PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 167 IN FRAME "Pria Misterius"


__ADS_3

Viona Yuliana, ibu muda berumur 29 tahun itu kini adalah seorang konselor di sebuah rumah sakit jiwa.


Dia bekerja disambi kuliah juga. Dan tinggal satu bulan lagi, Viona diperkirakan wisuda.


Putranya pun kini telah berumur 4 tahun, sudah sekolah playgroup di sebuah TK RINJANI.


Wajah Dzakki semakin hari semakin tampan. Bahkan kini lebih mirip Roger ketimbang Delan, Sang Ayah kandung.



Membuat bi Tini, Kenken hingga Viona menjadi takjub pada perubahan wajah 'putra mahkota' kesayangan mendiang Jonathan Lordess.


Belakangan ini Dzakki sedang kurang baik moodnya.


Kesibukan Viona membuat sang putra menjadi kecewa dan seringkali kesepian.


Roger juga pulang hanya sebulan sekali. Hanya stay dua hari kemudian pergi lagi. Dzakki kini sering murung dan jadi lebih pendiam. Dan baik Viona ataupun Roger, tak ada yang merasakan kekosongan hati Dzakki Boy Julian.


Hingga suatu hari...


Dzakki yang tengah berada di sekolah, tiba-tiba izin pergi ke kamar kecil.


"Miss...!"


"Iya Dzakki?"


"Saya izin mau ke belakang!"


"Hehehe...! Ke belakang mana?"


"Mau... pup." (bisiknya terlihat imut sekali)


Miss Geraldine, tutor Dzakki mengangguk. Lalu menoleh ke arah Kak Zee, salah satu tutor lainnya. Kelas Dzakki memang terdiri dari empat tutor. Semuanya perempuan. Menangani 20 orang murid playgroup termasuk Dzakki.


Dzakki yang diantar kak Zee, malu-malu menolak dibantu sang guru yang ingin ikut masuk toilet sekolah.


"Kak Zee, Dzakki bisa sendiri!" tolaknya halus.


"Waah, Dzakki hebat. Ya sudah, kak Zee tunggu Dzakki diluar ya?"


"Kak Zee... Dzakki malu, kalau ditunggui di depan pintu kamar mandi. Nanti pup Dzakki ga keluar, karena malu! Kak Zee ke kelas saja, tak perlu tunggu Dzakki!"


"Hahaha...! Baiklah kalau begitu. Kak Zee tunggu Dzakki di kelas ya? Tapi Dzakki bisa membersihkan semua sendiri?"


"Bisa Kak! Dzakki sudah bisa pup sendiri tanpa dibantu."


"Oke, anak pintar! Kak Zee tinggal ya?"


Dzakki mengangguk. Lalu masuk ke ruangan kamar mandi dan menguncinya dari dalam.


Gurunya sebenarnya belum kembali ke kelas. Tapi masih mengintip memperhatikan muridnya. Khawatir Dzakki menangis dan butuh bantuan.


Tapi melihat Dzakki yang masuk toilet dan belum keluar juga dari dalam sana, membuat Zee kembali mendekat dan berteriak memanggil nama Dzakki.

__ADS_1


"Dzakki!"


"Iya? Jangan berdiri didepan pintu. Please... pup Dzakki tak mau keluar!"


Kak Zee hanya bisa tersenyum geli. Muridnya yang satu ini memang sangat pintar dan polos. Kadang membuat Zee tertawa terbatuk-batuk jika Dzakki sudah melontarkan pertanyaan pada para tutor di kelas.


Zee akhirnya memutuskan meninggalkan Dzakki di kamar mandi setelah sadar, ada empat murid lainnya yang juga masih dalam pengawasannya.


..........


Dzakki yang memang sudah terbiasa pup sendiri sejak usia tiga tahun setengah tanpa bantuan Mami dan bi Tini, kini telah selesai urusannya di kamar mandi.


Dengan telaten, ia juga mencuci tangannya dengan sabun cair yang tersedia di wastafel hingga berkali-kali diyakini bersih.


Dzakki menengok kanan kiri suasana lorong kamar mandi yang sepi.


Memang sangat terang. Pencahayaannya juga bagus. Sehingga ia tak merasa takut sama sekali meskipun seorang diri. Dzakki memang anak pemberani juga. Karena didikan disiplin Viona dan pengarahan Roger.


Lorong sekolahnya lengang.


Tetapi ia mendengar suara burung gereja yang turun dari atap dan juga pepohonan sekitar. Memancing rasa keingintahuannya yang dalam.


