PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
SESSION 2 KEPUTUSAN TEPAT


__ADS_3

Roger dan Herdilan juga kedua orangtua Kartika terkejut melihat perubahan sikap Kartika yang tiba-tiba.


Dari tenang, berubah menjadi melow dengan wajah berlinang air mata.


Roger segera menangkap tubuh Dzakki dan memangkunya. Sehingga jemari putranya itu seketika terlepas dari kaki Kartika yang sedari tadi dipegangnya.


Roger dan Dzakki saling bertatapan. Kini keduanya seolah bertelepati.


Dan Roger menggeleng tegas membuat Dzakki menunduk lalu merangkul lehernya sambil berbisik.


"Kasihan ibu Kartika, Yah!"


Roger menepuk-nepuk pundak Dzakki pelan. Ada sandi yang memang ia ingin sampaikan pada sang putra. Intinya, ia tidak ingin Dzakki terlibat semakin jauh untuk ikut campur pada masalah Kartika.


"Kalau boleh saya tahu, Bu Kartika sakit apa, Pak Bu?"


Papa Kartika menghela nafas. Sementara Mamanya membantu sang putri menghapus air matanya.


Berbeda dengan Herdilan, yang sedari tadi hanya diam memandang sesekali ke arah Kartika. Ada rasa lain yang sulit ia jabarkan menjalari hatinya.


Rasa penasaran yang menggelitik. Rasa ingin mengetahui kisah Kartika Sari. Gadis manis cantik yang pernah dijambret sewaktu Herdilan menjadi kenek bis membantu bang Tigor sekitar dua tahun lalu.


Obrolan panjang antara Papa Kartika dan Roger tak membuat fikiran Herdilan menyatu dan terkonek untuk bergabung berbincang.


Herdilan hanya diam dengan wajah tertunduk ke lantai. Tak berniat ikut menyumbang suara meski saran yang ringan saja.


Fikirannya menerawang. Mengembara kemana-mana.


Kartika dua tahun lalu belum berhijab. Masih dengan rambut panjang dengan style shaggy berponi.


Kini Kartika ternyata telah hijrah. Dan semakin manis dengan hijab sederhananya.


Grep.


Herdilan terkejut. Dzakki menggenggam jemarinya kuat. Padahal saat ini Roger menggendong Dzakki dan tak keberatan mengobrol sambil membawa beban tubuh putranya itu.


Senyuman mereka mengembang.


Obrolan panjang terpaksa harus berhenti di tengah jalan.


Petugas nakes mendatangi mereka, memberitahu kalau jam berkunjung telah usai dan mereka diharapkan kerjasamanya untuk segera beranjak meninggalkan ruang inap agar sang pasien kembali beristirahat.


Papa Kartika ikut keluar mengantar Dzakki dan kedua orangtuanya menuju teras rumah sakit setelah Roger juga Herdilan berpamitan.


Dzakki sendiri ternyata tertidur dalam pelukan hangat Roger.


....


Herdilan mengambil kemudi. Karena Roger menggendong tubuh Dzakki yang terlelap dengan pulasnya.


"Kita mampir ke rumah kak Chris dulu!" ujar Roger.

__ADS_1


"Ga pulang dulu, antar Dzakki?"


"Sebaiknya langsung ajalah, Lan! Dzakki harus kita ikut sertakan dalam obrolan serius ini!"


"Maksud, Mas?" tanya Herdilan tak mengerti.


"Hhh... Kak Chris belum menceritakan secara detil ya?"


"Soal apa? Soal Dzakki yang mendapatkan masalah?" tanya Delan menerka saja.


"Ya. Kita perlu cari jalan keluar yang tepat!"


Kini Herdilan hanya diam, tak berkata-kata lagi. Meskipun ia belum faham sama sekali, tapi baginya menunggu lebih baik daripada memperlihatkan kebodohannya yang tak tahu apa-apa.


.......


...Pertemuan tiga saudara itupun kejadian....


Chris yang mendapat telepon dari Roger kalau ia dan Herdilan sedang meluncur ke kediamannya membuat Christian juga pulang ke rumah lebih cepat.


Dua mobil masuk garasi rumah Christian. Membuat hati anak sulung itu menghangat.


Pertemuan ini memang dramatis. Banyak intrik dan peristiwa menarik dibelakang kisah hidup mereka yang aneh tapi nyata.


