PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
SESSION 2 DOA ADALAH KOMUNIKASI YANG TERBAIK


__ADS_3

Bertemu sang pujaan hati disaat bunga cinta bermekaran, adalah hal yang pertama kali Kartika Sari rasakan.


Wajah tampan Herdilan bak lukisan sang mastro hebat. Indah menakjubkan bagi Kartika yang sedang jatuh cinta.



Tanpa ia duga, sang pujaan tengah duduk di atas jok motornya. Menunggunya keluar dari gedung sekolah.


Eh, tunggu-tunggu! Jangan ge'er dulu! Bisa jadi Abang menunggu Dzakki, bukan menungguku!


Kartika berusaha menenangkan hatinya yang geremet.


Herdilan melambaikan tangannya pada Kartika.


Gadis itu tersenyum manis dan membalas lambaiannya. Ia juga menoleh ke belakang, khawatir kalau ternyata lambaiannya bukan ditujukan padanya.


"Abang!"


"Ayo, naik!" kata Herdilan lembut sembari menebar senyum manisnya yang memabukkan Kartika.


"Abang sengaja jemput aku?" tanya Kartika.


"Lha? Memang aku duduk disini dari tadi menunggu siapa?"


Kini Kartika tertawa kecil. Ia merasa semakin tersanjung, terlebih lagi Herdilan memakaikan helmet dan memasangkannya di kepala Tika.


Manisnya!


Beberapa guru dan murid-murid tersenyum melihat keromantisan keduanya. Tentu saja membuat Kartika merona wajahnya.


Ini hari terakhir ia mengajar. Minggu depan mereka akan duduk di pelaminan. Dan Kartika telah mengajukan cuti bekerja selama sepuluh ke depan.


"Pengantin baru, jangan bikin kita pengantin lama iri dong!" kata Irma setengah berbisik kepada Kartika.


"Hehehe...! Jangan lupa hari minggu ya?" Kartika kembali mengingatkan guru dan rekan sejawatnya itu pada hari spesialnya.


"Siap!"


Mereka tertawa lepas.


Senyum Kartika begitu menawan di mata Herdilan. Sampai-sampai ia tak mau berkedip melihat keindahan yang Tuhan ciptakan dengan begitu sempurnanya itu.


"Bang! Bang Herdilan!"


"Oh iya, Nona! Sudah siap?"


"Dari tadi, hehehe...! Oiya, Dzakki!?"


"Dzakki sudah pulang sejak seperempat jam lalu. Sama Mas Kenken!"


"Oh! Ya sudah, yuk kita jalan!"


"Aku mau mengajak Nona ziarah kubur ke makam orang tuaku. Mau khan?" tanya Herdilan.


"Tentu, Bang!"

__ADS_1


Herdilan tersenyum. Ia ingin sekali mengenalkan calon istrinya pada Papa dan Mama. Ingin mengucapkan terima kasih karena telah menjadi orangtua yang selalu mendukungnya selama ini.


Ia benar-benar telah mendapatkan buah manis atas kesabarannya selama ini. Ujian dan cobaan yang datang silih berganti, menempanya menjadi manusia yang kini lebih berarti.


Tali persaudaraan yang mengikatnya semakin kuat mengukuhkan bahwa tidak ada yang dapat memutusnya meskipun apa yang terjadi.


Christian, Roger, Fika...adalah saudara sedarahnya yang akan terus dan tetap menjadi saudara. Karena darah Bambang Suherman mengalir ditubuh mereka.


Mutia, Viona, Verrel, Velli, Diandra serta Dirga bahkan Kenken dan Tini sekalipun... juga telah menjadi saudaranya.


Bahkan Dzakki yang jelas-jelas adalah keturunannya. Herdilan tak ingin meninggalkan apalagi melupakan meski hanya sekejap.


Ia kini diliputi kebahagiaan serta hati yang waswas.


Cemas kalau pernikahannya juga tak sesuai yang diharapkan. Takut kalau pasangan hidupnya juga akan kecewa dengan dirinya dan pergi meninggalkannya setelah beberapa lama kemudian.


Tapi Herdilan yang sekarang, memang bukanlah Herdilan yang dulu.


Viona pun bisa melihat ketulusan hatinya kini.


Sangat berbeda dengan Herdilan di masa lalu.


Kini Herdilan pun memiliki ketegasan yang lebih kuat, serta iman yang makin mantap.


Sebelum fikiran negatif menguasai hawa nafsu dan ketakutannya, ia telah lebih dulu bersujud pada sang Kholiq. Meminta dan memohon petunjuk, agar selalu tetap bersyukur pada apapun yang Tuhan beri.


Ia hanya ingin istri yang mengerti dirinya, dan tenteram bahagia diakhir sisa hidupnya.


Itu saja.


Ia juga mengajak Kartika pergi ke makam Ayah Ibunya Viona. Berdoa dengan khusu' agar mereka mendapat tempat yang layak di Sisi-Nya.


Mereka juga menyambangi makam Firman Setiawan. Herdilan ingin mendoakan almarhum kakak kelasnya yang telah menjadi korban kejahatannya di masa lalu.


Herdilan ingin Kartika mengetahui semua kisahnya. Baik yang buruk sekalipun, agar tidak terjadi kesalahfahaman di masa depan.


Kartika juga mengajak Delan sekalian ke makam kakek neneknya dari Papa. Setelah itu mengunjungi makam Bu Jamilah dan Chintia.


Benar-benar wisata rohani yang sangat lengkap.