Matanya menatap tajam tak berkedip hewan yang termasuk jenis unggas vertebrata itu.


Perlahan Dzakki mendekat. Dan ternyata kumpulan burung gereja itu seperti tak terusik oleh kedatangannya.


Dzakki merunduk. Kedua tangannya di rekatkan perlahan. Seperti gaya hendak menergap. Namun para burung gereja itu lebih lincah dibanding dirinya. Beterbangan mengepakkan sayap satu persatu hinggap kembali ke atas pepohonan. Kemudian turun lagi ketempat yang lebih jauh sedikit dari keberadaan Dzakki.


Terus dan terus... Hingga tanpa sadar, bocah berusia empat tahun itu telah meninggalkan lokasi sekolah melewati lorong belakang. Dan keluar dari gerbang pintu belakang yang jarang dilewati orang.


Sekumpulan burung gereja lebih banyak berkumpul di sana, membuat Dzakki tersenyum bahagia.


"Waah... Ternyata rumah kalian di sini, ya?"


Bocah itu perlahan mendekati bibir kolam. Mencoba menangkap salah satu burung yang menarik perhatiannya karena bulunya yang beda warna.


"Aaa..."


Nyaris saja tubuh Dzakki masuk kolam kalau tidak ada seseorang pria yang menarik tangan mungilnya.


"Hati-hati!"


"Aa... terima kasih, Pak!"


"Sedang apa kamu sendirian di sini? Kamu... sama siapa kesini?" tanya pria misterius itu.


Tubuhnya jangkung, agak kurus. Pakaiannya juga kusut tak terurus. Membuat bola mata Dzakki sedikit menyipit, sedikit takut.


Tapi seketika ia tersenyum manis. Merasakan kalau pria dewasa yang dinilainya sepantaran Ayahnya itu bukanlah pria jahat, karena baru saja menolongnya.


"Sendiri."


Pria misterius itu menatap wajah Dzakki dengan seksama. Lalu tangannya meraba-raba tubuh Dzakki, merogoh kantong saku kemeja dan celana katunnya.

__ADS_1


Dzakki berteriak kecil dan mundur perlahan.


"Kamu gak punya uang?"


Dzakki menggeleng pelan. Wajahnya pucat pias ketakutan.


Lalu sang pria misterius itu menghela nafas panjang. Duduk menjatuhkan pant*tnya ke tanah berumput dengan wajah menghadap kolam.


"Aku lapar. Sudah dua hari belum makan!" tutur si pria misterius membuat Dzakki mengerti.


"Tunggu ya, sebentar! Nanti Dzakki kembali lagi!" ujar putra tunggal Viona itu sembari berlari, kembali ke arah sekolahnya.


"Hei, hei tunggu! Mau kemana?"


"Dzakki mau ambil bekal di kelas."


"Jangan! Nanti pihak sekolah akan mengetahui keberadaanku. Dan mereka bisa mengusirku dari sini! Jangan!"


Dzakki diam. Agak bingung mendengar perkataan bapak misterius itu.


"Tadi bapak bilang, bapak lapar!"


"Iya. Tapi aku bisa tahan. Lebih baik lapar daripada aku tidak bisa lagi numpang tinggal di sini!"


"Bapak tinggal di sini? Dimana?"


"Hhh... Bocah bawel! Banyak tanya! Awas ya kalau kamu sampai mengadu pada orang lain termasuk teman-temanmu!"


"Dzakki janji, tak akan mengadu! Bapak tidur di sini?"


"Tuh, lihat! Lihat khan?"


Pria misterius itu menunjuk ke arah kanan dan di balik pohon rindang ternyata ada sebuah bangunan kecil seperti bedeng.


Ternyata ada gubug bekas para tukang bangunan tinggal ketika membangun gedung sekolah Dzakki.


"Bapak... tinggal di situ?"


"Iya."


"Boleh Dzakki lihat?"


"Hei,... kamu tidak masuk kelas? Nanti gurumu mencarimu. Masuklah sana!"


"Tapi nanti Dzakki boleh main ke rumah bapak khan ya?"


"Hhh... Anak yang keras kepala! Ya sudah, ya! Sekolah dulu sana, biar jadi anak pintar!"


"Janji ya? Nanti Dzakki balik lagi!"


"Sekolah dulu!"


"Iya."

__ADS_1


Bocah mungil berumur empat tahun itu akhirnya menurut. Berlari kecil masuk kembali gedung sekolahnya lewat lorong gerbang pintu belakang.


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2