PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 134 PERTEMUANKU DENGAN KAK MUTIA PERMATA MELODY


__ADS_3

Aku dan Ira kembali menyambangi rumah almarhum kak Firman Setiawan di hari ketujuh kepergiannya.


Masih tak percaya, seorang kakak tingkat yang begitu akrab denganku telah tujuh hari berpulang ke Illahi Robbi. Semua bagaikan mimpi. Mimpi buruk yang tak berkesudahan.


Lagi-lagi aku dan Ira melihat kak Mutia ada di rumah duka. Kali ini ia sendiri. Tak didampingi sang suami.


Wajahnya sangat cantik jika dilihat dari dekat. Walaupun matanya agak sembab dan merah karena sering menangis. Mungkin kak Mutia benar-benar sangat menyesali perlakuannya dahulu pada kak Firman!


Aku kembali teringat kata-kata kak Firman. Ia bahagia melihat kak Mutia bahagia. Bersuamikan pria kaya, tampan dan baik padanya. Kak Firman juga senang melihat kak Mutia yang tambah cantik.


Hhh... Aku hanya bisa menarik nafas mengingat kenangan indah kebersamaan kami yang suka mengobrol, diskusi serius tapi santai.


"Viona Yuliana?"


Aku dan Ira terkejut. Kak Mutia menghampiriku sambil menegaskan namaku.


Aku mengangguk pelan, mengiyakan panggilannya.


"Kamu sedang hamil berapa bulan?" tanyanya lembut.


"Sudah delapan bulan, Kak!"


Ira yang berdiri di antara kami hanya diam menyimak. Meski matanya menengok kanan dan kiri pura-pura cuek.


"Seperti mimpi ya? Firman sudah tiada..." katanya semakin pelan. Matanya berkaca-kaca, tapi tidak sampai pecah.


"Jodoh, rezeki, maut... tiadalah orang tahu!" Ira ikut menyela. Ia risih juga karena hanya jadi orang ketiga di antara kita.


"Iya..." jawabnya sambil memegang tanganku erat.


"Hhh...! Kak Firman, adalah orang yang baik. Bahkan sampai akhir hayatnya, Tuhan pasti tempatkan beliau di tempat yang indah bersama orang-orang saleh saleha."


"Aamiin!"


"Aku kenal Viona dari cerita-cerita Firman dulu!"


Aku melongo. Melihat wajah Kak Mutia yang memerah menahan tangis meski di bibirnya tersungging senyuman manis.


"Kak Firman sering ceritain aku?" tanyaku ragu. Mutia menunduk seraya memainkan jari jemarinya.


"Dia... suka sekali sama kamu! Sejak pertama ketemu!"


Deg.


Aku? Kak Firman suka sekali sama aku? Dulu?

__ADS_1


Ira menyikutku. Menghela nafasnya masih dengan mata ke kiri dan ke kanan. Melihat orang-orang yang bersliweran di teras rumah kak Firman yang ramai.


"Hehehe... Dia itu pemalu pada dasarnya. Juga orang yang tidak terlalu percaya diri. Makanya dia ikut organisasi HIMA di kampus, supaya bisa bergaul dengan banyak orang!" cerita kak Mutia dengan tertawa lirih. Deretan gigi putihnya yang begitu rapi dengan senyum manis meski segaris itu, mampu menawanku.


Pantas, kak Firman begitu menyayanginya!


"Kak Firman sangat mencintai kakak!"


"Aku tahu. Aku juga!"


Aih??? Kalau cinta, kenapa kamu sampai memutuskan tali pertunangan sepihak dengannya?


"Hhh..." Kudengar helaan nafas Ira. Pertanda ia kesal mendengar perkataan kak Mutia.


"Kami adalah sahabat yang saling mengerti, sebelum lanjut menjadi sepasang kekasih. Lalu Firman berubah menjadi pria yang super segalanya, ketika kami berkomitmen untuk saling berpegangan tangan satu sama lain. Dia pria yang sangat hebat! Tak ada yang seperti dia!"


"Tapi kenapa dia di depak, setelah kamu mengenal Christian?" celetuk Ira, sebal.


Kak Mutia menundukkan kepalanya. Sepertinya ucapan Ira membuatnya tersindir kena mental.