Kartika dan Herdilan juga keliling sepuluh masjid. Memberikan amplop berisi uang sebagai sodakoh untuk para orangtua, kerabat, sahabat mereka yang telah tiada.


Entahlah. Kartika jadi seperti selalu mengingat nasehat Dzakki padanya dikala hatinya sedang gelisah.


Dan kini ia ceritakan kembali pada Herdilan. Sehingga keduanya sepakat, akan melakukan ritual sedekah itu untuk tiap bulan nanti.


Sedekah adalah kegiatan amal yang membuat hati Kartika menjadi tenteram. Selain memang juga disunnahkan agama mereka, sedekah justru membuat dirinya makin mendekatkan diri pada Allah. Dan hidupnya selalu dipenuhi rasa syukur. Betapa Tuhan sangat menyayanginya.


............


Kartika terkejut, ketika ia di ajak Herdilan memasuki sebuah kafe. Mereka telah menyelesaikan ibadah sholat Maghrib di masjid tak jauh dari kafe.


Tampak dua pasangan sedang bersenda gurau di salah satu meja kafe yang cukup besar.


"Hei... tuh pengantinnya sudah datang!" seru Ciko membuat yang lain menoleh ke arah Herdilan dan Kartika.

__ADS_1


Ciko dan Mega, Rihana juga bersama Gerald. Mereka saling berjabatan tangan memperkenalkan pasangan masing-masing.


"Maaf, kami baru bisa menemui kalian! Habis nyekar dulu tadi ke makam orangtua dan saudara!" Herdilan memberi alasan yang membuat sahabatnya itu mengangguk dengan senyum mengembang.


"Wah, si Rihana...! Akhirnya mau juga ngenalin pacarnya sama kita-kita! Hehehe..."


"Ish ish ish, itu karena Ri menghargai Abang! Abang khan jomblo, udah tua juga! Masa' Ri harus pamer pacar depan Abang. Nanti Abang garuk-garuk trotoar nangis-nangis Bombay lihat kemesraan aku sama Gerald!"


"Hahaha... Dasar, dasar!"


"Gerald ini pacar Ri dari SMA, Bang! Dia yang paling bertahan lama menerima Ri apa adanya."


"Jadi kalian selama ini LDR-an?"


"Iya, Bang! Hehehe..." Gerald menjawab pertanyaan Herdilan.


"Aku ini ambil cuti kuliah tadinya cuma seminggu. Setelah Mama keluar rumah sakit, cuss lagi ke KL. Tapi demi Abang yang ternyata sangat keren memilih pasangan, Ri bela-belain nih buat jadi bridesmaid. Ri perpanjang cuti seminggu lagi!"


"Halah, kau khan tadi bilangnya ga gitu! Katamu biar bisa berlama-lama jalan sama Gerald!" tukas Ciko membuat Rihana merah wajahnya.


"Dih? Apaan? Kapan Ri bilang gitu? Bang Ciko mah, jangan buka kartu Ri depan Gerald dong! Ish, jatuh harga diri nih!!!"


"Hahaha...!"


"Betewe thanks ya buat Mega, juga Gerald. Kalian sudah mau bantuin pernikahan kami. Aku dan Kartika Sari, sangat senang dan berterima kasih sekali atas kebaikan kalian. Moga Allah membalasnya berkali-kali lipat! Dan untuk Rihana, moga cepat lulus dan wisuda. Moga cepat menyusul kami ke pelaminan!"


"Jiaaahhahaha... Rald, Rald, kode keras nih dari abang-abangku buat kamu jadi pria bertanggung jawab!" ujar Rihana pada sang kekasih.


"Eit, masalah tanggung menanggung, jawab menjawab, aku siap lahir batin lho! Hayo!!! Kalo perlu minggu depan kita ke penghulu, aku mau!" jawab Gerald lantang.


"Woi, woi! Minggu besok nikahan kami dulu! Jangan lupa tuh, baju seragam untuk bridesmaid bukan buat jadi baju pengantenan ya!?! Hehehe..."


"Oiya, sorry bang! Hahaha..." Gerald tertawa lepas.


"Baju pengiring pengantinnya bagus katanya, Bang! Mayan juga, berasa jadi penganten juga tuh bang katanya! Hehehe..." ledek Rihana pada sang pacar.


"Mayan lah, Yang! Mengurangi budget pernikahan kita khan! Hehehe..."


"Ish, ish ish!"


"Eh, kalian itu panggilannya Yang-Yang?" tanya Mega yang akhirnya ikut berbaur santai setelah tadi hanya jadi pendengar dan team hore saja karena selalu tertawa.


"Bukan, Mbak. Dia panggil aku Layangan, aku panggil dia Kenur! Hiks... nyebelin khan!?"


"Hehehe...! Karena Rihana itu seperti layangan, Mbak! Harus selalu ditarik ulur. Dia masih suka dugem, kumpul-kumpul ga jelas meskipun ga terlalu nakal juga sih! Tapi aku sayang Rihana. Dan akan selalu kuikat dia dengan benang kenur terbaikku. Hingga Tuhan benar-benar menakdirkan kami berdua bersama, selamanya."


"Aamiin...!!!"


"Aaaa...sweetnya!" Kini Kartika mulai ikut nimbrung.


Obrolan santai itu semakin mengeratkan hubungan pertemanan mereka. Kartika juga diam-diam merasa lega. Sang calon suami benar-benar mengenalkannya pada para sahabatnya.


Kini hatinya tak lagi waswas dan diliputi kegalauan. Herdilan memang calon suami yang luar biasa, yang Tuhan kirimkan untuk melengkapi hidupnya.


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...

__ADS_1


__ADS_2