PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 162 MALUNYA ITU... TAK BISA KUTAHAN


__ADS_3

Benar-benar kejadian yang memalukan.


Sungguh membuat mentalku jatuh, bahkan ingin rasanya diri ini menghilang dari bumi dan pindah ke Pluto.


Hiks...


Aku menstruasi banyak sekali di hari pertama. Hingga tembus keluar sampai kena celana katun denimku yang berwarna biru muda.


Haish!!! Kenapa justru harus ketahuan dihadapan dokter itu? Aaaa... Rasanya ingin berteriak sekeras mungkin, untuk membuang rasa malu ini.


Tapi untungnya, sang dokter cukup lengkap pula ruangannya. Bahkan dia juga memiliki stok beberapa merk pembalut. Dan suatu keberuntungan, ia juga mempunyai sebuah rok panjang berwarna hitam dan cel*na d*lam.


Hiks... Tuhaaan! Malu aku!


Aku pun akhirnya keluar ruangan dokter Diandra tanpa jadi disidang dan di interogasi macam-macam, kecuali bawahanku yang berbeda. Serta sebuah totebag kecil berisi celana denimku yang bermasalah.


Ish! Viona, dasar kau nih! Bikin malu, bikin kesel!


"Eh? Perasaan tadi kamu masuk ruang dokter pakai celana denim? Kenapa keluar jadi pakai rok?" tanya Reo membuatku mengangkat telunjuk dan menempelkannya di permukaan bibir dengan mata melotot.


"Jangan banyak tanya! Apalagi mikir yang engga'-engga'! Awas, kamu Reo!" ancamku membuat si Reo menghela nafas pendek.


"Sudah, Vi? Gimana? Kita ga kena sanksi khan?"


Reina, Noer dan Hendra satu persatu berdatangan setelah tadi menghilang entah kemana ketiga orang itu.


"Alhamdulillah! Besok kita boleh kembali ke sini lagi. Tapi harus langsung ke ruangan dokter Diandra. Nanti dia yang mengarahkan dan menunjuk target objek yang bisa kita wawancara. Karena pasien itu ada bermacam golongan. Khawatir seperti tadi, ada kejadian yang tak terduga yang tak kita inginkan! Begitu dia kata!"


"Alhamdulillah! Syukur deh, ada pengarahan juga. Kupikir kita main tanya-tanya ODGJ sembarangan kayak tadi."


"Itu tidak boleh! Terlebih kita juga memasuki ruangan bangsal golongan yang masih cukup rawan juga karena pasien di bangsal itu masih tinggi atau berat penyakit mentalnya. Bahkan kata dokter Diandra, ada kasus pengeroyokan nakes beberapa tahun lalu oleh para ODGJ sampai sang nakes cidera berat."


"Oala..."


"Makanya jangan main-main sama orang gila!" celetuk Hendra yang langsung dicubit lengannya oleh Noer.


"Haish! Kebiasaan deh si Noer! Cubit-cubitan mulu!" tukas Hendra lagi. Kali ini ia cemberut karena cukup sakit.


"Ayo, ayo pulang! Sudah selesai khan? Sudah jam berapa ini? Nanti Reo pulang telat, kena tegur Mami-Papi!"


"Yaelah... si Reo! Lo tuh emang berapa tahun sih umurnya? Masih aja kena 'jam malam'!"


"Bukan begitu, Reina! Sebagai seorang anak, Reo harus berbakti dan menurut pada kedua orang tua!"


"Cakep!"

__ADS_1


"Ya udah, ayo bubar! Ntar pengasuh si Reo di pecat gara-gara ni anak pulang terlambat!"


"Hehehe..."


Aku hanya bisa tersenyum. Tapi ketika tatapanku beradu pandang dengan Reo, segera kukerjapkan kedua bola mataku. Memakai kode seolah ada telepati diantara kami agar ia bungkam, jaga rahasia.


Dan Reo hanya mengalihkan pandangannya dari tatapanku. Sepertinya Reo takut dengan intimidasiku.


"Eh? Viona?... Perasaan tadi lo pake celana panjang deh? Koq... jadi rok?"


Waduh?!? Ternyata mata Reina memperhatikan pakaianku juga! Haish... terpaksa bongkar rahasia!


"Iya, juga? Itu apa, Vi?" Noer menunjuk ke arah totebag yang kubawa.


Aku menutup wajah dengan kedua belah tanganku. Malu, bingung ceritanya harus mulai dari mana.


Cukup lama aku diam, berusaha merangkai kata. Untuk kuucapkan menjadi sebuah cerita.


