
Liburan yang menyenangkan sekali bagiku. Cuacanya juga seolah mengizinkanku bersenang-senang bersama Ira.
Bahkan di Lombok perutku seolah menampung semua jenis makanan demi untuk memuaskan rasa keingin tahuanku pada semua kuliner khas nya.
Seperti janji mas Delan, keesokan harinya ia benar-benar datang juga meski sore baru tiba.
Ira menolak ikut keluar bersamaku dan mas Delan. Alasannya perut Ira sakit karena baru awal datang bulan.
"Uhuk uhuk!" Terlihat mas Delan terbatuk-batuk mendengar alasan sahabatku itu. Membuatku tertawa dan memakluminya.
Ira pasti sengaja ga mau ikut. Ia seolah memberiku ruang untuk bersenang-senang dengan Mas Delan.
Akhirnya aku hanya berdua mas Delan keliling Mataram untuk kulineran dan hang out ke tempat-tempat yang indah.
"Yang... Ini enak lho! Coba deh!"
Mas Delan menyodorkan gelas plastik minuman bobanya padaku. Dengan senyum dikulum, kuseruput es bobanya yang rasa coklatnya enak luar biasa.
"Enak khan? Coklatnya creamy banget ya?"
Aku mengangguk-angguk. Mengusap pelan pipinya yang sedikit terlihat tirus.
"Capek kerja ya, Mas? Sampe terlihat agak kurusan ini rahangnya!" ujarku membuatnya melting.
"Aku kerja untuk masa depan istri dan anakku kelak, sayang!"
Aku lebih meleleh mendengar ucapannya yang tulus dengan mata menatap netraku.
"Hhh... Jangan terlalu keras bekerja Mas! Hidup ini juga harus seimbang. Kamu bukan mesin. Dan mesin pun butuh istirahat. Yuk... kita cari salon buat perawatan lengkap manjain kamu!"
"Kemana, Yang?"
"Ayo, pokoknya hari ini Mas harus nurut sama aku!"
Kubawa mas Delan ke salon yang ada di tengah kota Mataram.
Memanjakan mas Delan membuat hatiku ikut bahagia. Ia di massage, rambutnya juga di rawat. Bahkan kuku-kuku kakinya mas Delan di pedicure medicure serta.
Aku tertawa-tawa melihat mas Delan yang awalnya menolak hingga akhirnya nyaman sampai ketiduran.
"Makasih ya, Vi! Kamu memang istri terbaikku!" kata mas Delan mengecup sebelah pipiku setelah selesai di salon.
"Mas, aku mau apload selfie kita dulu. Boleh ya?"
__ADS_1
Mas Delan mengangguk dengan senyuman manis.
Cekrek.
Likean pertama medsosku ternyata adalah Jelita Lara. Artis yang nama aslinya adalah Lady Navisha, temanku yang artis talentnya perusahaan mas Delan.
Aku tak sangka, kalau dia ternyata mem-followku guna mengikuti aktifitasku yang notebene adalah istri dari produser eksekutifnya.
Hm...
Aku kembali melanjutkan jalan-jalan bulan madu kami yang kedua. Menikmati indahnya panorama alam bumi Lombok yang memanjakan mata dan hati ini.
Pukul tiga sore, kami akhirnya memilih bersantai ria di pantai Pink lagi. Tak jauh dari hotel tempat kami menginap.
"Mas... Ini kelapa mudanya!"
Aku tersenyum ke arahnya yang sedang duduk melamun dipinggiran pantai dengan mata memandang ke lautan.
"Terima kasih ya, Viona!"
Cup.
"Ish?! Istriku sekarang udah berani ya cium lebih dulu!" godanya membuatku tersipu.
"Hehehe...! Istri boleh dong sun suami. Sekali-sekali memperlihatkan rasa sayangnya yang tulus pada suami tercinta yang sudah sangat hebatnya menyenangkan kehidupan istrinya."
Mas Delan merangkulku. Ia menciumi pipiku gemas.
Treeet... treeet... treeet...
Wajahnya terlihat pias.
"Yang...! Aku angkat telepon dulu ya?"
Aku mengangguk. Mengusap pelan pipinya yang kini mulus karena sudah di cukur bersih sang capster tadi di salon.
...In frame ......
Herdilan mengambil ponsel dari kantong celana denimnya.
Tertera nama : Nyonya Kedua in calling, membuat pias wajahnya seketika.
__ADS_1
Viona sang istri sedang duduk disampingnya. Tapi Lady Navisha menelponnya tiba-tiba.
Ia meminta izin sang istri untuk mengangkat telepon dan menjauh ke area lain.
"Hallo? Ya Lady? Ada apa?"
...[Mas... Kalian sedang apa? Kalian sedang bersenang-senang?]...
"Please Lady! Aku sedang bersama Viona! Jangan memancing kecurigaannya! Nanti aku yang akan menghubungimu!"
...[Perutku sakit, Mas! Aku ga enak badan juga. Hiks... Kamu malah marah-marah padaku, bukannya senang aku telepon kamu!]...
"Bukan begitu, Dy... Aku sedang bersama Viona. Mengertilah sedikit! Aku sudah begitu beraninya mengambil resiko melakukan semua ini bersamamu! Jadi..."
...Klik...
Hhh...
Herdilan menghela nafasnya. Lady telah mematikan teleponnya tanpa ucapan lain. Ia mulai mengerti kalau istri keduanya itu sedang marah dan sebal padanya.
Tring.
Satu pesan masuk. Dari Nyonya Kedua.
[Aku sedang hamil, Mas! Kamu harus mengerti hormon dan emosi perempuan hamil! Kalau kamu ga percaya sama aku, silakan tanya sendiri sama Mamamu]
Hhh...
"Siapa Mas?"
Delan meloncat kaget. Viona tiba-tiba berdiri disampingnya tanpa ia sadari.
"A-atasanku yang super nyebelin!"
"Hahaha... atasan Mas Delan? Siapa? Mama Tasya? Jangan gitu ish sama orangtua sendiri!"
Delan mengusap raut wajahnya yang masih terlihat tegang.
Untung saja istrinya bukanlah perempuan yang memiliki kekepoan dalam level tinggi. Ia hanya menggoda dan tak pernah bersikap curigaan hingga merebut handphone milik suaminya sendiri.
In Frame Finish
...๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ...
...โคโคโคBERSAMBUNGโคโคโค...
__ADS_1