
Hhh...
Kulangkahkan kaki ini pergi meninggalkan acara seserahan Roger pada Viona.
Lemas lututku. Gemetar sekujur tubuhku.
Acara yang luar biasa. Sangat sempurna dan mengesankan banyak orang.
Wajah Viona sendiri terlihat sangat cantik walau make upnya minimalis.
Hhh... Tuhan! Ini benar-benar pukulan sangat telak. Pas sekali kena mentalku.
Sungguh Pembalasan Dendam yang hebat dari Istri Pertamaku. Sangat dahsyat bahkan hampir membuatku gila.
Hhh...
Helaan nafas kucoba guna meringankan beban kesedihan di hati ini.
Benar-benar seperti hantaman nuklir di Hiroshima dan Nagasaki.
Bahkan semakin lengkap ketika langkahku melewati sebuah warung yang menyetel lagu almarhum Olga Syahputra.
Hancur hancur hancur hatiku
Hancur hancur hancur hatiku
Hancur hancur hancur hatiku
Hatiku hancur
Lagu yang terdengar jenaka namun liriknya mengandung duka.
Semakin membuatku remuk redam kedalaman jiwanya. Semakin aku berusaha tersenyum mencoba menertawakan lirik lagu dan suara sang penyanyinya yang telah lama meninggal dunia, semakin membuat jatuh berderai air mata dipipi ini.
"Viona! Viona...! Vionaaa!!!"
Aku hanya bisa berteriak kencang. Memanggil nama Viona dengan sangat lantang.
Tak kupedulikan orang-orang menoleh dan memperhatikanku dan menganggap diri ini seperti orang gila baru.
Tangisanku benar-benar mencerminkan isi hati.
Sakit rasanya hati ini. Sangat sakit. Sakit sekali bagaikan disilet-silet. Kemudian ditaburi air garam dan diremas-remas tanpa perasaan.
"Viona! Viona...! Vionaku kini telah ada yang memiliki. Tuhaaan...!!! Aku benar-benar bodoh! Aku adalah manusia yang paling bodoh! Yang pernah hadir dalam hidupnya dan juga cintanya, tapi kusia-siakan tanpa melihat masa depanku kemudian. Bodoh kau, Herdilan! Bodoh, bodoh, bodoh!"
Hanya kalimat demi kalimat penyesalan dan umpatan kesal pada diriku sendiri yang mampu menjadi pengobat hatiku yang luka.
Dan dinginnya trotoar jalanan yang lalu lalang kendaraan silih berganti menapaki Ibukota, menyambutku dengan ejekan tawa knalpot para penguasa jalan raya.
Hhh...
Begini sakitnya, bahkan lebih sakit rasanya dari sakit gigi.
Aku diam sejenak. Berjongkok menatap jalanan berdebu dengan lalu lalang kendaraan.
Segera kususut air mata. Menyadari kalau tingkah konyolku tak pantas untuk umurku yang sudah 31 tahun ini.
Ya Allah ya Tuhanku! Berilah mantan istri pertamaku kebahagiaan yang sempurna. Berilah putra semata wayangku juga kebahagiaan yang nyata. Mereka telah lama kusakiti. Ini adalah saatnya mereka bahagia. Maafkan segala kesalahanku di masa lalu Tuhan! Mohon ampuni aku dan juga kedua orang tuaku! Hanya pada-Mu lah aku meminta. Dan hanya pada-Mu lah aku berdoa. Aamiin ya Robbal'alamiin...
__ADS_1
Aku kini sadar. Telah sadar sesadar-sadarnya. Setelsh sekian lama Viona dan Dzakki menderita karena ulahku. Kini saatnya mereka mereguk indahnya kebahagiaan.
Aku tak boleh sedih berkepanjangan. Aku akan berusaha mengikhlaskan. Seperti yang tadi mas Christian ucapkan padaku.
Kini aku menghapus habis seluruh air mata yang tersisa di pipi.
Berdiri dengan tegak seraya mengucap bismillah. Kuakui, aku banyak melakukan kesalahan. Tapi kini, aku akan lebih berhati-hati. Dalam mengambil langkah selanjutnya.
Terima kasih Tuhan, Kau beriku kesempatan. Untuk berjalan lurus kedepan. Mengharap ridho-Mu disisa umurku.
"Herdilan! Hei, Herdilan!"
Aku kaget, sebuah mobil berhenti tepat di depanku.
"What'up bro! Apa kabar lo?"
Aku bingung. Mencoba mengingat-ngingat seraut wajah yang muncul dari balik jendela mercedes benz berwarna putih itu.
"Gue Ciko! Masa lo lupa sama gue?"
"Ciko? Ciko?... Ciko yang..."
Aku tercengang. Ciko tertawa cengengesan.
Dia adalah teman yang mengenalkanku pada dunia mural. Dari Ciko lah aku bisa melukis dinding-dinding tembok Ibukota. Lalu beralih menjual jasa dari satu kafe ke kafe lain. Mencorat-coret tembok tapi mendapatkan bayaran.
