
"Dzakki...! Jadi anak baik ya sayang!? Jangan membuat Oma kesusahan!"
"Iya, Mami!"
"Jangan keluar rumah tanpa izin Oma juga Papi, ya? Jangan..."
"Dzakki anak pintar, Viona! Jangan terlalu cemas!" Roger menenangkan Viona yang terlihat gugup dan nampak cemas.
Viona menarik nafasnya. Hatinya benar-benar tak tenang. Membayangkan putranya jauh dari dirinya untuk waktu yang lama.
"Dzakki call Mami kalau merasa tidak enak badan, ya? Dzakki..."
Tasya mendekat pada Viona.
"Viona! Jangan khawatir,... Dzakki pasti akan Mama rawat dan urus dengan baik. Viona jangan takut! Mama dan Delan sangat menyayangi Dzakki. Percayakan Dzakki pada kami, Mama mohon...! Please..."
"Mama...! Selama ini Dzakki selalu bersama Vio selain di sekolah dan di rumah. Tak pernah sekalipun Vio tinggalkan!"
Roger menurunkan tubuh Dzakki, lalu menuntun putra kesayangannya itu.
Ia berjongkok menatap wajah polos imut itu.
"Ayah percaya pada Dzakki! Kamu adalah anak kebanggaan Ayah. Bisa jaga kepercayaan Ayah?"
"Iya, Ayah!"
Cup.
Sang putra mencium pipinya. Wajah imut itu tersenyum dengan tatapan mata yang tegas namun menenangkan.
Seketika hati Roger ikut tenang.
Ia berdiri, menuntun Dzakki dan memberikan jemari imut putranya pada Herdilan.
"Jaga putraku baik-baik, Herdilan! Karena jika tidak, sampai neraka pun kau akan kukejar untuk dimintai pertanggungjawaban!"
Delan tersenyum lebar. Mengangguk dan menunduk. Ia mengulurkan tangannya pada Roger.
"Terima kasih banyak, Mas Roger!"
Roger membalas. Dan mereka saling berjabat tangan dengan mencoba menenangkan perasaan masing-masing.
"Bye Ayah, Bye Mami! Dzakki menginap di rumah Oma dan Papi dulu! Bye Papa Chris, Mama Lody!"
__ADS_1
"Bye, Sayang! Have fun ya! Calling Mami, right?"
"Yes, Mami!"
Hhh... Viona hanya menatap kepergian sang putra bersama mantan suami dan mertuanya dengan taksi online yang Herdilan pesan. Air matanya berlinang hingga sesekali ia melapnya dengan jari kanan.
"Jangan terlalu dirisaukan, Viona!"
"Dzakki putraku!"
"Dzakki juga putraku khan!"
Viona dan Roger saling bertatapan. Kemudian mereka saling berpegangan tangan. Berjalan menyusuri trotoar pinggir jalan. Menengok kanan kiri lalu bertuntunan untuk menyebrang.
"Makan dulu, yuk?"
"Dimana?"
"Terserah Viona, aku ikut saja. Mau makan apa, Yang?"
"Hm... enaknya apa ya, Yang? Bakso yuk?"
"Mau bakso beranak ga?"
"Ga ah... Hahaha... aku ga pernah bisa habis seporsi kalau bakso beranak!"
"Haish, mas...!"
Roger tertawa melihat senyuman Viona. Tangannya menjawil dagu sang kekasih hati.
"Gitu dong! Senyum lebih manis daripada cemberut! Hehehe..."
"Aku bukan cemberut kesal. Tapi sedih, Dzakki lebih memilih menginap di rumah Mama Tasya!"
"Aku justru sangat bangga pada Dzakki, dan sangat berterima kasih sekali. Dzakki lah yang membukakan jalan pada kita untuk bersama. Dzakki semakin meyakinkanku untuk memperjuangkanmu. Kamu adalah takdir yang Allah kirimkan lewat Dzakki!"
Deg deg deg deg deg deg
Deg deg deg deg deg deg
Jantung Viona berdegub kencang. Tatapan mata Roger semakin menghanyutkan hati Viona. Jatuh kedalam perasaan cinta yang makin jauh.
__ADS_1
"Mas...! Apa kamu tidak menyesal memilih aku? Kamu bujang, aku... janda beranak satu!"
"Kenapa menyesal? Justru sangat bersyukur. Buy one get one!"
"Ya Tuhan...! Ish!"
Viona memukul pangkal lengan Roger yang tertawa kecil.
"Kamu juga tidak menyesal mendapatkan aku khan, Yang?"
"Kenapa?" Viona kini balik tanya.
"Karena aku,... masih sedarah juga dengan Papinya Dzakki. Tidakkah kau khawatir aku akan menyakitimu sama seperti dia?"
"Tidak. Aku yakin dan optimis. Kamu jauh, jauh lebih baik dari Herdilan! Kamu... adalah takdirku, Mas Roger!"
"Sayang ya?!? Kita terlambat bertemu. Andaikan... aku enam tahun lebih dulu bertemu kamu, mungkin Dzakki kini adalah darah dagingku! Hehehe... No no no, hahaha hanya bercanda. Ucapanku hanya ngasal saja! Maaf ya, Viona!"
Viona menatap mata Roger penuh cinta.
"Kamu adalah Ayah Dzakki. Ditubuh Dzakki mengalir darah dan keringatmu. Kamu membelikan Dzakki susu setiap saat, memberinya kehidupan... juga tangisan airmata serta tawa Dzakki adalah milikmu, Mas! Kamu... adalah Ayah Dzakki yang sesungguhnya!"
"Ah, Viona...! Mengapa kamu mengiris bawang di sini!"
Roger menangkap bahu sang kekasih. Meraihnya hingga keduanya menempel erat.
"Ingat pesan Dzakki, cepat-cepat bikin adik pesanannya! Hehehe..." bisik Roger hingga kembali mendapatkan cubitan mesra Viona.
"Nikah dulu, baru antri sama Tuhan minta adik buat Dzakki!"
"Tunggu aku ya, Sayang! Aku akan datang melamarmu satu bulan lagi!"
"Aku akan menunggu kedatanganmu, Mas! Sambil tersenyum mengangguk... mengiyakan ajakanmu nikah dihadapan om Tama, tante Widya dan wali hakim serta pak penghulu yang mensahkan hubungan kita!"
"Jadi pingin cepat-cepat label halal, deh!" ucap Roger membuat pipi Viona bersemu merah muda.
Keduanya tertawa, lupa pada keadaan yang tadi sempat mengharu-biru perasaan.
Baik Viona maupun Roger, tersenyum bahagia menatap masa depan.
Kini keduanya benar-benar yakin untuk melangkah. Ada Dzakki diantara mereka, yang semakin menguatkan juga jadi perekat hubungan.
__ADS_1
Dzakki adalah anugerah terindah untuk Viona serta Roger.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...