Tidakkah ada sedikit kenangan untuk mengingatku, Vio?
Ya. Aku jahat. Aku pria kejam bagimu. Namun semua hanyalah kekhilafan semata. Tiada dari dasar hati yang terdalam, untuk menyakitimu. Kumohon... maafkanlah aku, Viona!
Hanya helaan demi helaan nafas, yang hanya bisa kuhempaskan untuk meringankan beban batinku pada Viona.
Andaikan saja aku tidak menghiraukan godaan Lady, andaikan saja aku tak menoleh sedikitpun pada perempuan setan itu,... hidupku pasti tidak akan seperti ini.
Tidak harus luntang-lantung tak karuan seperti orang kebingungan.
Meskipun rumah tangga Papa Mama dihantam badai besar yang memporakporandakan kehidupan kami, jika aku masih bersama Viona...hidupku tak kan sehancur ini.
Aku sangat bodoh. Tolol dan goblok.
Memilih Lady dan menyakiti Viona.
Inilah karmanya.
Bahkan aku sampai hati menghilangnya nyawa seorang teman, yakni Firman. Meskipun sama sekali tak ada maksud membunuh, tapi tindakanku keji dan diluar batas.
Itu sebabnya kurungan penjara lima tahun jadi hukuman setimpal buatku yang tak berperikemanusiaan.
Tapi mulai dari mana? Harus minta tolong pada siapa?
Sedangkan semua barang berharga serta surat-surat penting hidupku termasuk ijazah tak ada padaku.
Hanya berbekal Kartu Tanda Penduduk, yang pak Kalapas berikan padaku sebelum aku pergi meninggalkan penjara. Itu saja, surat berhargaku.
Aku menangis sesegukan dipinggir kolam. Mencoba meratap pada Tuhan. Berharap Tuhan memberi jawaban dan keringanan. Hingga hidupku kembali normal seperti kebanyakan orang.
Aku ingin berubah. Ingin kembali seperti manusia bermoral. Yang punya rasa belas kasih dan empati tinggi. Yang selalu mencoba rendah hati serta menahan diri. Dari sifat sombong dan angkuh yang pernah menguasai.
Tuhan... Tolonglah hamba-Mu ini! Tolonglah Tuhan!
Malam ini aku tidur di gubuk diatas dipan kayu. Tanpa alas dan tanpa kasur.
Sebenarnya bagiku sudah biasa. Dan sudah terbiasa selama empat tahun lima bulan mendekam dalam tahanan.
Tapi ternyata hidup diluar bui, lebih kejam lagi. Karena kehidupanku kini belumlah pasti.
__ADS_1
Untuk itu aku bersyukur menemukan gubuk kayu ini sebagai tempat bernaung sementara.
Setidaknya aku tak akan kehujanan juga kepanasan. Dan bisa tidur tanpa ada orang yang menghardik juga memaki jika bangun kesiangan.
............
Pagi hari tubuhku menggigil. Perutku lapar karena dari kemarin siang tak lagi nemu makanan.
Pakaian ini telah dua hari dibadan. Basah keringat hingga kembali kering, tak ada lain pakaian.
Hingga tiba-tiba...
Ada suara langkah kaki mendekat.
Membuatku bergegas bersembunyi khawatir petugas mengusirku pergi.
Aku tidak boleh ketahuan tinggal disini. Ini sudah merupakan suatu anugerah kebaikan Tuhan dalam memberiku naungan.
Dengan nafas tersengal dan jantung degdegan. Aku bersembunyi dibalik pohon besar.
Ternyata... Bukan petugas yang datang. Melainkan seorang bocah laki-laki yang berumir sekitar empat tahun.
Kuperhatikan tingkahnya dari kejauhan. Ternyata ia sedang asyik memandangi sekumpulan burung gereja. Dan...
Hup.
Untung berhasil kutangkap tubuh mungilnya.
Kalau tidak, basah tubuhnya tercebur kolam resapan air hujan yang lumayan dangkal.
Bocah ini... mengingatkanku pada seseorang.
Viona! Lagi-lagi kuingat dirimu, Viona!
Tuhan! Jodohkanlah lagi aku dengan Viona, Tuhan!
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1