"Naik, bro!" ajaknya membuatku antusias.
"Gila lo, Cik! Udah jadi orang hebat lo ya sekarang!?"
"Hahaha... ga sehebat lo lah, Lan! Gimana kabar lo? Masih suka ambil job mural gak lo?"
"Boboro lah! Gue sekarang cuma kerja dagang warung kecil-kecilan. Sesekali sih ambil part time jadi akuntan dadakan jika ada yang butuh." Jawabanku langsung membuat Ciko merapatku.
"Kemana?"
"Kuala Lumpur! Job mural gede-gedean di sana!"
"Yang bener?"
"Lo beneran tertarik gak?"
"Asli, gue mau lah! Tawaran langka, nih! Sekalian bisa travelling Malaysia!"
"Nah itu! Menyelam sambil minum air!"
"Bengek lo menyelam sambil minum air!" ledekku kembali rendevous masa lalu.
"Peribahasa, Bego! Hahaha... Bisa bercanda juga lo sekarang ya?!"
"Hahaha..."
Begitulah hidup.
Jangan terlalu dibebankan dalam fikiran. Tapi syukurilah setiap apapun yang Tuhan beri untuk kita.
Aku, Herdilan Firlando. Tanpa sengaja kembali bertemu teman lamaku semasa SMA. Teman sejati yang dulu mengajarkanku artinya mensyukuri kehidupan.
...........
__ADS_1
...Masa Pertemuan Pertama Bersama Ciko...
Aku masih sangat trauma mental dan batinku kala itu.
Baru beberapa bulan tiba dari Korea Selatan setelah operasi plastik yang kujalani di negeri gingseng itu.
Ya. Setelah aku mengalami musibah meledaknya petasan di wajah. Dan masuk sekolah menengah atas setelah jauh tertinggal satu bulan dari teman-teman lainnya.
Ciko saat itu adalah teman sebangkuku.
Kami duduk dibarisan depan, karena telat datang hingga semua bangku lainnya sudah penuh terisi. Jadilah aku dan Ciko duduk paling depan. Persis di depan meja guru.
"Kenapa sih lo suka banget corat-coret lembar belakang buku lo?" tanyanya suatu ketika.
Aku memang sangat pendiam kala itu. Masih sangat takut membuka diri dengan memulai pertemanan meski dengan teman sebangku sekolah.
"Pengisi waktu saja!" jawabku singkat.
"Heh! Kalo lo jadi orang apatis kayak gini terus, gue jamin...orang makin benci diri lo, bro!"
"Ma-maksud lo?"
"Gue tau, kisah lo di SMP Jayabaya itu khan?"
Saat itu aku sangat terkejut. Ciko ternyata mengetahui latar belakang hidupku di masa lalu.
"Darimana lo tau?" tanyaku gugup dan gemetar.
"Woles aja! Cuma gue yang denger obrolan ajudan bokap lo sama pak kepsek di ruangannya!"
Sejak saat itu, aku jadi selalu terus bersama Ciko. Yang juga memiliki latar belakang hidup kurang elok, karena sang Mama adalah hostes senior di sebuah diskotik terkenal di Ibukota.
Berbekal untuk tidak saling mengungkit keadaan orangtua yang tidak pada semestinya, kami mulai berteman akrab.
Ciko suka menggambar.
Meja sekolah kami pun kerap jadi sasarannya.
Namun ia bilang kalau ia suka melukis jalanan Ibukota di jam-jam yang tak biasa.
Dia adalah seorang pelukis mural yang cukup terkenal dikalangan para siswa jalanan.
Dari Ciko pulalah, aku belajar melukis dengan sangat baik. Dan kami bersahabat sampai tamat SMA hingga ia lebih memilih ambil kelas grafity daripada kelas manajemen bisnis yang Papaku inginkan waktu itu.
"Woy...! Ngelamun mulu lo! Gue minta nomor kontak lo, Lan! Biar bisa gue hubungin kalo mau berangkat lagi tar minggu depan!"
"Cik! Bisa ga gue minta waktu buat izin nyokap gue dulu?"
"Iyalah! Betewe bokap nyokap lo masih ada ya? Nyokap gue udah meninggal! Jadi gue tinggal berdua sama adek gue, Pratiwi!"
"Nyokap gue masih ada. Bokap gue yang udah ga ada!"
"Ya udah, mau gue anter sampe rumah lo ga? Jadi tar gue bisa jemput lo langsung kalo jadi kita berangkat bareng ke KL."
"Oke deh, kalo gitu! Thanks, bro!"
"Nyantai aje kali, sama gue mah! Hehehe..."
Aku senang sekali bisa bertemu Ciko. Sampai lupa sakit dihati ini tadi mengingat Viona.
__ADS_1
Thanks God!
❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