PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
SESSION 2 NASEHAT UNTUK DZAKKI


__ADS_3

"Papa, Papa...!"


"Ya, Verrel?"


"Dzakki nangis di bawah tangga ruang mansion!"


"Kenapa Dzakki menangis?"


Roger langsung bangun dari duduknya. Ia merasakan sesuatu yang tak enak.


Viona dan yang lain termasuk Christian ikut keluar menyusul Roger.


"Boy sayang, kenapa?"


Dzakki menangis semakin keras. Bahkan bocah itu menepis tangan Roger yang hendak merangkulnya.


"Kenapa? Kenapa menangis?" tanya Roger lembut.


Dzakki justru berjongkok kembali dengan menyembunyikan wajahnya diantara dua lututnya.


Viona yang baru tiba, ikut serta menenangkan putra sulungnya yang sedang menangis tersedu.


"Kenapa Dzakki, Sayang? Sini, Nak! Sini,... sini sama Mami!"


"Hik hiks, Dzakki ga mau!"


Viona dan Roger hanya bisa saling bertatapan tak mengerti.


Herdilan maju, berusaha menenangkan hati sang putra yang terlihat sangat sedih.


"Dzakki, ada yang luka?" bisik Herdilan.


"Dzakki sedih,... Ayah sekarang cuma sayang adik bayi! Hik hik hiks..."


Semua mulai melihat titik terang.


Rupanya Dzakki sedih karena ucapan Roger tadi.


"Ya engga'lah! Ayah juga sayang banget sama Dzakki! Bukan hanya sayang adik bayi saja. Dan adik Dzakki juga belum lahir, khan? Dzakki sendiri yang antri minta adik sama Allah. Iya khan, Boy Sayang?"


Roger kembali mendekat. Berusaha mengambil hati putranya lagi.


Ucapannya tadi rupanya menyakiti hati Dzakki. Perihal ucapan soal ibu Guru Kartika yang Dzakki jodohkan dengan sang Papi namun dipatahkan oleh Ayahnya.

__ADS_1


"Bukan maksud Ayah membuat Dzakki sedih! Maaf, Ayah tadi spontan bilang gitu ke Dzakki! Maaf!"


"Ayah ga suka bu Guru! Ayah ga suka Papi! Ayah juga ga suka Dzakki!"


"Engga mungkin! Engga mungkin Ayah ga suka Dzakki! No, Boy!!! Dzakki itu segalanya buat Ayah! Bahkan Ayah sangat bahagia karena memiliki Dzakki juga Mami!"


Roger tanpa sadar mengeluarkan air mata. Ia ikut sedih. Ikut merasakan kesakitan hati Dzakki karena ucapan asalnya tadi.


Roger lupa, Dzakki sudah beranjak dewasa. Sudah bisa memilih dan memilah apa yang ia suka juga tidak ia suka.


Kini keadaan jadi berbalik.


Roger lah kini yang merasakan kesedihan teramat dalam. Entah mengapa, air matanya terus meleleh membuat Roger malu dan tersadar hingga akhirnya pergi masuk kamar tamu rumah Christian untuk menenangkan diri.


Kini Dzakki yang jadi kebingungan karena usaha merajuknya justru jadi kepada Ayahnya.


Christian memangku Dzakki. Memberi kode pada yang lain untuk memberinya ruang dan waktu berbincang dengan putra Viona itu.


Dzakki dibawa Chris keluar rumah. Berjalan pelan mengelilingi perumahan dengan motor gedenya.


"Dzakki sekarang merasa lebih baik khan?" tanya Chris setelah beberapa putaran dan mereka parkir di parkiran taman.


Dzakki mengangguk.


Perasaannya yang tadi terluka perlahan berubah. Ia tak sedih seperti tadi.


Dzakki mendengarkan ucapan Christian dengan sepenuh hati.


Chris menuntunnya. Mengajaknya duduk di kursi taman.


"Dzakki...! Kita memang memiliki kepekaan lebih tinggi dibanding orang lain. Kadang Tuhan memberi kita tanda, atau penglihatan yang membuat kita gemas, bahkan takut. Tapi... bukan berarti kita bisa memaksakan kehendak pada orang lain. Kita juga manusia biasa, Sayang! Kita manusia, seringkali salah. Kita tidak tahu hidup kita sendiri kedepannya meskipun kadang Tuhan seolah memberi kita gambaran. Kita tidak bisa meramal. Kita tidak bisa mendahului Ketetapan Tuhan. Ada garis kehidupan yang kita sebut takdir, yang sudah Tuhan atur dengan begitu sempurnanya untuk semua umat ciptaan-Nya tanpa terkecuali. Kata-kata Papa Chris bisa Dzakki fahami?"


Dzakki mengangguk dan menunduk.