"Hiks... Malu akuuu..."


"Kenapa?"


"Tadi,... pas aku masuk ruangan dokter Diandra, tiba-tiba dia nunjuk... dan (aku berbisik pada Noer dan Reina) aku datang bulan. Tembus sampai celana panjangku! Haiaaah!!! Untungnya ruangan dokter Diandra udah mirip 'kantong ajaib' Doraemon! Ada pembalut, celdam... juga ini nih... rok tutu hitam."


"Jangan cubit Reo, cubit aku aja!" ujar Hendra cemburu.


"Hahaha... Ada yang cemburu, nih!"


"Oek..." Hendra kembali bergaya seperti hendak muntah.


"Apa maksudmu berfikiran buruk padaku, Reo?" kataku teringat ucapan Reo.


"Bukan apa-apa!"


"Haish... Jawaban ambigu tuh!" umpatku membuat yang lain ikut tertawa.


"Kamu pasti menganggap aku ada main dengan dokter itu khan? Hayo, ngaku!"


"Tidak, Viona! Maaf... Hehehe...! Habisnya kamu main rahasia sama Reo, tadi!"


"Bukan gitu, Reooo! Aku cuma gak mau teman-teman yang lain jadi bergaduh! Jadi ada gosip aneh-aneh tentangku!"


"Ya tak akan lah! Selama ada keterbukaan antara teman. Teman yang baik tak akan menjerumuskan. Juga teman yang baik, pasti selalu menjaga satu sama lain! Intinya, kamu juga harus berani jujur!"


Kata-kata Reo membuatku terhenyak.

__ADS_1


Selama ini aku memang mengalami kesulitan berteman. Karena aku tidak berani jujur dan juga takut menyakiti teman. Bahkan aku terkesan pilih-pilih pertemanan.


Bukan maksudku menjadi pribadi yang seperti itu. Semua secara tidak langsung sudah terbentuk karena kedisiplinan yang Ayahku terapkan. Membuatku menjadi orang yang lembek dalam pertemanan tapi keras untuk diriku sendiri.


"Kita ini adalah teman. Saling dukung, saling support. Meski kadang saling ledek dan saling bully. Tapi kuharap, kita tetap bisa menjaga perasaan satu sama lain. Karena kita sudah dewasa. Bukan anak remaja berseragam putih abu-abu apalagi putih biru!"


Aku menoleh pada Hendra. Tersenyum membenarkan ucapannya.


Meski usianya lebih muda dariku, dan gayanya kadang slenge'an. Tetapi ternyata pemikirannya cukup bijaksana juga.


"Perasaan Noer waktu SMP seragamnya bukan putih biru deh?! Hm... roknya kotak-kotak!" sela Noer. Lagi-lagi wajah serius kami berubah jadi jenaka.


"Ga apa Noer, kotak-kotak juga! Apalagi kalau tebar kotak-kotak hadiah poin macam di GC Saung!"


"Hahaha..."


"GC Saung? Apa itu?" tanyaku bingung. Obrolan kami mulai ngelantur tak jelas.


"Hahaha... Apaan si Ndro?"


"Hendra. Nama gue Hendra! Bukan Hendro, juga bukan Indra, atau Indro! Ingat ya!?!"


"Siap bro Nang!" kata Reina.


"Hah? Bronang? Enak tuh bronang pas cuaca panas siang-siang gini!" celetuk Noer.


"Itu berenang, Noer. Be-re-nang!!!" ralat Reo kesal.


"Ya. Berenang di Sebuah Pulau. Tempat si Cresen diculik itu!"


"Siapa lagi itu si Cresen! Noer ga mudeng. Noer sih lebih suka jadi Istri Kontrak CEO dari pada jadi istri Hendra yang cuma dikasih Cincin Tang. Ga' modal banget!"


"Ya khan Cincin Tang-nya dari emas, baby Noer sayang!"


"Ya tapi jangan model tang pencapit juga kali'!"


Kami lagi-lagi tertawa bersama. Mentertawakan obrolan yang ngalor ngidul tak jelas ujung pangkalnya. Bersama teman memang terasa menyenangkan.


Tak peduli senja mulai menampakkan batang hidungnya. Dan langit berubah berganti lembayung yang indah.


Cuaca cerah datang di sore hari, dengan aroma tubuh beraneka ragam. Dari bau-bau badan para pekerja keras yang satu persatu keluar dari sarangnya setelah mencari cuan.


Dan kemacetan yang tiada habisnya di Ibukota tercinta ini, menjadi rutinitas keseharian para penghuninya termasuk kami.


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...

__ADS_1


__ADS_2