PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 118 IN FRAME "Kehidupan Herdilan Selanjutnya"


__ADS_3

Tasya Jessica dicokok Polisi, Jelita Lara alias Lady Navisha pun hengkang dari rumah seperti seorang perampok berdarah dingin.


Lady membawa kabur barang-barang berharga sang Mertua yang kini resmi jadi tersangka dan di tahan di polsek Kembangan.


Sementara Herdilan yang hancur kehidupannya kini semakin sibuk menenggelamkan diri dengan cairan neraka.


Ia keliling cafe dan juga diskotik, club malam. Berpindah dari satu tempat ke tempat lain mencari sebuah 'ketenangan'.


Setiap malam Delan mabuk dengan bergelas-gelas dan berbotol minuman beralkohol. Itu ia lakukan dengan alasan mengobati rasa sakit di kepalanya yang tak kunjung sembuh.


Sementara sang Papa seperti menghilang dari bumi. Tak pernah datang menampakkan diri ke rumah besar Mamanya.


Kantor Production House Pesona Tasya pun terkena imbasnya. Harga sahamnya oleng. Kontrak-kontrak baru banyak yang dipending. Bahkan project film dan iklan yang sedang mereka kerjakan, beberapa harus di cut/break secara sepihak tanpa ada kejelasan.


Herdilan stres, mendekati depresi. Kontak sang Papa tidak aktif semua. Para pemegang saham perusahaan yang dikelolanya banyak yang komplein.


Semua kacau balau.


Urusan pekerjaan berantakan.


Apalagi urusan rumah tangga dan percintaan.


Herdilan berjalan keluar dari sebuah diskotik di pukul dua dini hari dengan sempoyongan. Matanya mencari-cari sesuatu di kantong tas pinggang.


Ya. Kunci mobil sedan merah maronnya yang terparkir di basement depan belum juga ia temukan.


"Haish... dimana sih ni kunci?" gumamnya sembari mengacak-acak hingga terjatuh berserakan uang kertas miliknya di trotoar.


Dug.


"Auw..."


"La-Lady?!?"


Sontak dua pasang mata dari dua perempuan yang tadi berangkulan itu langsung tertuju pada Delan.


Perempuan yang satunya memang Lady, istrinya. Tapi yang satunya lagi entah siapa. Delan tak mengenalnya.


"Hei! Berani kau memanggil kekasihku!!!" teriak si perempuan yang satunya sambil mengacungkan jari tengah pada Delan.


"Hiks... Lady!"


"Sssttt...! Dia..., dia mantan suamiku!" tutur Lady setengah berbisik, ternyata ia juga setengah sadar karena mabuk.


"Cowok bangsat!" Bug.

__ADS_1


Perempuan tomboy itu meninju telak, tepat di ulu hati Delan hingga terburai seluruh isi perutnya lewat muntahan.


"Uhuk uhuk uhuk!"


Herdilan terbatuk-batuk setelah muntah.


"Mampus lu!! Jangan beraninya sama perempuan!" maki sang perempuan yang mengapit lengan atas Lady Navisha.


"Ayo, sudah... Ayo, Sayang! Jangan berurusan dengannya!"


Lady dan perempuan itu pergi meninggalkan Delan yang terkapar


"Shiit! Anjrit! Bangsat, perempuan setan, begundal!" maki Delan penuh kata-kata kasar.


Perutnya masih sangat sakit akibat hantaman bogem mentah sang perempuan.


Kenapa si Lady jadi 'belok' begitu? Hiks... Ya Tuhan...! Gumam Herdilan dalam hati.


Dia memang mabuk. Tapi fikiran warasnya masih ada sedikit nyangkut di otak.


"Delan!"


Herdilan mendongakkan wajahnya. Menatap wajah seseorang yang berjongkok mendekatinya.


"Firman?"


"Semua gara-gara kau!"


Wajah Firman hampir kena jotos kepalan tangan Herdilan. Tapi hanya mengenai angin karena tenaga Delan lemah akibat miras.


"Haish...! Bisa-bisanya kau hendak menghajarku!" Bug. Justru Delan-lah yang kini tersungkur wajahnya ke trotoar.


