
Hari yang ditentukan Herdilan melamar Kartika telah tiba.
Keluarga besarnya telah lengkap dengan semua bawaan seserahan. Terkecuali Fika dan sang suami. Tetapi itu tidak mengurangi rasa dihati Herdilan yang membayangkan kebahagiaan menikah dengan Kartika sebentar lagi.
Wajah tampannya terlihat semakin cerah berseri. Membuat semua orang yang melihatnya ikut terpesona senyum bahagianya yang selalu tersungging.
Kartika benar-benar merasakan aura ketampanan Herdilan menjadi berlipat ganda.
Entah karena rasa cinta yang hadir dihatinya, hingga pandangan matanya hanya tertuju pada duda keren satu itu. Atau memang Herdilan semakin ganteng maksimal, pesona tampannya terlihat luar biasa.
Para tetangga Kartika dibuat terkejut dengan rombongan keluarga besar Herdilan.
Bawaan hantaran seserahan calon suami Kartika yang banyak menjadikan rasa penasaran mereka semakin tinggi.
"Itu bawaannya lumayan banyak, ya! Kira-kira uang maharnya banyak juga ga ya?"
"Kabarnya khan cowoknya duda. Ya... paling sekitar dua puluh jutaan lah! Apalagi perusahaan keluarga mereka juga katanya bangkrut. Ya... dikasih mahar segitu juga lumayan besarlah buat si Kartika yang cuma seorang guru SD telat nikah!"
"Ho'oh, bener tuh! Lagipula, keluarga besar itu khan juga sudah ambruk kejayaannya sejak Papanya meninggal dunia bunuh hari waktu itu!"
"Ssstt...! Kalian ini, kasak-kusuk gosip terus!"
Begitulah para tetangga bergosip ria. Menyaksikan kedatangan keluarga besar Herdilan yang cukup menggemparkan.
"Eh,... itu...logam mulia ya?"
"Mana? Itu, kotak yang dibawa bocah perempuan itu!"
Semua tertuju pada kotak bawaan Velli yang mencolok sekali.
"Eh, iya betul! Emas murni ya!?!"
"Iya kali itu imitasi yang dapet dari hadiah Chiki! Hahaha..."
"Hahaha, dasar bu Cici bocor alus!"
Benar-benar luar biasa para tetangga berghibah.
Dan wajah bu Fajar terlihat begitu sumringah.
__ADS_1
Padahal kemarin ia sangat gundah. Khawatir kedatangan calon mantunya yang dipantau para tetangga bak CCTV itu akan semakin jadi gunjingan.
Putrinya dilamar pria duda mantan orang kaya. Pasti hanya akan dibawakan seserahan ala kadarnya saja. Apalagi usia Kartika juga sudah kepala tiga.
Kini bu Fajar dan pak Fajar bisa tersenyum lega. Barang bawaan calon menantu melebihi target halusinasinya.
"Assalamualaikum... Bapak, Ibunda Kartika Sari... Saya, Herdilan Firlando beserta keluarga, datang kemari dengan tujuan...melamar putri Bapak Ibu satu-satunya. Kartika Sari. Saya minta maaf, apabila kedatangan kami ini mengganggu ketenangan keluarga. Dan saya juga minta maaf, karena... tidak membawa banyak seserahan. Hanya segini adanya."
Herdilan memberanikan diri membuka pembicaraan.
"Waalaikum salam!"
"Saya, Papanya Kartika Sari dan Mamanya juga... sangat senang sekali menerima kedatangan Nak Herdilan Firlando beserta keluarga. Kami bersyukur Allah mengabulkan doa-doa kami sehingga lancar niatan Ananda Herdilan mempersunting putri kami. Bawaannya sangat banyak melebihi espektasi kami. Terima kasih, telah memberi kami kebahagiaan dan penghargaan setinggi serta sebesar ini. Kami sangat senang menerimanya. Kami juga minta maaf, apabila dalam penyambutan dan penyambutannya terlihat begitu sederhana seperti kurang penyajian dan lain sebagainya!"
"Oiya, mohon maaf, Pak Fajar... saya Christian Suherman, kakak tertua dari Herdilan Firlando. Untuk acara akad dan resepsinya... keluarga kami yang akan atur. Jadi, Bapak Ibu tinggal menghadirinya saja. Saya selaku wakil dari Herdilan, ingin memastikan waktu tepatnya yang baik untuk Kartika dan Herdilan mengucap ijab kabul."
"Oh? Iyakah? Ya Tuhan... terima kasih banyak, Mas Christian! Waah..., Ma... kita tidak perlu repot mengurus perhelatan Kartika!"
"Kami memberikan Bapak Ibu keleluasaan dalam hal apapun. Terserah mau menyewa MUA mana, katering siapa. Itu keputusan Bapak Ibu, kami tidak akan mengganggu privasi serta keinginan keluarga Kartika yang pastinya punya banyak rencana. Namun untuk urusan gedung dan keuangan, kami akan menanggung semuanya. Begitu, Pak?"
