
Seperti dugaanku, Ira kembali dengan fikiran-fikiran nething-nya. Menggiringku pada opini yang cukup mengagetkan.
"Kamu setuju ga, Vi... kalau aku mengajak kak Firman makan siang bersama kita hari ini?"
Aku termangu melihat Ira yang sangat menggebu-gebu agar aku mendengar langsung ucapan kak Firman dan melihat semua bukti yang ia miliki soal adanya hubungan terselubung antara suamiku dengan Lady Navisha.
"Ira! Apakah pantas seorang istri mencurigai suaminya dengan hal yang buruk? Apakah itu justru tidak mengganggu kestabilitasan rumah tanggaku kedepannya? Apa juga tidak akan membawa dampak buruk bagi kami soal kepercayaan dan kesetiaan suami dan istri?"
"Kamu butuh bukti bukan, untuk mempercayai suamimu itu? Perlu? Atau kamu nrimo saja sampai suatu saat nanti kamu menyesal karena tidak mengetahui kebenaran dan terkesan membiarkan suamimu melangkah lebih jauh lagi penyimpangannya?"
"Hhh..."
Aku hanya menghela nafas. Bingung sekaligus cemas.
Selain aku takut mencari kebenaran itu, justru dibalik hati kecilku ada ketakutan yang maha benar jika semua ucapan Ira benar adanya.
Aku memang telah beberapa kali merasakan firasat itu. Juga melihat gelagat Lady yang sangat berani menyambangi rumahku dengan alasan ada keperluan penting dengan Mama Tasya.
Segitu ketika keluarga kami berkumpul semua. Apalagi ketika tak ada siapa-siapa dan hanya dia berdua suamiku tercinta.
Dan aku juga tak senaif itu memandang mas Delan yang mencintaimu begitu tulusnya. Suamiku juga laki-laki tulen. Yang memiliki indera perasa dan juga menyukai keindahan ragawi perempuan-perempuan s*ksi layaknya lelaki normal pada umumnya.
Aku takut, Lady mampu membangkitkan gairah *****alit*s suamiku ketika hanya berdua. Dan Lady nekat melakukan hal tak senonoh seperti pada foto yang Ira sodorkan padaku tempo hari.
Membayangkan tubuh sintal Lady menempel erat dipunggung suamiku saja sudah mampu membangkitkan amarah kecemburuanku. Apalagi... mengkhayalkan Lady... menciumi mesra leher, wajah serta... ah sh*it!
Kuusapkan wajahku dengan sebelah telapak tangan.
"Aku sudah buat janji dengan kak Firman, Vi!"
Kulirik wajah Ira yang ternyata sudah dia putuskan.
Ya sudahlah... Terserah kamu ajalah, Ra! Aku ikut aja. Yang penting bukan aku yang menghubungi sendiri kak Firman. Karena aku takut dipandang kurang baik sebagai wanita bersuami yang gampang membuat janji dengan pria lain tanpa seizin suami.
Butik hari ini terlihat ramai luar biasa. Terlebih setelah Mama Tasya mengambil salah satu gaun anyar desain dari Ira Lupita dan membuatkan video serta foto iklan dengan Lady Navisha sebagai modelnya.
Gaun yang kami buat terbatas itu stoknya, laris manis bak kacang goreng bahkan banyak permintaan untuk menambah kuantitas.
Kami hanya bisa menjanjikan model terbaru di butik minggu depan, karena motto butikku adalah barang bagus dan model bajunya tidak pasaran. Jadi kami terbiasa mengeluarkan model-model terbaru paling banyak seratus piece saja.
"Ah senangnya, rancanganku kali ini laris manis lagi. Mama Mertuamu adalah orang yang benar-benar keren dalam hal pemasaran. Meski aku sebenarnya muak baju desainku di pakai si perempuan bispak itu!"
"Apa itu bispak?"
"Ya ampun, Vi! Itu pun lu ga tau! Keep silent lah!"
Aku tersenyum kecut melihat Ira tak mau menjelaskan detail ucapan ngasalnya. Ira tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Eh... Udah jam sebelas lewat nih! Yok kita ke resto yang sudah aku pesan!"
"Sekarang?"
"Tar tahun depan! Ya sekarang, Viona!"
"Hehehe... woles Neng! Jangan ambekan ish!" godaku membuat Ira geleng-geleng.
"Heran ya...?! Padahal ini permasalahan lo, Vi. Harusnya tuh elo yang lebih ga sabaran ketimbang gue. Tapi... kenapa justru elo nya yang nyantai abis dan gue yang kayak orang kebakaran jenggot!"
