
Hari Perkiraan Lahir (HPL) putra Viona ternyata maju lebih cepat dari perkiraan yang seharusnya.
Usia kandungan perempuan muda itu baru menginjak 37 minggu. Namun tak disangka akan melahirkan secepat itu.
Bahkan proses lahirannya tergolong sangat cepat dan singkat.
Viona melahirkan lima belas menit setelah tiba di klinik bersalin dokter Lena Wulaningsih SpOG.
Ternyata telah pembukaan serviks 10 centimeter. Membuat dokter Lena yang juga sembab wajahnya setelah sama seperti Viona yang shock melihat berita di televisi.
"Oaa... oaaa... oaaa..."
Tini, Kenken juga Roger yang harap-harap cemas menanti kelahiran sang jabang bayi di ruang tunggu akhirnya bisa bernafas lega mendengar suara tangis keras dari balik pintu kamar.
"Sudah lahir! Hik hik hiks..."
Tini menutup mulutnya, terharu. Masih dengan buaran airmata di pipi. Kenken yang sedari tadi duduk telungkupkan wajah dengan kedua telapak tangan, akhirnya menganga. Mendengarkan dengan seksama... suara tangir keras bayi yang baru saja lahir kedunia.
"Tuan Jo!!! Boss... putramu telah lahir, Boss! Putra jagoanmu, Boss! Putra Nona Viona sudah lahir! Hik hik hiks..."
"A ada apa dengan om Jo? Ada masalah apa, Ken?"
Roger ternyata belum mengetahui 'peristiwa berdarah' itu hingga hanya dia seorang yang terlihat bingung keheranan melihat dua bawahan sang Om Tampan menangis tersedu-sedu.
"Permisi...! Siapa yang bersedia mengadzani bayinya Viona?" tanya Lena, yang menyembul kepalanya dari balik pintu.
Ketiga orang yang ada di luar saling berpandangan.
"Ya sudah, saya saja Dok!"
"Dok, Viona bagaimana keadaannya?" tanya Tini membuat dokter Viona menghela nafas pendek. Lalu kembali masuk ke dalam setelah Roger Gibran Suherman masuk terlebih dahulu.
Roger sangat terpesona pada pandang pertama bayi yang baru beberapa menit itu hadir di dunia.
__ADS_1
Matanya bersinar indah. Seolah tak ingin lepas dan tak mau jauh dari jangkauannya.
Hati bergetar ketika adzan pertamanya berkumandang di telinga kanan sang bayi. Lalu iqomatnya terlantun di telinga kiri.
Roger menangis mengakui kebesaran Sang Tuhan. Betapa indahnya makhluk kecil yang belum punya dosa itu. Matanya, bibirnya, keseluruhan wajahnya, bahkan tubuh mungil dengan jari jemari kaki serta tangan lengkapnya terlihat begitu imut dimata Roger. Membuatnya tanpa sadar berkata, "Panggil aku Ayah, boy!"
Viona yang tergeletak lemah tanpa daya. Hanya diam berurai air mata. Sedang botol infus menggantung dan mengalir lewat urat nadi di tangan kirinya.
Fikirannya kosong dan hanya tertuju pada Jo saja. Untuk berontak, marah serta berteriak menanyakan pada Tuhan kenapa nasibnya selalu buruk, Viona tak punya tenaga.
Tini masuk ruang persalinan setelah dokter Lena mengizinkannya menjenguk dan menemani Viona.
Sementara dokter Lena yang juga sahabat rasa adik bagi Jo, ikut serta ambruk menangis di ruangan yang lain... menyesali kepergian sang kakak angkat yang begitu tragis.
Jonathan meninggalkan dunia tanpa pesan, setelah empat peluru yang dilontarkan Bambang Suherman menembus dada, perut serta kepalanya.
"Nona... Nona yang tabah ya? Yang kuat, Nona Vi! Tini akan selalu ada di samping Nona! Selalu untuk selamanya, Non! Sumpah demi Tuhan, juga demi Tuan Besar... Janji Tini akan mengabdi selamanya! Hik hik hiks..."
Viona tetap diam. Matanya merah menatap jauh dengan fikiran menerawang.
Kebahagiaan yang selama ini ada di depan matanya, menaungi langkah hidupnya,... kini menguap entah kemana.
Kenapa Tuhan seolah sedang mempermainkan nasibnya. Membuatnya sangat bahagia, kemudian menenggelamkannya di lautan lepas yang dalam.
Kenapa?
Kenapa???
Viona hanya bertanya dalam hati.
Lidahnya kelu, bibirnya membiru, diam seolah bisu.
__ADS_1
Viona tak hiraukan bayinya yang menangis meminta susu yang keluar dari dua payud*ranya. Ia tak mendengar semua suara itu kecuali diam dan diam.
"Viona! Viona..., si Boy kepingin mimi' ! Kasihan Vio! Vio!... Hiks Viona! Sadarlah... Jangan seperti ini!"
Dokter Lena, Bi Tini mencoba menyadarkan Viona dari lamunan panjangnya.
Kenken dan Roger pulang, mengurus prosesi pemakaman Jonathan Lordess dan Bambang Suherman.
Roger yang baru tiba dari Singapura sempat shock, bahkan ambruk mendengar pertarungan saling ambil nyawa sang Papa dengan Om Jo-nya.
Kedua pria seumuran itu pun akhirnya pergi juga ke rumah sakit, tempat jenazah kedua orang tersayang mereka dikirim dari pulau Bali sore itu juga.
Hari sabtu yang berdarah. Melepaskan nyawa Jonathan Lordess dan Bambang Suherman.
Suasana se-Nusantara pun ramai dengan gosip-gosip di seluruh stasiun televisi.
Ira terkejut setelah pulang kerja pukul sembilan malam di antar sang kekasih langsung menyalakan televisi.
Hampir semua stasiun tv menayangkan 'peristiwa berdarah' antara Jo dan Bams. Membuat Ira tersekat lalu langsung mengambil hape dan menghubungi Viona.
"Hallo! Viona!!! Viona kamu dimana, Vi?"
...[Nona Ira, ini saya Tini! Nona Viona ada di klinik dokter Lena di Mangga Besar! Nona Viona sudah melahirkan, Non! Tolong Nona Viona, belum sadar-sadar kejiwaannya!]...
"Iya, Bi! Aku meluncur ke sana! Kirim alamat lengkapnya ya?!"
...Klik....
Ira termangu sesaat. Dadanya berdentum keras. Bagaikan gemuruh kilat petir yang menyambar. Antara percaya dan tidak, Ira berusaha menyadarkan fikirannya. Kembali bergegas keluar kamar, untuk izin pamit pergi lagi pada kedua orangtuanya.
Pergi menjenguk Viona yang sedang kembali dirundung masalah.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1