
"Fi-Firman?"
"Mas! Apa kabarmu?"
"Kabarku...baik, alhamdulillah!"
Samar Chris melihat senyuman tersungging di bibir pria tampan itu. Wajahnya, nampak bersinar cerah. Bahkan lebih cerah dan semakin tampan. Ditambah lagi kemeja putih serta kain sarung kotak-kotak yang tampak familiar dimata Christian.
"Semangatlah, Mas! Aku yakin kamu bisa bangkit lagi!"
"Terima kasih, Man!... Man..., aku ingin minta maaf atas semua kesalahanku dimasa lalu!"
"Sudah kumaafkan sejak lama. Jangan selalu bersedih bila mengingat masa lalu!"
"Aku juga minta maaf, atas kesalahan saudaraku Herdilan. Yang sudah menghilangkan nyawamu. Maaf..."
"Ini takdirku, Mas! Aku bersyukur, diri ini bisa membuat orang lain menjadi sadar, kalau perbuatan buruk itu tidak baik untuk dirinya sendiri selain pada orang yang dijahati. Herdilan sudah mendapatkan balasan dari perbuatannya sendiri."
"Firman...! Andai kamu masih hidup,"
Wajah tampan itu tersenyum, manis sekali. Kepalanya menggeleng beberapa kali.
"Kembalilah! Aku masih ingin melihat Mutia bahagia. Bersamamu, wajahnya begitu cantik luar biasa! Bahagiakan Mutia!"
"Firman!"
Pria itu berlalu. Tak dihiraukannya panggilan Christian.
Cris gelagapan. Ia merasakan dadanya sesak. Seperti tersedot jiwa raganya dari lorong-lorong labirin yang sesekali putih, lalu berubah berwarna-warni.
Sayup-sayup terdengar suara orang mengaji. Semakin jelas, semakin banyak suaranya.
Chris membuka kelopak matanya.
Ia terkejut mendapati wajah istrinya yang sembab dengan tangan memegangi dada dan wajahnya.
"Lody?"
"Maaas!!! Alhamdulillaaah!! Alhamdulillah ya Allah! Hik hik hiks..."
Christian menoleh ke kiri. Dua wajah menangisinya juga. Verrel dan Velli, banjir airmata.
"Alhamdulillah..."
Semua orang yang ada di ruangan itu berseru bahagia, memuji kebesaran Allah Ta'ala.
"Mas! Syukurlah...kamu kembali!"
"Aku, kenapa?" tanyanya kebingungan.
__ADS_1
Wajah Abah, Nyai, juga Wildan kini terlihat seperti wajah orang yang lega.
"Kamu, pingsan ketika sholat Subuh tadi!" jawab Abah yang usianya sudah hampir 80 tahun itu, tetapi masih terlihat gagah sehat wal'afiat.
Chris termenung.
Wildan memberinya segelas air dengan bantuan sendok.
Ketika Chris hendak bangun, baru ia rasakan tubuhnya terasa nyeri dan kaku.
"Arg!"
"Kamu mati suri hampir satu jam, Chris! Wajar saja jika tubuhmu terasa kaku. Hehehe..."
Abah mengusapkan lepehan dedaunan yang ia papak dengan mulutnya ke kaki Cristian.
Mati suri? Aku... mati suri hampir satu jam? Hati Chris bergumam.
Kini Mutia, Verrel dan Velli semakin merapatkan tubuh mereka kepada Chris.
"Hik hik hiks...! Jangan tinggalkan aku, Mas! Aku belum siap lahir dan batin. Aku juga tidak mau putra-putriku menjadi yatim diusia muda. Sehatkan jiwa ragamu, Mas!"
"Suamimu sudah sadar sekarang, Muti. Berikan ia makan yang lunak-lunak dulu! Juga kasih teh manis hangat, supaya pencernaannya kembali normal!" kata Abah membuat Mutia segera bangkit mengambil semua yang pria tua itu ucapkan.
Beberapa ustad dan santri-santri yang tadi mengaji, satu persatu mendatangi Chris dengan senyum lega. Mereka pamit melanjutkan aktivitas merasa Chris sudah dalam kondisi baik kembali.
Selama satu jam kurang ia menangis, meraung, meratapi keadaan suaminya yang tidak bernafas ketika sujud waktu sholat Subuh.
Chris tidak sadarkan diri. Bahkan denyut nadinya yang melemah, perlahan hilang, seiring tubuh Chris yang mulai membiru dan kaku.
Mutia sangat takut. Bahkan ia seperti tidak bisa melihat wajah orang lain disekelilingnya yang mencoba menenangkannya.