"Hiks..."


Melihat Delan yang tak punya daya upaya, Firman pun iba juga. Dipungutnya beberapa lembar uang ratusan dan puluhan ribu milik Delan yang tadi jatuh berceceran di trotoar. Firman masukkan kembali ke tas pinggang Herdilan.


Di angkatnya sebelah tangan pria berusia 25 tahun itu sampai bisa berdiri lagi. Lalu di rangkul sebelah bahunya seraya dipapah menuju parkiran dan dinaikkan ke motornya.


Herdilan meracau hingga sempat menolak.


"Perlu kujotos mukamu biar pingsan?" ancam Firman membuat Delan terdiam, menurut bahkan menjatuhkan kepalanya di pundak belakang Firman.


"Kunyuk! Sekarang malah nempel di punggung gue kayak monyet!" umpat Firman kesal.


"Kalo gue monyet, berarti elu si Buta Dari Gua Hantu-nya dong!" Herdilan menjawab ngasal.

__ADS_1


"Lu beneran pengen gue kepret!?"


Setelah berdebat, kendaraan roda dua milik Firman meluncur dengan kecepatan sedang.


Melewati jalanan Ibukota yang hening karena sudah hampir pukul tiga pagi menjelang Subuh.


Firman hanya bisa menghela nafasnya ketika mengetahui kalau adik tingkatnya di kampus masa lalu itu terdengar dengkurannya.


Haish! Ngorok pula!


Biar bagaimana pun di masa lalu Herdilan cukup banyak membantunya dalam urusan uang semesteran. Mereka memang sempat menjadi akrab karena tergabung dalam organisasi mahasiswa HIMA. Dan beberapa kali main bareng ketika penggojlogan para maba.


Saat itulah Herdilan curhat semuanya soal dirinya. Soal keluarganya yang unik. Juga soal kepribadiannya yang penuh misteri.


Firman mengetahui semuanya kisah hidup Herdilan Firlando. Dan sampai kini menutup rapat kisah itu, hanya di simpan sendiri dalam hati.


Meski kenyataan setelah lulus kuliah, Delan lah yang lebih berjaya. Sukses menikahi Viona yang pernah ia taksir, dan sukses dalam berkarier meneruskan perusahaan sang Mama.


Berbeda dengannya. Pertunangannya dengan Mutia Permata Melody kandas karena tak punya harta. Pekerjaan pun belum berhasil membuat namanya setenar ketampanannya.


Hhh...


Lagi-lagi Firman hanya bisa menghembuskan nafas panjang.


Angin semilir menerpa wajah tampannya yang membeku kedinginan.


Ia menghentikan laju motornya di depan sebuah rumah minimalis di salah satu KPR.


Lebih tepatnya itu adalah rumah Firman yang masih cicilan belasan tahun lagi.


Rumah mungil itu Firman ambil ketika masih bertunangan dengan Mutia. Khayalannya tinggi, menikahi gadis cantik itu lalu memboyongnya ke rumah ini.


Ternyata... alam tak berpihak. Cinta hanyalah impian semanis permen karet saja baginya. Firman hingga kini masih sering tenggelam dalam penyesalan dan lamunan panjangnya yang gagal membangun biduk rumah tangga bersama Mutia, sang kekasih.



Herdilan telah ia hempaskan di ranjang tidurnya. Sementara Firman duduk sendirian di ruang tengah rumahnya sembari melamun menatap foto jadulnya yang merekam masa-masa bahagianya bersama Mutia. Hanya sebatang rokok kretek yang mengerti perasaannya saat ini.


Hhh...


Sampai kini foto-foto dirinya dengan Mutia masih tersimpan rapi di album foto. Semua hanya jadi sejarah. Semua tinggal kenangan masa lalu. Tak kan bisa ia rubah menjadi harapan masa depan.


Matanya akhirnya terasa sepat. Kantuk mulai menyerang hingga Firman berselonjor merebahkan tubuhnya di atas sofa ruang tengah.


Perlahan... khayalannya menjadi mimpi indah yang tak kesampaian.

__ADS_1


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2