Setelah ketiganya berbasa-basi sebentar, kini mereka mengambil langkah untuk mengobrol serius diruang kerja Christian di kamar belakangnya.


Bahkan Christian sampai mewanti-wanti sang istri untuk tidak masuk ke dalam ruang kerjanya selagi mereka berdiskusi.


"Ini urusan dunia perbuhulan!"


Roger dan Herdilan terdiam. Mereka mulai serius menanggapi ucapan sang kakak.


"Dzakki..., Dzakki, bangun, Nak! Tidak baik tidur menjelang maghrib!" ucap Christian berusaha membangunkan sang ponakan.


Dzakki perlahan membuka matanya. Kini bocah imut itu dalam posisi duduk tegak, meski jiwanya belum sepenuhnya terkoneksi.


Perlahan matanya mengedar ke sekeliling ruangan. Dzakki mulai tersadar, pada keadaannya saat ini.


"Dzakki...! Boleh cerita sama Papa Chris, apa yang Dzakki rasa?"


"Dzakki mau minum, Papa!"


Christian menyodorkan sebotol air zam zam yang biasa ia konsumsi di dalam ruang kerja pribadinya itu.


Glek glek glek


Semua menunggu Dzakki bicara.


"Bu Guru Kartika harus Dzakki tolong!" katanya dengan suara jernihnya.


"Itu bukan urusan kita, Boy! Berbahaya sekali dan tidak baik kalau kita ikut campur urusan orang, Dzakki!" tukas Roger.

__ADS_1


"Ayah! Bukankah Ayah yang selalu bilang sama Dzakki,... kalau mau menolong orang, jangan pikir terlalu panjang. Jangan minta balasan dan cukup Allah saja yang tahu. Iya khan Ayah!"


Jleb


Seketika jantung Roger seperti diketuk palu.


Senjata makan tuan, ini mah judulnya! gerutu hati kecilnya, kembali galau.


"Tapi ini urusan besar! Dan... bukan main-main taruhannya! Bahkan Mami Viona serta dede bayi dalam perut Mami bisa kena imbasnya!"


Dzakki menatap tajam Roger.


Please, please... semoga anakku ini tidak keras kepala kekeuh surekeuh ingin menolong ibu Gurunya! Doa Roger dalam hati.


"Papi bisa menikahi ibu Guru Kartika nantinya!"


Semua mata memandang Dzakki lekat. Terutama Herdilan Firlando.


"Dzakki mau ibu dari Papi Herdilan?" tanya Christian memastikan.


"Iya. Dzakki mau Ibu Guru Kartika yang jadi Ibu Dzakki!"


Roger menahan tawanya. Menepuk dahinya beberapa kali. Sedangkan Herdilan hanya menatap Dzakki tak berkedip.


"Kalau Dzakki mau seperti itu, akan Papi ikuti keinginan Dzakki!"


"Mantul, Bro! Hahaha... Haish! Tapi nikahmu butuh pengorbanan dulu, woi!!! Perempuan itu sedang dalam kungkungan setan! Itu sebabnya nyawa Dzakki terancam, terutama nyawa Viona serta bayi dalam kandungannya!"


Christian, Roger dan Herdilan kini hanya membisu. Hanya Dzakki yang terlihat lebih santai tak terlalu terbebani.


"Papa Chris kapan jemput kakak Verrel dan kak Velli?" tanyanya tiba-tiba.


"Malam ini, Dzakki!"


"Boleh Dzakki ikut?"


"Tidak. Besok Dzakki sekolah!" sela Roger berusaha menjalankan perannya sebagai Ayah.


"Ayah, please...! Boleh ya Ayah? Kita bawa Mami juga, ya? Kita berdoa bersama di sana!"


Kini Roger diam menatap perkataan sang putra yang ada benarnya.


Viona memang harus ia beritahu secepatnya. Khawatir urusan ini akan membuat suasana rumah tangganya ikut memanas dan runyam.


"Papa Chris akan menelpon Mami Viona! Biar diantar Wa Kenken kemari sekarang juga!"


Christian membuat keputusan, setelah agak lama ia mendengar saja perdebatan Roger dan Dzakki yang terdengar manis itu.


"Baiklah!"


"Yeeeay...! Dzakki mau ketemu Kak Verrel dan kak Velli!"

__ADS_1


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2