Mutia histeris. Begitu pula dua buah hatinya yang menangis pilu menghentak-hentakkan tubuh Chris yang mulai dingin.
Chris ternyata hampir saja mendekati masa kematiannya.
Entah... (wallahu a'lam bisshowaf)
Yang ia ingat, subuh itu seperti biasa... bangun lebih dahulu dibanding Mutia. Mengambil sarung serta kopeah hitamnya. Dan ia pergi ke kobakan tempat mengambil wudhu di tempat para santri yang cukup jauh dari bilik kamarnya.
Chris memang sengaja tak membangunkan Mutia karena azan Subuh belum berkumandang. Waktu menunjukkan pukul empat kurang. Sehingga ia kasihan melihat wajah letih Mutia yang masih tergambar jelas meskipun sedang terlelap.
Ia sholat tahiyatul masjid dua rakaat. Mencoba tadarusan beberapa belas menit sambil menunggu para santri berdatangan.
Hal biasa saja. Tak ada tanda-tanda kalau ia akan pingsan dan dinyatakan mati suri.
Mutia datang membawa semangkuk bubur dan segelas teh manis panas.
Tangan istri Christian itu masih bergetar gemetaran. Air matanya masih meleleh meskipun kini ia telah bisa menguasai dirinya dari kesedihan.
__ADS_1
Chris mencoba duduk perlahan.
Verrel Velli yang sedari tadi duduk disampingnya sambil menggenggam jemarinya kiri kanan pun kini nampak lebih tenang.
"Jangan berfikir terlalu dalam dan terlalu jauh, Mas! Jangan khawatirkan keadaan yang sudah Allah tentukan untuk kita semua. Jangan! Hik hiks...! Aku, masih sangat membutuhkanmu untuk membesarkan kedua buah hati kita!"
Chris menghapus lelehan air mata di pipi Mutia.
Verrel dan Velli juga memeluk erat tubuh sang Papa. Tangis keduanya kembali pecah. Tapi kini tangis itu adalah tangisan keharuan dan tangis bahagia.
Papa mereka telah kembali.
Tadi mereka sempat berfikir, kalau Papanya telah pergi dipanggil Yang Maha Kuasa. Dan mereka tak bisa lagi bersamanya seumur hidup.
"Hik hik hiks..."
Christian juga terhanyut rasa haru yang mendalam.
"Besok kita kembali ke kota. Kita cari rumah baru, dan juga bangun usaha yang baru. Papa butuh bantuan doa kalian semua, ya?!?"
"Iya, Pa! Hik hik hiks..."
Mereka tidak jatuh miskin. Tidak juga terpuruk dalam kerugian yang teramat fatal.
Chris memang kehilangan perusahaan yang telah ia bangun sedari muda. Ia juga kehilangan perusahaan Papanya yang dilebur kedalam perusahaannya.
Namun asset rumah beserta lain-lainnya tidak serta merta habis semua. Juga aset saudara-saudaranya yang telah dihibahkan untuk membantu keuangannya membayar kerugian finansial tender yang gagal.
Namun Tuhan berkata lain,...
Perusahaan itu harus jatuh ketangan orang lain. Memang harga yang sangat mahal sehingga Chris terpuruk.
Namun yang membuat pria dewasa itu makin terpuruk adalah kisah hidup dan percintaan orangtuanya serta saudara-saudaranya menjadi kisah penomenal dan dicibir, dicaci maki serta dicerca masyarakat umum yang hanya melihat dari luarnya saja.
Kisah hidup yang memang membuat orang langsung mendengus, membenci serta bisa saja menjauhi. Itu yang membuat Chris down.
Namun kini..., ia telah kembali kepada keadaannya yang telah stabil.
Kembali pada dirinya yang sadar, hanya manusia biasa. Yang tak bisa meredam dan menghentikan ocehan orang banyak. Hingga semua orang bungkam.
Chris kini bertekad untuk kembali berjuang. Menjadi suami yang baik dan Ayah yang hebat. Tentunya untuk istri dan anak-anak yang masih membutuhkannya.
Ia tak mau ambil pusing, kini. Ia tak kan lagi pedulikan kehidupan masa lalu orangtuanya serta saudara-saudaranya yang dipandang aneh oleh orang lain.
Cukup dirinya dan Tuhan sajalah yang Tahu kisah sebenarnya.
Manusia tempatnya salah, dan sudah seharusnya ia sebagai manusia yang banyak salah, meminta ampunan dan berusaha berjalan dijalan yang benar.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1