Mama dan Papa Kartika membelalakkan mata. Mereka senang sekali mendengar penuturan Christian. Para saudara serta kerabat yang hadir turut bersuka cita. Akan ada pesta besar-besaran dalam pernikahan Kartika Sari pastinya.
"Dan ini Nona,... aku baru bisa memberikan segini untuk persiapan. Masalah nanti kekurangannya, kita bisa diskusikan berdua!" bisik Herdilan seraya memberikan tutebag pada Kartika.
Spontan semua tertawa. Melihat pasangan dewasa itu yang terlihat malu-malu satu sama lain.
Begitulah... akhirnya dua keluarga besar bertemu dalam riungan ini. Melebur bersama dalam tawa dan canda. Berusaha saling menerima juga memberi.
"Eit! Jangan lama-lama liatinnya! Masih belum muhrim!" goda Roger membuat Herdilan terbatuk-batuk, malu.
Viona yang duduk disamping Roger dan juga Dzakki ikut tersenyum tipis.
Hati Viona juga menghangat. Antara senang serta sedih bercampur menjadi satu.
Memori ingatannya berputar pada sembilan tahun yang lalu. Masa lalu yang dulu begitu ingin ia lupakan hingga sangat ingin mencoret nama Herdilan dari sanubarinya.
Pria tampan yang pernah menjadi bagian hidupnya sebagai suami itu...ternyata tetap tak bisa ia hilangkan dari hati. Karena kini Herdilan adalah saudara dari suaminya.
Dan kini ia menghadiri acara penting dalam hidup mantan suaminya itu. Rendevous pasti. Semua cerita ini seperti mimpi. Mimpi buruk yang menjadi mimpi indah dengan banyaknya kisah dan peristiwa didalamnya.
Viona menunduk, menyembunyikan titik air matanya yang jatuh. Dzakki menggenggam erat jemarinya. Memberi Viona segelas air mineral dengan tatapan lembut dan senyum menguatkan.
"Mami...! Mami Dzakki yang terhebat!"
Meleleh Viona mendapatkan pengakuan polos sang putra. Hingga tiba-tiba...
"Aduh!..." Viona berusaha menahan rasa mules yang mendadak datang.
__ADS_1
Dzakki yang merasakan genggaman tangan Maminya semakin mengeras langsung menoleh ke arah Viona.
Dzakki langsung menarik tangan Ayahnya.
"Kenapa?" tanya Roger dengan lembut.
Dzakki memberi kode dengan menoleh ke arah Viona. Terlihat jelas wajah Maminya pucat pias.
Seketika Roger segera sadar, kalau waktu untuk babynya lahir telah tiba.
"Mohon maaf, bukan bermaksud tidak sopan meninggalkan acara lebih dulu. Tapi..., sepertinya istri saya...mmm mohon doanya ya semua. Kami pamit!"
Roger mengangkat tubuh Viona dengan dibantu Dzakki.
Seketika semua orang berfokus pada pasutri itu.
"Viona...mau melahirkan?" pekik Mutia waswas.
"Mohon doanya, ya Kak!? Kami pergi dulu!" kata Viona berusaha tenang sembari tersenyum manis meskipun sesekali ia meringis.
"Dzakki mau ikut Mami sama Ayah, ya!?" tutur Dzakki mencoba memberi penjelasan pada Verrel yang menarik tangannya.
"Dzakki mau ikut ke rumah sakit? Sebaiknya Dzakki di sini saja. Biar Ayah yang mengurus Mami. Nanti dede bayi lahir baru kita kesana!" tukas Tini pada ponakannya itu.
Dzakki menggeleng.
"Dzakki mau ikut Mami!"
"Ya sudah, jangan jauh-jauh dari Ayah ya?! Ayo, Sayang!"
Mereka bertiga pergi meninggalkan ruang tamu.
"Aku ikut Viona ya Boss!?" pinta Tini pada Christian. Wanita yang sudah seperti kakak bagi Viona itu langsung berdiri dan bergegas pergi diikuti Kenken.
"Semangat, semoga lahirannya lancar ya Vi!"
"Moga Allah memudahkan proses lahirannya, Mbak!"
"Semangat, kamu pasti bisa melahirkan dengan normal!"
Semua orang menyemangati Viona. Menuju ke rumah bersalin ditemani suami tercinta dan putra tersayang.
Wajahnya bersemu merah jambu karena malu.
Ada banyak orang kasak-kusuk membicarakan dirinya yang mau lahiran disaat seperti ini. Dan dia adalah mantan istri calon pengantin.
Tapi mau bagaimana lagi. Semua kehendak Illahi. Jujur Viona pun tidak ingin terjadi hal seperti ini.
Tapi...ya sudahlah. Waktunya melahirkan sepertinya telah tiba. Cukup fokus pada sang bayi laki-lakinya yang kedua. Yang akan lahir kedunia sebagai putra pertama dari Roger Ghibran Suherman.
__ADS_1
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...