"Tuhan Maha Segalanya. Meskipun dimata kita terlihat benang yang mampu menghubungkan Papi Delan dan ibu guru Dzakki, tapi semua tergantung Allah Ta'ala. Jodoh, rezeki, maut... Hanya Dia-Lah yang Maha Mengatur."


"Dzakki hanya ingin semua kembali berjalan dengan semestinya, Papa Chris!"


"Papa Chris tahu maksud Dzakki! Papa Chris faham sekali."


Dielusnya kepala putra Viona itu dengan lembut.


"Dulu, Papa Chris juga merasakan geregetan sama seperti Dzakki. Kenapa begini, kenapa begitu? Padahal kalau A dan B begini, tidak akan terjadi hal begitu. Andai si C dan si D kesini, kisahnya tidak akan kesana. Hhh... Dulu Papa Chris sering pusing, mumet kepala memikirkan garis-garis warna warni dan aura orang yang berseliweran didepan mata."

__ADS_1


"Ya, ya! Dzakki suka seperti itu, Papa Chris! Dzakki sempat cerita sama teman-teman, malah dibilang aneh. Hhh..."


"Hehehe..., karena mereka tidak bisa merasakan seperti yang kita alami. Dan tidak salah juga mereka mengatakan kita ini aneh. Hehehe... karena kita memang terlihat aneh!"


"Hehehe... iya juga ya Pa!?!"


Christian tersenyum. Kembali mengusap kepala Dzakki.


"Tugas Dzakki adalah menjadi anak yang baik. Menuruti kata orangtua. Belajar dengan benar dan sungguh-sunggyh untuk masa depan. Jangan lupa, ibadah Dzakki harus lebih baik lagi. Karena itu adalah tiang dari keimanan kita, Nak! Tuhan memberi kita kelebihan, bukan untuk menjadi sombong dan mengatur kehidupan makhluk lain ciptaan Tuhan. Kalau Tuhan marah, kapanpun Tuhan mau, kita tidak akan memiliki kelebihan itu lagi. Tuhan adalah pusat semua makhluk. Tuhan Sang Pencipta. Tuhan yang memegang kendali qodarullah baik dan buruk setiap insan manusia. Juga nasib, meskipun nasib bisa kita rubah. Namun semua kembali pada ketetapannya. Yang menginginkan kita semua berjuang untuk mencapai kesempurnaan hidup hingga kembali berpulang untuk menceritakan kehidupan yang telah kita jalani dan langkah yang kita ambil selama hidup ini."


Dzakki menatap wajah kakak dari Ayahnya itu. Seperti melihat cahaya terang yang membuatnya faham, kalau tindakannya selama ini kurang benar. Bahkan terkesan mengatur kehidupan orang-orang yang ia sayangi.


Ia takut menjadi manusia sombong. Takut juga jika Tuhan marah dan mengambil semua kebahagiaan yang kini ada dalam genggamannya.


Dzakki seperti menonton dirinya dimasa lalu. Ketika ia selalu termenung sendirian, merasakan kesedihan yang teramat dalam. Saat Maminya melakukan pelarian. Saat Ayahnya belum menjadi Ayah yang terbaik baginya.


Bali adalah tempat terburuk Dzakki saat itu.


Maminya sibuk bekerja, dan ia lebih sering bermain dengan bli Cemen.


Teman-teman sekolah TKnya dulu dingin dan kejam. Seringkali membully juga memaksanya melakukan hal-hal yang tidak ia inginkan.


Ingin sekali Dzakki menceritakan kisah pilunya di sekolah pada Mami saat itu, namun lidahnya seolah kelu.


Ia tak sanggup bicara. Tak mudah buka suara. Dan hidup terasa sangat berat sekaligus hampa baginya saat itu.


Dzakki menggelengkan kepalanya. Tak ingin mengingat-ngingat masa sedihnya yang lalu.


Cukup baginya pembelajaran hidup, bahwa kita memang harus banyak berdoa meminta kebaikan Tuhan. Kita harus banyak berdoa berterima kasih pada Tuhan.


Semua kisah baik sedih juga bahagia, adalah proses dalam kehidupan. Dan semua insan, pasti mengalami hal demikian. Itulah ujian dalam kehidupan. Menjadikan hidup seorang manusia menjadi berwarna dan bermakna.


Chris tersenyum. Lega hatinya kini. Keponakannya itu mampu menangkap perkataannya yang cukup berat. Sangat sulit ditangkap intinya jika bicara panjang lebar seperti itu dengan bocah pada umumnya.


Tapi berbeda dengan Dzakki.


Mereka kini saling berpandangan serta tertawa bersama. Tali telepati diantaranya menyambung sehati.


Chris mengajak Dzakki bermain jungkat-jungkit hingga tiba-tiba...


"Bolehkah saya ikut main bersama kalian?"


Chris dan Dzakki menoleh pada suara seorang perempuan yang bertanya itu.

__ADS_1


"Khaila?"


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2