
Kutahan semua amarah serta emosi selama tujuh hari. Aku ingin tahlilan kedua orang tuaku berjalan khikmad tanpa ada ucapan apalagi kata-kata kasar.
Aku ingin menghormati Ayah dan Ibu di hari-hari doa yang seharusnya kupanjatkan dengan hati ikhlas. Bukan dengan keributan yang tidak semestinya.
Untuk satu minggu kucoba bermanis-manis mengiyakan saja semua ucapan suami yang sok sibuk mengatur ini itu.
Karena aku anak tunggal dan perempuan pula, otomatis aku menyerahkan semua urusan tahlilan pada Mas Delan.
Dia mengatur semua jadwal tahlil, amplop ustadz dan juga sedikit penganan yang bisa kami hidangkan untuk para tamu pelayat yang ikut tahlil yassinan setiap malam selepas Maghrib.
Mas Delan juga selalu pulang cepat setiap hari di rumah Ayah Ibu. Tak seperti biasanya. Yang selalu pulang ke rumah kami pukul sepuluh dengan alasan menemui dulu mama Tasya di rumah besarnya.
Ira juga membantuku setiap hari. Bahkan Ira menginap menemaniku dihari pertama setelah Ayah Ibu dimakamkan. Aku memang belum pulang kerumah kami karena masih ingin mengurus pengajian untuk Ayah Ibu sampai tujuh harian.
Aku juga meminta kak Firman untuk tak datang kerumah Ayah Ibuku demi menunda membuka kedok mas Delan.
Mama Tasya datang bersama Papa Bambang dihari ketiga. Mereka menyuruhku istirahat dan tidak mengurus masalah dapur dan hal-hal lain sampai hari ketujuh almarhum almarhumah Ayah Ibu.
Aku bersyukur sekali. Memiliki mertua yang super baik meski anak mereka berkelakuan jauh dari kata baik.
Sejujurnya hati ini sangat ngegeremet. Ingin segera mencurahkan segala rasa pada beliau dan mengambil langkah agar mas Delan segera menyadari perlakuan gilanya itu dibelakang kami semua.
Tapi... lagi-lagi harus kutahan. Dan tetap kulakukan kewajiban melayani nafkah lahir serta batin walaupun hati tak ingin.
Kupastikan... Ini adalah hubungan badan terakhir kita, hei Herdilan Firlando! Kecuali, kamu memilihku dan mentalaq si Lady di hadapan kedua orangtuamu sebagai saksi. Baru akan akan coba pertimbangkan ajukan noktah perceraian di pengadilan.
__ADS_1
...○○○○○○○...
Kamar Ayah dan Ibu terasa dingin bagiku. Dulu, walau Ayah sifatnya pendiam serta tegas. Tapi keadaan tak sesuram ini.
Ibu selalu bisa menghidupkan suasana dengan joke-jokenya. Walau agak kaku terkesan garing, tapi Ibu selalu mampu membuat ayah tersenyum. Meskipun senyum tipis segaris. Dan aku yang melanjutkan pancingan ibu hingga suasana rumah kami menjadi berwarna seketika.
Ayah, Ibu... Viona kangen sekali kalian!
Teringat masa-masa sekolah dulu. Di saat Ayah selalu bilang 'tidak', 'tidak boleh', 'jangan'.
Dulu aku benci kata-kata itu keluar dari bibir Ayah yang pasti membuatku berurai airmata.
Kini... betapa kusadari aku rindu suara ayah. Aku kangen amarahnya. Aku menginginkan pelototan matanya, yang dulu kuanggap bagaikan kilatan petir menyeramkan.
Sekarang aku inginkan itu, Ayah! Ibu... Aku juga rindu Ibu yang selalu memelukku ketika Ayah marah, namun kata-katamu kadang menyudutkanku bahkan cenderung membela suamimu.
Ayah, Ibu... Aku ingin punya 'jodoh' seperti kalian. Yang saling mencintai dalam segala cobaan. Aku ingin memiliki 'pasangan' sesol**id kalian. Yang selalu saling dukung dan support meski banyak kekurangan.
Air mata ini bercucuran. Membasahi pipi hingga jatuh ke lantai kamar beliau.
Aku duduk sendirian di pinggir ranjang. Mengusap pelan sprei yang masih harum wangi trika. Ibuku selalu menyetrika dengan menyemprotkan pengharum pelicin pakaian. Hingga wanginya membuatku menjadi murid terwangi di SD setiap hari.
Ibu... Hik hik hiks...
Mas Delan sudah pergi ke kantornya pukul delapan lebih tadi pagi.
__ADS_1
Ini hari ketujuh kepergian Ayah dan Ibu. Sebentar lagi akan banyak sanak saudara beliau yang berdatangan satu persatu membantuku.
Tapi kali ini semua telah dihandle Mama Tasya. Jadi, tak ada acara masak-masak ataupun membuat kue-kue kecil untuk para tamu yang datang mendoakan arwah Ayah Ibu.
Bobot tubuhku turun drastis. Hingga benar-benar terlihat ringkih dan tulang kerangka punggungku sampai terlihat jelas.
Melihat tubuhku ini, Mas Delan pasti semakin illfeel. Dan pastinya ia lebih tertarik bercinta dengan bini mudanya yang semok bohay, cantik jelita.
Aku kembali terpuruk. Menangis sedu sedan dengan tubuh terlungkup di atas kasur dan bantal Ayah Ibu.
Teganya kau Delan! Kejam! Bahkan sampai detik ini kau masih berupaya menyimpan bangkai borokmu yang sudah ketahuan. Dasar lelaki 'bangs*at'! Bahkan dengan senyum iblisnya kamu semalam menggerayangi tubuh lemah ini meminta jatah nafkah batinmu! Setan! Bajingan! Kenapa tak kau puaskan wanita selingkuhanmu yang kini sedang hamil itu? Aarrgggh...
Hampir saja jam bekker di nakas ranjang Ibu, kubanting ke arah dinding.
Tidak! Aku tidak boleh merusak barang peninggalan kedua orangtuaku karena kecewa dan benci dengan lelaki dajjal itu!
Kuangkat tubuh ini dengan kekuatan penuh. Aku harus bangkit! Tidak boleh begini terus!
Bangun Viona! Bangkitlah! Semangatlah, Vi! Kamu masih muda! Memiliki titel dan pendidikan cukup tinggi. Bisa kau andalkan jikalau Delan memang benar-benar lebih memilih wanita sialan itu!
Aku menelan saliva. Mengusap butiran air mata. Lalu berjalan keluar kamar menuju dapur.
Perutku terasa perih. Beberapa hari ini tiada terisi sebutir nasipun. Hanya tegukan demi tegukan air putih penunjang fikiranku agar tetap normal.
Kini aku akan berusaha bangkit. Membenahi hidupku yang kacau porakporanda karena kejadian pahit beruntun menghampiri.
__ADS_1
No! Ini hanya cobaan kecil. Aku bisa mengatasinya. Aku mampu hidup walau tanpa Herdilan Firlando!
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...