"Kalian pasti sangat dekat. Hubungan pertemanan yang manis!" tuturnya pelan.


"Hubungan persaudaraan, pastinya. Yang tak akan pernah saling meninggalkan satu sama lain meskipun keadaan salah satu di antara kami tidak baik. Apalagi soal finansial!"


Tepat kena sasaran, Ira!


"Lody..."


Kami semua menoleh.


Kak Christian memanggil istrinya dengan menggendong dua bayi chubby yang sangat menggemaskan. Sepertinya usia putra-putri kembarnya itu sudah lima bulanan.


Sangat imut... cantik dan tampan seperti kedua orang tuanya.


Pria itu menatap lembut istrinya.


"Velli dan Verrel pingin mimi cucu!" katanya membuat kak Mutia menghampiri suami serta kedua buah hatinya.


"Viona..., semangat ya? Ira juga. Aku pamit. Dan... kabari aku kalau sang baby sudah lahir!" katanya padaku juga Ira.


Aku hanya menggangguk dan tersenyum tipis.


Semoga saja, Kak! Karena kemungkinan aku akan lahiran di kota Ubud Bali.


Kak Mutia pamit pada kakak dan istrinya kak Firman. Aku serta Ira mengikutinya, juga pamit pulang karena hari telah siang.

__ADS_1


"Mau maksi bareng dulu ga?" tanya Ira padaku.


"Ayo!"


Kami akhirnya memilih resto yang sempat jadi basecamp favorit kami bertiga kak Firman untuk makan siang bareng sebelum pulang ke tujuan masing-masing.


Aku dan Ira tak banyak bicara kali ini. Masih sangat malas berbincang, hanya rendevous mengingat kebersamaan kami yang dahulu.


"Aku jujur masih tanda tanya sama si Mutia itu! Bisa-bisanya dia sok akrab ngajak ngobrol kita, seolah dia adalah putri sejati putri Indonesia! Ish..."


Aku tertawa mendengar celotehan Ira yang ketus tapi lucu.


"Jelas-jelas dia mengkhianati Firman! Seolah cari muka buat membersihkan namanya seperti itu. Malah datang tiap hari kata kak Fariz itu di setiap tahlil bawa buah tangan segala. Sama suaminya malah! Apa... mereka sedang tebar kebaikan karena kasus orangtuanya yang semrawut ya?"


Aku membelalakkan mata. Menepuk pundak Ira agar segera istighfar. Su'udzonnya kejauhan, kataku.


"Maen lo yang kurang jauh, Vi! Ish..."


Aku tersenyum menggeleng pelan.


Memang benar, tindakan yang dilakukan Mutia terlihat aneh. Kesannya... entahlah. Apa cuma sekedar pansos (panjat sosial), atau apalah. Aku takut salah menerka juga.


"Biarlah, Ra! Itu haknya. Juga pilihannya! Mungkin juga untuk dapat menebus semua kesalahannya pada kak Firman dimasa lalu!" kataku pada akhirnya.


"Bisa jadi! Ya udahlah ya... Bomatlah...bodo amat!"


"Hehehe..."


"Eh... Rancangan terbaruku dapat like an dari artis Hollywood! Aaah...senang aku, Vi!"


"Iya, aku liat Insta Story mu! Keren..., hiks! Bisa-bisanya itu Kristen Stewart sampai nge-like rancanganmu. Ada DM ga dari officialnya? Kali aja itu artis mau pesan baju sama kamu buat kondangan!"


"Hahaha... iya juga ya Vi!?! Sayangnya cuma like doang, ish!"


"Like pun...lumayanlah buat perkembangan kariermu di bidang desain!"


"Yoi, bestie...! Hehehe... amin!"


Aku dan Ira... menghabiskan waktu bersama menikmati makan siang kami yang kurang satu personilnya.


Tapi hati kami... selalu tertuju dan terselip doa untuk kak Firman tercinta. Semoga tenang di alam sana. Bahagia di Pangkuan Sang Pencipta.


Aku akan selalu mengenang kebaikannya, sepanjang umurku pastinya.


Firman adalah kawan, sahabat dan kakak laki-laki terbaik bagiku.

__ADS_1


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2