"Karena aku ga boleh serampangan, Ra! Aku harus bisa melihat sisi kanan, sisi kiri juga atas bawah dampak dari keserampanganku."
"Hm... Oke! Menantu orang kaya mah bebas! Suka-suka apa kata elo deh Vi! Hehehe..."
"Ish! Justru gue dituntut harus bisa jaga sikap. Ga boleh sembarang ambil keputusan. Makanya gue harus alon menyikapi hal gini, Ra!"
"Ya udah hayu,... banyak bacot lo ah! Gue udah kepengen ketemu kak Firman nih! Hihihi..."
"Dasar kamu, Ra! Hihihi... ayo deh!"
Dengan taksi online kami berangkat ke resto yang dituju.
Tak lama kemudian seorang lelaki tampan datang menghampiri meja kami. Yap. Kak Firman, si paket lengkap pujaan hatiku semasa kuliah.
"Engga' koq Kak! Baru sekitar sepuluh menitan aku dan Viona datang!"
Ira selalu yang nomor satu dalam urusan jawab menjawab.
Kami saling bersalaman. Dan kini duduk berhadap-hadapan. Tanpa sengaja mataku dan matanya beradu tatap.
Hiks... Aduh Tuhan! Sadarkanlah aku dari zina mata ini. Gumam hatiku langsung menunduk malu.
"Kak! Boleh aku dengar cerita Kakak soal si Herdilan itu?"
Aku mendongakkan wajahku padanya lagi. Kini matanya menatap ke mata Ira.
"Ira... Ini bukan masalah sembarangan. Ini urusan rumah tangga seseorang. Aku jujur di sini posisiku sangat serba salah dan tidak dalam posisi nyaman. Salah-salah justru aku berpotensi menghancurkan rumah tangga Dilan dan Viona!"
Deg.
Jantungku seakan berhenti berdetak.
Kata-kata kak Firman sangat pas. Dan itu adalah kata-kata bijak dari seorang ksatria, bukan kata-kata seorang pecundang.
"Tapi kak, setidaknya Viona bisa segera meng-cut hubungan mereka jika benar adanya. Dan Dilan bisa tersadar secepatnya kalau cintanya Lady itu hanya materi belaka."
__ADS_1
Aku terdiam. Mereka berdua sibuk kasak-kusuk sementara aku hanya termenung, mencoba menekan perasaanku yang sebenarnya sangat penasaran juga pada hubungan apa yang sedang terjadi antara mas Delan dan Lady Navisha.
"Mas Delan memang atasannya JeLa alias Lady, Kak! Kemungkinan mereka dekat dan akrab satu sama lain adalah hal yang pasti menurutku. Tapi... Memang Lady terlihat sekali tengah mendekati suamiku!"
Cetak. Ira menjentikkan jari jempol dan telunjuknya.
"Itu maksudku, Kak!"
"Mau lihat hasil jepretanku, Vi?" tanya kak Firman membuatku berdebar-debar.
Ia mengeluarkan kamera dari tas ranselnya.
Memperlihatkan foto-foto mesra keduanya, seperti sedang ada di taman hiburan.
Deg.
Jantungku sakit rasanya. Sesak dada ini melihat foto mesra mereka yang bagaikan sepasang kekasih yang saling mencintai.
"Kak Firman melihat mereka di mana?" tanyaku menyelidik.
"Aku tak sengaja melihat mereka di Disneyland Lido, Vi! Maaf, kalau aku akhirnya membuntuti keduanya saat itu karena rasa penasaranku yang tinggi!"
"Waktu itu Kakak sudah tahu kalau Mas Delan adalah suamiku?"
"I-iya!"
Hhh... Akhirnya,... kak Firman berkata jujur.
"Kak Firman dalam rangka apa ada di Disney sana?" tanyaku lagi.
"Vi, Vi... koq elo malah nyelidikin kak Firman sih? Harusnya si Delan yang lo cecar banyak pertanyaan!" bisik Ira mengusik penyelidikanku.
"Pasti itu, Ra! Tapi aku juga harus jelas maksud dan tujuan kak Firman menstalker suamiku. Bisa jadi kak Firman ini jurnalis yang disuruh lawan perusahaan yang Mama Tasua miliki dan suamiku tengah jalankan saat ini."
Wajah kak Firman pias seketika mendengar penuturanku.
Keyakinanku, memang ada udang di balik batu. Kak Firman pasti ada tujuan lain juga yakni menghancurkan nama baik suamiku.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1